banner 468x60

Berita  

Dorong Pengelolaan Sampah dari Rumah, TEP Unair Latih Kader Tangguh Bencana di Prafi

PELATIHAN PENGELOLAAN SAMPAH – Para Kader Tangguh Bencana bersama Tim Ekspedisi Patriot Kelompok 6 Universitas Airlangga (Unair) memperlihatkan bahan dan hasil praktik awal pembuatan eco-enzyme seusai mengikuti pelatihan pemilahan sampah dan pemanfaatan limbah organik di SP 4 Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Kamis (8/10/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga sekaligus mendukung pengembangan ekowisata berkelanjutan. (Foto: Dok. TEP 6 Unair)
banner 120x600

Sepuluh kader mendapat pelatihan pemilahan sampah dan pembuatan eco-enzyme. Sebanyak 90 persen peserta tertarik mengembangkan hasil pelatihan menjadi peluang usaha.

Papuabaratnews.id, Manokwari – Persoalan sampah rumah tangga tidak hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan, tetapi juga menyangkut kesadaran dan kebiasaan masyarakat dalam mengelola limbah sejak dari sumbernya. Di kawasan transmigrasi Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, upaya membangun kesadaran tersebut mulai diperkuat melalui pelatihan pemilahan sampah dan pemanfaatan limbah organik.

banner 325x300

Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Kelompok 6 Universitas Airlangga (Unair) menggelar Pelatihan Pilah Pilih Sampah dan Pembuatan Eco-Enzyme bagi Kader Tangguh Bencana di Jalur 6, Satuan Permukiman (SP) 4 Prafi, Kamis (8/10/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Posko TEP 6 Unair, rumah Sumantri, tersebut diikuti 10 kader tangguh bencana sebagai bagian dari program Pengembangan Ekowisata di Wilayah Prafi Manokwari melalui Penguatan Sistem Mitigasi Bencana dan Perlindungan Infrastruktur.

Melalui kegiatan ini, para kader dibekali pengetahuan dasar mengenai pengelolaan sampah, mulai dari mengenali jenis dan dampaknya terhadap lingkungan hingga memanfaatkan limbah organik rumah tangga menjadi bahan pembuatan eco-enzyme.

Pelatihan tersebut sekaligus menjadi langkah awal memperkuat keterlibatan masyarakat dalam menjaga kualitas lingkungan permukiman, terutama di kawasan yang tengah diarahkan untuk mendukung pengembangan ekowisata berkelanjutan.

Ubah Kebiasaan dari Rumah

Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan pada prinsip pengelolaan sampah 3R, yakni Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), dan Recycle (mendaur ulang).

Prinsip ini menekankan pentingnya mengurangi timbulan sampah sekaligus memilah material yang masih dapat dimanfaatkan agar tidak seluruhnya berakhir sebagai limbah yang dibuang.

Pemateri kegiatan, Rahelia Demak, S.KM., menegaskan bahwa penyelesaian persoalan sampah harus dimulai dari perubahan perilaku masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

“Persoalan sampah harus diselesaikan dari sumbernya: dari rumah, dari dapur, dan dari kebiasaan kita sendiri. Perubahan besar dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten,” ujar Rahelia.

Menurut pendekatan yang diperkenalkan dalam pelatihan, pemilahan sampah sejak dari rumah menjadi tahapan penting agar material organik dan anorganik dapat ditangani sesuai karakteristiknya.

Selain menerima materi, peserta juga mengikuti demonstrasi dan praktik awal pembuatan eco-enzyme dengan memanfaatkan bahan organik, molase, dan gula merah.

Para peserta dibagi menjadi tiga kelompok untuk melakukan persiapan dan pencampuran bahan. Praktik ini dimaksudkan untuk memperkenalkan alternatif pemanfaatan sisa bahan organik rumah tangga yang selama ini berpotensi menjadi sampah.

Namun, proses pembuatan eco-enzyme tersebut masih berada pada tahap awal. Campuran bahan memerlukan proses fermentasi lebih lanjut sehingga kualitas dan keberhasilan produk akhirnya belum dapat dipastikan.

Karena itu, pendampingan dan pemantauan menjadi bagian penting untuk memastikan pengetahuan yang diperoleh peserta dapat diterapkan secara berkelanjutan.

Sembilan Peserta Tertarik Kembangkan Usaha

Pelatihan tersebut juga memperlihatkan adanya ketertarikan peserta untuk mengembangkan keterampilan pengelolaan sampah menjadi kegiatan produktif.

