Difteri dan campak merupakan penyakit menular berbahaya, terutama bagi kelompok rentan.
Papuabaratnews.id, Sorong –- Pemerintah Kota (Pemkot) Sorong melalui Dinas Kesehatan menargetkan 48.558 anak usia dua bulan hingga 10 tahun mendapatkan imunisasi campak dan difteri dalam kegiatan Outbreak Response Immunization (ORI) dilaksanakan sepanjang 2026.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Sorong, Jemima Elisabet Lobat, mengatakan pelaksanaan kegiatan pencanangan imunisasi capak dan difteri ini dilatarbelakangi oleh kondisi yang membutuhkan kewaspadaan dan langkah cepat, menyusul adanya kejadian luar biasa (KLB) difteri serta peningkatan kasus campak.
“Difteri dan campak merupakan penyakit menular berbahaya, terutama bagi kelompok rentan. Keduanya dapat menimbulkan komplikasi serius bahkan kematian apabila tidak dicegah dan ditangani dengan tepat,” ujarnya saat pencanangan imunisasi campak dan difteri di Kota Sorong, Papua Barat Daya, Senin (13/4/2026) seperti dilansir Antara.
Ia menjelaskan berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium dari Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat Surabaya, satu kasus difteri di Kota Sorong telah terkonfirmasi positif.
Kondisi tersebut, kata dia, menjadi dasar penetapan status KLB melalui Keputusan Wali Kota Sorong Nomor 100.3.3.3/23/2026.
Selain itu, kasus campak menunjukkan peningkatan signifikan. Sejak Januari hingga awal April 2026, tercatat 45 kasus campak yang dilaporkan oleh puskesmas dan rumah sakit di Kota Sorong.
“Sebagai langkah penanggulangan, pemerintah melaksanakan imunisasi massal melalui ORI yang dilakukan dalam tiga putaran, yakni April, Mei, dan Oktober 2026,” katanya.
Putaran pertama berlangsung 1–30 April, putaran kedua 1–30 Mei, dan putaran ketiga 1–31 Oktober 2026.
Pelayanan imunisasi akan dilaksanakan di berbagai lokasi, termasuk puskesmas, posyandu, PAUD, TK, sekolah dasar/MI, serta pos pelayanan imunisasi lainnya agar menjangkau seluruh sasaran secara merata.
Menurut Jemima, keberhasilan pelaksanaan ORI tidak hanya bergantung pada kesiapan tenaga kesehatan, tetapi juga memerlukan dukungan lintas sektor, termasuk dunia pendidikan, tokoh agama, tokoh masyarakat, kader kesehatan, serta peran aktif orang tua.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin meningkatkan kekebalan kelompok (herd immunity), memutus rantai penularan, serta memberikan perlindungan optimal kepada anak-anak,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh masyarakat Kota Sorong untuk mendukung program tersebut dengan membawa anak-anak ke fasilitas pelayanan kesehatan yang telah disiapkan.
“Kami berharap tidak ada keraguan terhadap imunisasi, tidak ada penolakan akibat informasi yang keliru, dan tidak ada anak yang tertinggal dari pelayanan,” harapnya.
Dia mengatakan pelaksanaan ORI akan didukung oleh tim imunisasi yang tersebar di 11 puskesmas di Kota Sorong, dengan melibatkan tenaga kesehatan seperti dokter, bidan, perawat, serta kader posyandu. (pbn)


***
***





