Penguatan tata kelola mutu, budaya literasi dan numerasi, serta pemanfaatan teknologi harus berdampak langsung terhadap kualitas pembelajaran siswa.
Papuabaratnews.id, Anggi –- Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pegunungan Arfak, Deny Agustinus Ngutra, mengingatkan sekolah agar tidak menjadikan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) sebatas kelengkapan administrasi.
SPMI harus menjadi proses berkelanjutan yang membantu sekolah mengevaluasi, memperbaiki, dan meningkatkan kualitas layanan pendidikan sesuai kebutuhan peserta didik.
“SPMI bukan sekadar administrasi, melainkan komitmen untuk terus mengevaluasi, memperbaiki, dan meningkatkan layanan pendidikan di sekolah masing-masing,” kata Deny saat membuka Bimbingan Teknis Tata Kelola SPMI, Literasi dan Numerasi, serta Digitalisasi Pembelajaran di Iraiweri, Kabupaten Pegunungan Arfak, Selasa (8/9/2026).
Bimbingan teknis bagi satuan pendidikan jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) dan sekolah dasar (SD) tersebut berlangsung pada 8–10 September 2026.
Deny menjelaskan, peningkatan mutu pendidikan membutuhkan kerja bersama antara pemerintah daerah, pengawas sekolah, kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan. Karena itu, ada tiga pilar yang harus diperkuat secara berkelanjutan, yakni tata kelola SPMI, literasi dan numerasi, serta digitalisasi pembelajaran.
Menurut dia, sekolah perlu memiliki kemampuan melakukan penjaminan mutu secara mandiri dan terencana. Hasil evaluasi tidak boleh berhenti dalam bentuk dokumen, tetapi harus ditindaklanjuti dengan perbaikan konkret dalam pengelolaan sekolah maupun proses belajar mengajar.
Selain tata kelola mutu, Deny menyoroti pentingnya kemampuan literasi dan numerasi sebagai bekal dasar peserta didik. Kemampuan membaca tidak sekadar mengenali tulisan, tetapi juga memahami dan mengolah informasi. Demikian pula numerasi tidak berhenti pada kegiatan berhitung, tetapi mencakup kemampuan menggunakan angka untuk memecahkan persoalan sehari-hari.
“Rendahnya kemampuan literasi dan numerasi akan menjadi penghambat masa depan anak-anak kita. Oleh karena itu, kita harus bersama-sama menjadikan literasi dan numerasi sebagai budaya dalam setiap kegiatan pembelajaran,” ujarnya.
Penguatan kemampuan dasar tersebut, kata Deny, harus dimulai sejak jenjang PAUD dan SD. Guru perlu menghadirkan kegiatan pembelajaran yang membiasakan anak membaca, memahami informasi, berpikir kritis, dan menggunakan kemampuan berhitung dalam berbagai situasi.
Pilar ketiga yang perlu diperkuat ialah digitalisasi pembelajaran. Pemanfaatan teknologi dinilai dapat membantu guru menyampaikan materi secara lebih menarik sekaligus memperluas sumber belajar bagi peserta didik.
Namun, teknologi tidak boleh hanya menjadi pelengkap. Penggunaannya harus diarahkan untuk meningkatkan kualitas interaksi pembelajaran serta mempersiapkan peserta didik menghadapi perkembangan zaman.
“Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran tidak hanya membantu penyampaian materi menjadi lebih menarik dan luas, tetapi juga mempersiapkan peserta didik agar memiliki keterampilan digital yang dibutuhkan pada masa depan,” kata Deny.
Ia berharap bimbingan teknis tersebut menghasilkan pemahaman yang seragam, panduan yang jelas, serta keterampilan praktis yang dapat diterapkan peserta di sekolah masing-masing.
Para peserta juga diminta aktif bertanya dan berdiskusi selama kegiatan. Pengetahuan yang diperoleh selanjutnya harus dibagikan kepada guru dan tenaga kependidikan lain agar manfaat pelatihan tidak berhenti pada peserta yang hadir.
“Seluruh upaya ini harus bermuara pada peningkatan mutu pendidikan dan hasil belajar peserta didik kita,” ujarnya.
Deny mengatakan keberhasilan kegiatan tidak diukur dari selesainya pelatihan atau diterbitkannya sertifikat. Dampaknya baru dapat dilihat ketika sekolah menjalankan penjaminan mutu secara konsisten, membangun budaya literasi dan numerasi, serta memanfaatkan teknologi sesuai kebutuhan pembelajaran.
Karena itu, Dinas Pendidikan Pegunungan Arfak mengharapkan pengawas dan kepala sekolah mengawal penerapan materi bimbingan teknis di satuan pendidikan masing-masing. Dengan demikian, pelatihan tersebut dapat menghasilkan perubahan nyata bagi kualitas pembelajaran anak-anak Pegunungan Arfak. (pbn)