Berdasarkan evaluasi setelah kegiatan, tujuh dari 10 peserta atau 70 persen mengaku belum pernah mengikuti pelatihan pengelolaan sampah serupa.

Sementara itu, sembilan peserta atau 90 persen menyatakan tertarik atau sangat tertarik mengembangkan produk hasil pelatihan sebagai peluang usaha.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa edukasi pengelolaan sampah tidak hanya berpotensi mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga membuka ruang bagi pengembangan kegiatan ekonomi berbasis pemanfaatan limbah rumah tangga.

Meski demikian, ketertarikan tersebut masih merupakan respons awal peserta. Pengembangan produk menjadi usaha produktif tetap membutuhkan proses lanjutan, termasuk memastikan kualitas produk, keterampilan produksi, serta peluang pemanfaatan dan pemasarannya.

Hasil evaluasi juga menunjukkan tanggapan positif terhadap penyelenggaraan pelatihan. Rata-rata penilaian peserta pada lima aspek, meliputi materi, penyampaian, pelaksanaan, manfaat, dan relevansi terhadap keberlanjutan lingkungan, berada pada rentang 3,13 hingga 3,30 dari skala 4.

Penilaian itu menggambarkan respons peserta setelah kegiatan, bukan hasil pengukuran peningkatan pengetahuan melalui perbandingan sebelum dan sesudah pelatihan.

Salah seorang peserta, Winarsih, mengaku memperoleh pengetahuan baru yang diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Pelatihan ini memberikan pengetahuan baru bagi kami tentang pemilahan sampah dan pembuatan eco-enzyme. Harapannya, ilmu yang kami dapatkan bisa diterapkan di rumah dan dibagikan kepada masyarakat,” ujarnya.

Masih Perlu Penguatan Sistem Pengelolaan Sampah

Di balik antusiasme peserta, pelatihan tersebut juga mengidentifikasi sejumlah tantangan dalam penerapan pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga.

Beberapa peserta mengaku masih mengalami kesulitan dalam memilah jenis sampah tertentu, seperti kaca, limbah medis, sampah basah, dan material yang telah membusuk.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa peningkatan pengetahuan masyarakat perlu disertai edukasi lanjutan mengenai karakteristik sampah dan cara penanganannya.

Terlebih, limbah medis dan jenis sampah tertentu memerlukan penanganan khusus sehingga tidak dapat diperlakukan sama dengan sampah rumah tangga biasa.

Tantangan lainnya adalah ketersediaan sistem pengumpulan dan penyaluran sampah setelah dipilah. Tanpa dukungan pengelolaan lanjutan, upaya pemilahan di tingkat rumah tangga berisiko tidak memberikan hasil yang optimal.

Karena itu, penguatan kesadaran masyarakat perlu berjalan seiring dengan penyediaan mekanisme pengumpulan dan penanganan sampah yang memadai.

Dukung Ekowisata Berkelanjutan

Bagi Tim Ekspedisi Patriot Unair, pelatihan ini merupakan bagian dari upaya menghubungkan penguatan kapasitas masyarakat dengan agenda pengembangan ekowisata di kawasan transmigrasi Prafi.

Lingkungan permukiman yang bersih dan terkelola menjadi salah satu unsur pendukung pengembangan kawasan yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan.

Melalui pelatihan tersebut, para kader diharapkan tidak hanya menerapkan pengetahuan yang diperoleh di lingkungan keluarga masing-masing, tetapi juga menjadi penggerak edukasi pengelolaan sampah di tengah masyarakat.

Kegiatan ini juga sejalan dengan sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan ke-12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, tujuan ke-11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan, serta tujuan ke-15 mengenai perlindungan ekosistem daratan.

Sebagai tindak lanjut, TEP 6 Unair mendorong pemantauan proses fermentasi eco-enzyme, penerapan kebiasaan memilah sampah di rumah, dan penyebarluasan pengetahuan oleh para kader kepada masyarakat.

Selain itu, diperlukan identifikasi jalur pengumpulan dan penyaluran sampah anorganik agar material yang telah dipilah dapat dikelola dengan tepat.

Upaya tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi pengembangan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang tidak hanya berorientasi pada kebersihan lingkungan, tetapi juga mendukung penguatan ketahanan masyarakat dan pengembangan ekowisata berkelanjutan di kawasan Prafi. (pbn)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *