banner 468x60 *** banner 468x60 ***

Opini  

Bangsa yang Tak Lagi Membaca

banner 120x600

“Banyak buku telah menjadi karya klasik, wajib baca, atau sensasi penerbitan dalam semalam. Tetapi, berapa banyak yang benar-benar dapat mengubah cara kita melihat dan berpikir?” — Scott Christianson & Colin Salter, 100 Books That Changed the World (2020)

Bangsa besar lahir dari pemuda yang membaca, bukan dari mereka yang viral. Namun di abad digital ini, buku bukan lagi simbol kebangkitan, melainkan peninggalan masa lalu. Literasi tenggelam dalam lautan scroll, dan sejarah kehilangan generasi pembacanya.

banner 325x300

Sembilan puluh tujuh tahun telah berlalu sejak Sumpah Pemuda dikumandangkan pada 28 Oktober 1928. Tiga ikrar yang singkat namun mendalam — bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu — menjadi fondasi lahirnya nasionalisme modern Indonesia. Dari sana, lahir gagasan kebangsaan yang melampaui batas etnis, daerah, dan kolonialisme.

Namun, di tengah gegap gempita peringatan tahunannya, pertanyaan yang lebih mendasar perlu diajukan: apakah semangat pemuda masih hidup dalam tubuh bangsa ini? Apakah bara intelektual yang dulu menggelora kini telah padam dalam era krisis literasi dan keletihan berpikir?

Pemuda yang Membaca, Bukan Sekadar Berteriak

Dalam Java in a Time of Revolution (1972), Ben Anderson menulis bahwa pemuda Indonesia di masa revolusi bukan hanya pejuang di medan perang, tetapi juga pembaca yang gelisah dan penulis yang berani. Mereka membaca Marx, mendiskusikan Bakunin, menafsir Descartes, dan menulis manifesto dengan darah dan ide. Anderson menegaskan, revolusi Indonesia tidak lahir dari elite, melainkan dari energi sosial dan politik pemuda yang tumbuh di luar kendali struktur formal.

Sayangnya, narasi sejarah resmi lebih sering menempatkan mereka di pinggiran, seolah hanya pelengkap kisah para tokoh besar. Padahal, sebagaimana dicatat Anderson, revolusi 1945 adalah hasil letupan ide-ide radikal yang dipelajari, diperdebatkan, dan dipraktikkan oleh kaum muda yang berani berpikir sendiri.

Scott Christianson dan Colin Salter mengingatkan, “Books do not just reflect the world—they shape it.” Buku tidak sekadar cermin realitas, tetapi mesin perubahan peradaban. Sutan Sjahrir membaca Marx dan Bakunin; Bung Hatta menulis demokrasi rakyat dengan merujuk Kant dan Descartes; Mohammad Yamin menggali sastra Paraton dan Negarakertagama untuk membangun kesadaran kebangsaan.

Buku-buku itu adalah medan pertempuran gagasan. Dari Republic Plato, The Communist Manifesto Karl Marx dan Friedrich Engels, On the Origin of Species Charles Darwin, hingga Silent Spring Rachel Carson, para pemuda Indonesia dulu menjadikan teks sebagai alat perjuangan dan pembebasan. Di bawah bayang penjajahan, mereka membangun Indonesia bukan sebagai warisan, melainkan sebagai proyek intelektual dan moral.

Paradoks Zaman Digital

Namun kini, kita hidup dalam paradoks sejarah. Sumpah Pemuda yang dahulu melahirkan generasi pembebas, kini menyisakan wajah politik yang berbeda: Gibran Rakabuming Raka, wakil presiden berusia 37 tahun—disebut sebagian sebagai “pemuda haram konstitusi.”
Bukan karena usianya, melainkan karena proses politik yang mengantarkannya dianggap mencederai etika dan semangat reformasi.

Fenomena ini menandai krisis yang lebih dalam: hilangnya tradisi intelektual dalam tubuh pemuda Indonesia. Di era digital yang serba cepat, buku kehilangan daya magisnya. Literasi tergantikan oleh scroll, refleksi oleh trending, dan pemikiran oleh citra. Pemuda kini lebih mengenal influencer ketimbang filsuf, lebih akrab dengan konten ketimbang konsep. Bangsa ini perlahan kehilangan kaum muda yang berpikir, membaca, dan menulis dengan kesadaran sejarah.

Sumpah Pemuda bukan hanya peristiwa monumental; ia adalah proyek kebudayaan. Ia menuntut keberanian untuk berpikir, untuk membaca, dan menulis ulang masa depan bangsa. Tanpa buku, sumpah itu menjadi kosong. Tanpa pemuda yang berpikir, bangsa ini hanya akan menjadi bayang-bayang dari cita-cita yang tak pernah selesai.

Refleksi 97 tahun Sumpah Pemuda seharusnya bukan sekadar upacara seremonial, melainkan panggilan untuk kembali ke akar: ke buku, ke sejarah, dan ke semangat pemuda yang berani melawan arus zaman dengan pikiran. Sebab, bangsa besar lahir bukan dari yang viral, melainkan dari mereka yang membaca dan berani berpikir. (*)

 

Oleh: Sam Sirken, Pemimpin Redaksi Papuabaratnews.id.

 

* Tulisan ini adalah pandangan pribadi penulis.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *