Kenaikan NTP subsektor perikanan dan nelayan menjadi penopang utama di tengah tekanan biaya hidup dan turunnya kinerja subsektor lain pada Maret 2026.
Papuabaratnews.id, Manokwari –- Subsektor perikanan menjadi penopang utama ekonomi petani di Papua Barat pada Maret 2026, di tengah tekanan biaya hidup dan melemahnya kinerja sejumlah subsektor pertanian lainnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat subsektor perikanan memberikan kontribusi positif terhadap Nilai Tukar Petani (NTP) Papua Barat pada Maret 2026, dengan kenaikan yang relatif lebih tinggi dibanding subsektor lainnya.
Kepala BPS Papua Barat, Merry, mengatakan subsektor perikanan, khususnya nelayan tangkap, menjadi penopang utama daya beli petani di tengah tekanan ekonomi yang masih terjadi.
“Subsektor perikanan menunjukkan kinerja positif, terutama pada kelompok nelayan tangkap yang mengalami kenaikan nilai tukar,” ujar Merry dalam siaran pers di Manokwari, Rabu (1/4/2026).
Data BPS menunjukkan, Nilai Tukar Nelayan (NTN) meningkat sebesar 1,22 persen menjadi 102,41, seiring kenaikan harga yang diterima nelayan, terutama dari hasil tangkapan laut seperti ikan cakalang dan udang.
Kenaikan ini lebih tinggi dibandingkan subsektor lain yang justru mengalami tekanan, seperti tanaman perkebunan rakyat yang turun hingga 3,78 persen dan tanaman pangan yang juga mengalami penurunan.
Kinerja positif subsektor perikanan didorong oleh meningkatnya harga yang diterima nelayan (It) sebesar 1,38 persen, sementara kenaikan biaya yang harus dikeluarkan nelayan relatif lebih rendah, yakni sebesar 0,24 persen.
Hal ini memberikan ruang keuntungan yang lebih baik dibandingkan subsektor lain yang menghadapi kenaikan biaya produksi dan konsumsi lebih tinggi.
Di tengah kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) secara umum sebesar 0,39 persen, subsektor perikanan dinilai lebih mampu bertahan karena keseimbangan antara harga jual dan biaya produksi.
Namun demikian, tidak semua pelaku di sektor perikanan mengalami kondisi yang sama. Pada kelompok perikanan budidaya, justru terjadi penurunan nilai tukar sebesar 0,43 persen akibat kenaikan biaya yang tidak diimbangi kenaikan harga jual.
Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor perikanan masih menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat pesisir Papua Barat, namun tetap menghadapi tantangan, terutama pada subsektor budidaya yang lebih rentan terhadap kenaikan biaya produksi.
Meski NTP Papua Barat secara umum mengalami penurunan tipis menjadi 101,61, keberadaan subsektor perikanan menjadi penyangga utama yang menjaga daya beli petani tetap berada di atas angka 100.
Ke depan, penguatan sektor perikanan, khususnya nelayan tangkap, dinilai penting untuk menjaga stabilitas ekonomi masyarakat perdesaan, sekaligus mengantisipasi tekanan dari kenaikan biaya hidup dan fluktuasi harga komoditas lainnya. (pbn)







