Pelatihan di Distrik Hingk menyasar guru dan siswa SD-SMP agar matematika lebih mudah dipahami, menyenangkan, dan dapat diterapkan berkelanjutan di sekolah.
Papuabaratnews.id, Anggi — Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pegunungan Arfak, Deny Agustinus Ngutra, menegaskan pelatihan Pandai Berhitung dengan Metode GASING tidak semata-mata diarahkan agar siswa mampu berhitung cepat. Program tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun budaya numerasi yang kuat di sekolah-sekolah Pegunungan Arfak.
Hal itu disampaikan Deny saat membuka pelatihan Pandai Berhitung dengan Metode GASING bagi guru dan siswa SD dan SMP di Distrik Hingk, Kabupaten Pegunungan Arfak, Rabu (16/9/2026).
Pelatihan tersebut merupakan rangkaian program yang juga dilaksanakan di Distrik Sururey. Melalui kegiatan ini, para guru dan siswa diperkenalkan dengan GASING—akronim dari Gampang, Asyik, dan Menyenangkan—sebagai pendekatan pembelajaran matematika yang dilakukan secara bertahap, dari hal konkret menuju abstrak serta dari materi yang mudah menuju tingkat yang lebih sulit.
Deny mengatakan matematika selama ini masih kerap dipandang sebagai mata pelajaran yang sulit, menakutkan, bahkan membosankan bagi sebagian siswa. Pandangan tersebut dapat menjadi hambatan bagi anak untuk memahami konsep dasar matematika sekaligus memengaruhi kemampuan numerasi mereka.
Menurut dia, kondisi itu dapat diubah apabila siswa mendapatkan pendekatan pembelajaran yang tepat. Matematika harus diperkenalkan kepada anak dengan cara yang sederhana dan menyenangkan sehingga mereka tidak takut menghadapi angka dan perhitungan.
Metode GASING yang dikembangkan Prof. Yohanes Surya, Ph.D., kata Deny, menawarkan pendekatan tersebut. Proses pembelajarannya dilakukan langkah demi langkah agar siswa tidak sekadar menghafal atau mendapatkan jawaban dari suatu hitungan, tetapi memahami proses yang mereka kerjakan.
“Metode ini mengajarkan matematika secara langkah demi langkah, dari yang konkret menuju abstrak, dari yang mudah menuju yang lebih sulit, sehingga setiap anak dapat memahami, menguasai, dan bahkan menyukai matematika,” kata Deny dalam pembukaan kegiatan serupa di SMP Negeri Sururey, Senin (14/9/2026).
Guru Menjadi Kunci
Deny menekankan keterlibatan guru dalam pelatihan memiliki arti penting. Kemampuan yang diperoleh selama kegiatan diharapkan tidak berhenti pada peserta yang mengikuti pelatihan, tetapi diterapkan kembali dalam proses pembelajaran di sekolah.
Guru diharapkan menguasai pendekatan GASING sehingga mampu menciptakan suasana belajar matematika yang lebih sederhana, menarik, dan mudah dipahami peserta didik.
Menurut Deny, penguatan literasi dan numerasi merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan mutu pendidikan di Kabupaten Pegunungan Arfak. Karena itu, penerapan metode GASING menjadi salah satu langkah Dinas Pendidikan dalam memperkuat kemampuan dasar peserta didik sekaligus meningkatkan kapasitas guru.
Pelatihan ini juga diarahkan untuk mengubah pola pikir bahwa matematika dapat dipelajari setiap anak, meningkatkan kompetensi guru dalam menerapkan metode GASING, memperkuat kemampuan numerasi dan mencongak siswa, serta menumbuhkan minat dan kepercayaan diri anak dalam belajar matematika.
Bagi Deny, perubahan cara pandang terhadap matematika sama pentingnya dengan kemampuan berhitung. Anak-anak di Pegunungan Arfak diharapkan tidak lagi melihat matematika sebagai pelajaran yang harus ditakuti, tetapi sebagai sesuatu yang dapat dipelajari dengan mudah dan menyenangkan.
Ia juga meminta para guru yang mengikuti pelatihan tidak menyimpan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh untuk diri sendiri. Setelah kembali ke sekolah, mereka diharapkan menerapkan sekaligus membagikan metode tersebut kepada guru lainnya agar manfaat program menjangkau lebih banyak peserta didik.
“Jadikan metode ini sebagai sarana untuk membangun budaya numerasi yang kuat di seluruh satuan pendidikan di wilayah kita,” ujar Deny dalam pembukaan pelatihan di Sururey.
Dengan pelaksanaan pelatihan di Hingk, Dinas Pendidikan berharap pembelajaran matematika yang mudah, asyik, dan menyenangkan semakin berkembang di sekolah-sekolah Pegunungan Arfak. Dampak program tidak diharapkan berhenti setelah pelatihan selesai, tetapi berlanjut melalui praktik pembelajaran sehari-hari di ruang kelas. (pbn)







