Sinergi Pemerintah dan Pelaku Usaha Jadi Kunci Daya Saing Investasi Hulu Migas

HULU MIGAS — Ilustrasi aktivitas produksi minyak dan gas bumi di fasilitas lepas pantai. Penguatan sinergi pemerintah, pelaku industri, investor, dan pemangku kepentingan dinilai penting untuk meningkatkan daya saing investasi, mempercepat eksplorasi dan pengembangan proyek, serta mendorong peningkatan produksi migas nasional. (Foto: Antara/Hafidz Mubarak A)
banner 120x600

Kepastian regulasi, perizinan, pasar hingga percepatan proyek dinilai menentukan kemampuan Indonesia menarik modal global.

Papuabaratnews.id, Jakarta — Penguatan sinergi antara pemerintah, pelaku industri, investor, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi salah satu kunci meningkatkan daya saing investasi sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) nasional.

banner 325x300

Sinergi tersebut diperlukan untuk mempercepat eksplorasi dan pengembangan proyek, mendorong peningkatan produksi, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Pengamat migas Universitas Trisakti sekaligus Founder ReforMiner Institute, Pri Agung Rakhmanto, mengatakan Indonesia masih memiliki potensi sumber daya migas yang besar.

Namun, daya tarik investasi tidak hanya ditentukan potensi bawah permukaan (underground risk), tetapi juga faktor above ground risk, seperti kepastian politik, arah kebijakan ekonomi, regulasi, birokrasi perizinan, kepastian pasar, serta ketersediaan infrastruktur pendukung.

“Dari sisi underground risk, kita termasuk tiga atau empat besar di Asia Pasifik. Sementara dari sisi above ground risk, faktor yang diperhatikan antara lain kepastian politik, visi dan arah ekonomi, regulasi dan kebijakan, birokrasi perizinan, kejelasan market, serta infrastruktur pendukung,” kata Pri Agung dalam keterangannya, Rabu (16/9/2026).

Potensi tersebut, kata dia, perlu didukung ekosistem investasi yang semakin kompetitif agar mampu menarik modal, terutama untuk kegiatan eksplorasi dan pengembangan lapangan. Sejumlah perusahaan migas internasional masih melihat Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi potensial, termasuk Eni, Petronas, dan Mubadala.

Kecepatan eksekusi proyek juga menjadi sinyal penting bagi investor. Semakin panjang rentang waktu sejak penemuan (discovery) hingga proyek mulai berproduksi (onstream), semakin besar pengaruhnya terhadap persepsi investor dan keekonomian proyek.

“Semakin lama discovery ke onstream tentu memberikan sinyal yang tidak positif dan menurunkan nilai keekonomian proyek investor,” ujar Pri Agung.

Dari sisi fiskal, Pri Agung menilai pemerintah telah melakukan sejumlah perbaikan positif. Namun, persaingan memperoleh modal global tetap ketat karena proyek migas di Indonesia harus bersaing dengan portofolio investasi di berbagai negara.

Menurut dia, keberhasilan kebijakan investasi tidak cukup hanya diukur dari kenaikan nilai investasi, tetapi juga harus tercermin melalui indikator yang lebih konkret, terutama peningkatan cadangan dan produksi.

Kepercayaan investor terhadap sektor hulu migas antara lain tercermin dari keputusan investasi dan eksekusi proyek di lapangan. Proyek strategis seperti Abadi Masela dan North Hub/Geng North–Gehem, aktivitas eksplorasi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), serta peluang pengembangan wilayah kerja migas baru menjadi momentum yang perlu terus dikawal hingga setiap tahapan proyek terealisasi.

Persaingan Modal Global

Presiden Regional Asia Pasifik bp, Kathy Wu, dalam sebuah konferensi migas sebelumnya mengatakan persaingan mendapatkan alokasi modal di tingkat global sangat ketat. Kemitraan strategis dengan pemerintah karena itu menjadi salah satu faktor penting membangun kepercayaan investor.

“Proyek di Indonesia harus benar-benar kompetitif, baik dari sisi tingkat pengembalian investasi, risiko, kepastian pelaksanaan, hingga kepastian bahwa hasil yang dihitung di atas kertas benar-benar dapat terealisasi,” kata Kathy.

Presiden ExxonMobil Indonesia, Wade Floyd, juga menekankan pentingnya kemitraan. Ia mencontohkan perjalanan ExxonMobil di Indonesia yang telah berlangsung selama 128 tahun, termasuk melalui Lapangan Banyu Urip di Blok Cepu yang menjadi salah satu penopang utama produksi minyak nasional.

“Sejarah panjang kami dibangun atas dasar kemitraan dan kolaborasi. Menurut saya, itulah salah satu alasan keberhasilan Indonesia saat ini,” kata Wade.

Semangat memperkuat kolaborasi tersebut menjadi salah satu fokus Forum Ekonomi Hulu Migas (FOREK) 2026. Forum itu mendorong penguatan sinergi pemerintah, industri, investor, dan seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan daya saing investasi, mempercepat eksplorasi dan pengembangan proyek, serta mendukung peningkatan produksi dan ketahanan energi nasional.

Daya saing investasi tidak hanya ditentukan satu faktor. Kebijakan fiskal, skema kontrak, proses bisnis, teknologi, infrastruktur, kepastian pasar, serta kecepatan pengambilan keputusan menjadi bagian dari ekosistem investasi yang perlu diperkuat bersama.

Insentif juga menjadi instrumen untuk meningkatkan keekonomian proyek. Keberhasilannya perlu tercermin melalui tambahan investasi, peningkatan cadangan dan produksi, kenaikan lifting, penerimaan negara, serta manfaat ekonomi yang lebih luas.

FOREK Hulu Migas 2026 diharapkan menjadi ruang kolaborasi untuk menyelaraskan perspektif mengenai tantangan dan peluang investasi, mengidentifikasi ruang penguatan kebijakan dan ekosistem investasi, serta merumuskan rekomendasi konkret untuk memperkuat daya saing sektor hulu migas Indonesia.(pbn)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *