Seminar pendidikan di Fakfak mengungkap tantangan pemerataan tenaga pendidik dan akses belajar. Sembilan buku berbasis kearifan lokal diperkenalkan untuk mendekatkan pembelajaran dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat.
Papuabaratnews.id, Fakfak – Keterbatasan tenaga pendidik dan tantangan akses pendidikan masih menjadi persoalan yang dihadapi sekolah-sekolah di kawasan transmigrasi Bomberay–Tomage, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Selain kebutuhan guru pada mata pelajaran tertentu, kondisi geografis wilayah turut memengaruhi penyelenggaraan layanan pendidikan bagi anak-anak di kawasan tersebut.
Persoalan itu mengemuka dalam Seminar Pendidikan yang diselenggarakan Tim 17 Ekspedisi Patriot Universitas Padjadjaran (Unpad) di Bomberay, Kabupaten Fakfak, Selasa (27/10/2026).
Seminar tersebut sekaligus menjadi momentum peluncuran sembilan judul buku bahan bacaan dan bahan ajar muatan lokal berbasis kearifan lokal, yang dikembangkan untuk mendukung penguatan literasi serta pembelajaran di sekolah-sekolah kawasan Bomberay–Tomage.
Kegiatan ini mempertemukan unsur pemerintah daerah, praktisi pendidikan, budayawan, dan kalangan akademisi untuk mendiskusikan berbagai persoalan pendidikan, sekaligus menjajaki peluang kerja sama dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.
Narasumber yang hadir berasal dari Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja Kabupaten Fakfak, Dinas Pendidikan Kabupaten Fakfak, kalangan budayawan, serta kepala sekolah.
Kekurangan Guru dan Tantangan Geografis
Salah satu persoalan yang mendapat perhatian dalam seminar tersebut adalah keterbatasan tenaga pendidik dengan kompetensi sesuai kebutuhan mata pelajaran di sekolah.
Kebutuhan guru untuk bidang studi tertentu, termasuk bahasa Inggris, menjadi bagian dari pembahasan. Kondisi ini menunjukkan pentingnya pemenuhan tenaga pendidik yang tidak hanya mencukupi secara jumlah, tetapi juga sesuai dengan bidang keahlian yang dibutuhkan sekolah.
Selain persoalan tenaga pendidik, karakteristik geografis kawasan Bomberay–Tomage turut menjadi perhatian. Kondisi wilayah dinilai berpengaruh terhadap akses pendidikan dan penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.
Situasi tersebut menuntut pendekatan pembangunan pendidikan yang mempertimbangkan kondisi riil sekolah, lingkungan tempat tinggal peserta didik, serta karakteristik sosial masyarakat setempat.
Dalam diskusi, peserta juga menyoroti pentingnya memperkuat kerja sama antara pemerintah daerah, satuan pendidikan, masyarakat, dan perguruan tinggi.
Kolaborasi lintas sektor dipandang diperlukan agar upaya peningkatan mutu pendidikan tidak berhenti pada pemenuhan sarana dan tenaga pendidik, tetapi juga menyentuh pengembangan materi dan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Dari Tradisi ke Kelas
Di tengah pembahasan mengenai berbagai tantangan pendidikan tersebut, Tim 17 Ekspedisi Patriot Unpad memperkenalkan sembilan judul buku bahan bacaan dan bahan ajar muatan lokal berbasis kearifan lokal.
Peluncuran buku yang mengusung semangat Dari Tradisi ke Kelas itu menjadi salah satu bagian penting dari rangkaian kegiatan seminar pendidikan.
Kesembilan buku tersebut disiapkan sebagai sumber bacaan dan bahan pendukung pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan di sekolah dengan kehidupan sosial, budaya, lingkungan, serta potensi daerah.
Melalui pendekatan ini, pengalaman keseharian masyarakat dan kekayaan pengetahuan lokal diharapkan dapat menjadi bagian dari proses pendidikan formal.
Muatan lokal tidak semata-mata dipahami sebagai pengenalan tradisi dan kebudayaan daerah, tetapi juga sebagai sarana membantu peserta didik mengenali lingkungan tempat mereka tumbuh dan berkembang.
Dengan demikian, pembelajaran diharapkan menjadi lebih dekat dengan pengalaman hidup anak-anak, sekaligus memberi ruang bagi pengenalan dan pewarisan pengetahuan lokal kepada generasi muda.
Bahan bacaan dan bahan ajar tersebut juga diharapkan dapat memperkaya koleksi perpustakaan sekolah, mendukung kegiatan literasi, serta menjadi referensi tambahan bagi guru dalam mengembangkan pembelajaran di kelas.
Kehadiran buku-buku berbasis kearifan lokal ini sekaligus memperlihatkan peluang untuk mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengetahuan yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Perlu Tindak Lanjut Bersama
Tim 17 Ekspedisi Patriot Unpad yang dipimpin Dr. Yudi Permadi, M.Pd., menempatkan kegiatan seminar dan peluncuran buku sebagai bagian dari upaya mendukung pengembangan pendidikan di kawasan Bomberay–Tomage.
Meski demikian, pemanfaatan sembilan buku tersebut dalam kegiatan pembelajaran masih memerlukan tindak lanjut bersama pihak sekolah dan pemangku kepentingan terkait.
Dukungan guru dan pengelola sekolah menjadi bagian penting agar bahan bacaan dan bahan ajar yang telah diperkenalkan benar-benar dapat dimanfaatkan dalam kegiatan literasi maupun proses belajar mengajar.
Di sisi lain, persoalan kekurangan tenaga pendidik dan hambatan akses pendidikan yang teridentifikasi dalam seminar juga memerlukan perhatian serta langkah lanjutan dari pihak-pihak terkait.
Karena itu, hasil pembahasan seminar diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam merumuskan upaya penguatan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik kawasan Bomberay–Tomage.
Kegiatan Tim Ekspedisi Patriot Unpad ini memperlihatkan bahwa pengembangan pendidikan di wilayah transmigrasi tidak hanya berkaitan dengan pemerataan akses dan ketersediaan guru, tetapi juga dengan upaya menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan lingkungan sosial dan budaya peserta didik.
Melalui penguatan literasi berbasis kearifan lokal, sekolah diharapkan tidak hanya menjadi tempat memperoleh pengetahuan umum, tetapi juga ruang bagi generasi muda untuk mengenali, memahami, dan menghargai kekayaan budaya serta potensi daerahnya sendiri. (pbn)







