Kenaikan harga cabai, beras hingga ikan menunjukkan ketergantungan tinggi terhadap pangan lokal, sementara kelompok makanan jadi penyumbang terbesar inflasi Maret 2026.
Papuabaratnews.id, Manokwari –- Kenaikan harga komoditas pangan lokal seperti cabai rawit, beras, dan ikan menjadi sinyal peringatan terhadap ketahanan pangan di Papua Barat, menyusul dominasi kelompok makanan dalam pembentukan inflasi Maret 2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year-on-year/yoy) Provinsi Papua Barat pada Maret 2026 sebesar 3,51 persen, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar.
Kepala BPS Papua Barat, Merry, mengatakan inflasi yang terjadi tidak terlepas dari kenaikan harga komoditas lokal yang selama ini menjadi konsumsi utama masyarakat.
“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi, terutama dari komoditas seperti beras, cabai rawit, tomat, dan berbagai jenis ikan,” ujar Merry dalam siaran pers di Manokwari, Rabu (1/4/2026).
Data BPS menunjukkan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 5,47 persen secara tahunan dan memberikan andil sebesar 1,92 persen terhadap total inflasi Papua Barat.
Dominasi komoditas pangan lokal dalam struktur inflasi ini menunjukkan bahwa pergerakan harga di Papua Barat sangat dipengaruhi oleh produksi dan distribusi dalam daerah, khususnya sektor pertanian dan perikanan.
Selain cabai dan beras, sejumlah komoditas ikan seperti ikan cakalang, ikan layang, dan ikan kakap merah juga tercatat sebagai penyumbang inflasi. Kondisi ini mengindikasikan bahwa sektor perikanan yang menjadi tulang punggung konsumsi masyarakat turut memengaruhi stabilitas harga.
Di sisi lain, beberapa komoditas justru memberikan andil deflasi, seperti angkutan udara, bensin, serta sejumlah bahan pangan seperti ikan tuna dan bawang putih.
Namun demikian, tekanan dari komoditas pangan lokal tetap lebih dominan dalam membentuk inflasi secara keseluruhan.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa ketahanan pangan di Papua Barat masih menghadapi tantangan, terutama terkait stabilitas pasokan dan distribusi komoditas lokal.
Ketergantungan tinggi terhadap komoditas seperti cabai dan ikan membuat inflasi sangat sensitif terhadap gangguan produksi, cuaca, maupun distribusi logistik antarwilayah.
“Stabilitas harga sangat bergantung pada kelancaran distribusi dan ketersediaan pasokan, khususnya untuk komoditas pangan utama,” kata Merry.
BPS mencatat, secara bulanan (month-to-month/mtm), Papua Barat mengalami inflasi sebesar 0,05 persen, sementara secara tahun kalender (year-to-date/ytd) masih terjadi deflasi sebesar 0,58 persen.
Meski angka inflasi relatif terkendali, struktur inflasi yang didominasi komoditas pangan lokal menjadi perhatian penting bagi pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.
Dengan kondisi ini, penguatan sektor produksi pangan lokal, peningkatan distribusi, serta pengendalian harga menjadi langkah strategis untuk menjaga ketahanan pangan di Papua Barat ke depan. (pbn)







