Pernah menjadi penjabat pertama Bupati Manokwari Selatan serta mendampingi dua bupati di Manokwari, Edi Budoyo meninggalkan jejak panjang dalam pemerintahan daerah di Papua Barat.
Papuabaratnews.id, Manokwari –- Kabar duka menyelimuti Manokwari. Mantan Wakil Bupati Manokwari, Edi Budoyo, meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah Manokwari, Papua Barat, Rabu (9/9/2026) pukul 04.50 WIT.
Kabar kepergian Edi disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten Manokwari Yan Ayomi. Pemerintah daerah menyampaikan belasungkawa sekaligus mengenang pengabdian Edi selama memimpin Manokwari dalam dua periode pemerintahan.
Manokwari bukan sekadar tempat Edi menjalankan jabatan publik. Di daerah itu, ia melewati perjalanan panjang pelayanan, mendampingi dua bupati dengan latar belakang dan dinamika pemerintahan yang berbeda.
Jejak pengabdian lintas daerah
Namun, jejak pengabdian Edi dalam pemerintahan daerah telah dimulai sebelum ia menjadi Wakil Bupati Manokwari. Setelah Kabupaten Manokwari Selatan dimekarkan dari Kabupaten Manokwari dan menjadi daerah otonom baru, Edi dipercaya sebagai penjabat bupati pertama untuk mempersiapkan pemerintahan daerah tersebut.
Ia memimpin Manokwari Selatan pada masa transisi dari 22 April 2013 hingga 24 April 2015. Saat itu, tugasnya tidak ringan. Sebagai penjabat kepala daerah baru, ia harus meletakkan dasar penyelenggaraan pemerintahan, membangun birokrasi, menyiapkan pelayanan publik, serta menggerakkan pembangunan di tengah keterbatasan sarana dan kelembagaan.
Pengalaman memimpin daerah otonom baru tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan pengabdian Edi. Namanya tercatat sebagai kepala daerah pertama yang mengawal masa awal berdirinya Kabupaten Manokwari Selatan sebelum kepemimpinan beralih kepada penjabat berikutnya dan kemudian kepada bupati definitif.
Setelah menyelesaikan tugas di Manokwari Selatan, Edi melanjutkan pengabdiannya di Kabupaten Manokwari.
Edi pertama kali menjabat Wakil Bupati Manokwari mendampingi Bupati Demas Paulus Mandacan pada periode 2016–2020. Ketika Demas meninggal dunia pada April 2020, Edi kemudian memikul tanggung jawab sebagai pelaksana harian Bupati Manokwari hingga berakhirnya masa pemerintahan tersebut.
Ia kembali menjabat wakil bupati pada periode berikutnya bersama Bupati Hermus Indou. Masa pengabdiannya sebagai wakil kepala daerah berakhir pada 20 Februari 2025, bertepatan dengan pelantikan kepala daerah hasil Pilkada 2024.
Dalam perjalanan itu, Edi beberapa kali dipercaya mengambil alih tugas kepala daerah. Salah satunya ketika ia ditunjuk sebagai pelaksana tugas Bupati Manokwari pada September 2024 saat Hermus Indou menjalani cuti kampanye.
Pengabdian di tengah sakit
Kondisi kesehatan menjadi tantangan Edi pada tahun-tahun terakhir masa jabatannya. Namun, ia tetap berusaha menjalankan tanggung jawab pemerintahan sesuai kemampuannya.
Saat menyerahkan jabatan kepada Wakil Bupati Manokwari Mugiyono pada 5 Maret 2025, Edi berbicara terbuka mengenai kondisi kesehatannya. Ia meminta maaf karena merasa belum dapat menjalankan tugas secara optimal selama dua tahun terakhir.
“Saya mohon maaf jika selama masa tugas saya terdapat kekurangan. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada bupati dan masyarakat Manokwari atas dukungan yang telah diberikan,” kata Edi ketika itu.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu pesan terakhirnya sebagai pejabat publik. Tidak ada pembelaan terhadap keterbatasan dirinya. Ia memilih menyampaikan terima kasih dan permohonan maaf kepada masyarakat, aparatur pemerintah, serta semua pihak yang menemaninya selama mengemban amanah.
Sekda Manokwari Yan Ayomi mengatakan Manokwari kehilangan salah satu putra terbaik yang telah menyumbangkan waktu, tenaga, dan pemikiran bagi pembangunan daerah serta pelayanan masyarakat.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Manokwari, kami menyampaikan turut berdukacita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya Bapak Edi Budoyo,” kata Yan.
Ia mendoakan agar seluruh amal ibadah, pengabdian, dan karya almarhum diterima serta mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan.
“Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga Allah SWT senantiasa menganugerahkan ketabahan, kekuatan, keikhlasan, dan penghiburan,” ujarnya.
Kepergian Edi menutup perjalanan seorang pejabat yang pernah berada di tengah dua masa kepemimpinan Manokwari. Ia mendampingi Demas Paulus Mandacan, mengambil tanggung jawab pemerintahan ketika Manokwari kehilangan bupatinya, kemudian melanjutkan pelayanan bersama Hermus Indou.
Jabatan itu telah ia serahkan lebih dari setahun lalu. Namun, jejaknya tetap tinggal dalam perjalanan pemerintahan Manokwari—melalui keputusan yang pernah diambil, pelayanan yang pernah dijalankan, serta permohonan maaf yang disampaikannya dengan hati rendah pada akhir masa tugas. (pbn)







