Penurunan harga pangan dan tarif angkutan pada Agustus 2026 meredakan tekanan jangka pendek. Namun, sebagian besar kelompok pengeluaran masih lebih mahal dibandingkan dengan setahun sebelumnya.
Papuabaratnews.id, Manokwari –- Penurunan harga sejumlah bahan pangan dan tarif transportasi membawa Papua Barat mengalami deflasi pada Agustus 2026. Kendati demikian, penurunan harga dalam sebulan tersebut belum berarti tekanan biaya hidup masyarakat sepenuhnya berakhir.
Badan Pusat Statistik mencatat Papua Barat mengalami deflasi 1,19 persen pada Agustus 2026 dibandingkan dengan Juli 2026. Namun, apabila dibandingkan dengan Agustus 2025, tingkat harga barang dan jasa masih meningkat 5,27 persen.
Kepala BPS Papua Barat, Merry, menyampaikan bahwa Indeks Harga Konsumen Papua Barat turun dari 114,49 pada Juli 2026 menjadi 113,13 pada Agustus 2026.
“Provinsi Papua Barat pada bulan Agustus 2026 mengalami deflasi month-to-month sebesar 1,19 persen,” kata Merry dalam konferensi pers di Manokwari, Selasa (1/9/2026).
Deflasi bulanan menggambarkan penurunan tingkat harga rata-rata pada Agustus dibandingkan dengan Juli 2026. Angka itu berbeda dengan inflasi tahunan yang membandingkan tingkat harga pada Agustus 2026 dengan Agustus 2025.
Dalam perbandingan tahunan, IHK Papua Barat meningkat dari 107,47 pada Agustus 2025 menjadi 113,13 pada Agustus 2026.
“Pada Agustus 2026 terjadi inflasi year-on-year Papua Barat sebesar 5,27 persen dengan Indeks Harga Konsumen sebesar 113,13,” ujar Merry.
Sementara itu, inflasi tahun kalender atau year-to-date, yakni perubahan harga pada Agustus 2026 dibandingkan dengan Desember 2025, tercatat 2,16 persen.
Perbedaan periode penghitungan tersebut penting untuk memahami keadaan harga secara utuh. Deflasi 1,19 persen menunjukkan adanya penurunan harga dalam jangka pendek. Namun, inflasi tahunan 5,27 persen memperlihatkan bahwa biaya untuk memperoleh barang dan jasa masih lebih tinggi dibandingkan dengan setahun sebelumnya.
Deflasi bulanan juga belum dapat langsung diartikan sebagai pemulihan daya beli. Data inflasi hanya menggambarkan perubahan tingkat harga dan tidak menunjukkan perubahan pendapatan masyarakat. Penilaian terhadap daya beli memerlukan data tambahan mengenai pendapatan, upah, pengeluaran, dan konsumsi rumah tangga.
Harga pangan mereda
Merry menjelaskan, penyumbang utama deflasi bulanan berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok pengeluaran tersebut mengalami deflasi 2,79 persen dan memberikan andil deflasi sebesar 0,97 persen.
“Komoditas yang dominan memberikan andil deflasi month-to-month pada Agustus 2026 antara lain ikan tuna, angkutan udara, tomat, cabai rawit, bensin, bawang merah, ikan ekor kuning atau ikan lolosi, bunga pepaya, bahan bakar rumah tangga, serta ikan selar atau ikan oci,” kata Merry.
Ikan tuna menjadi penyumbang terbesar dengan andil deflasi 0,44 persen. Tomat menyumbang deflasi 0,24 persen, sedangkan cabai rawit memberikan andil deflasi 0,19 persen.
Bawang merah, ikan ekor kuning atau ikan lolosi, bunga pepaya, serta ikan selar atau ikan oci masing-masing memberikan andil deflasi 0,05 persen. Kangkung, tahu mentah, dan bawang putih masing-masing menyumbang deflasi 0,03 persen.
Akan tetapi, tidak semua harga bahan pangan turun. Ikan cakalang memberikan andil inflasi bulanan sebesar 0,15 persen. Bayam dan beras masing-masing memberikan andil inflasi 0,03 persen, sedangkan ikan kakap merah menyumbang 0,02 persen.
Penurunan harga beberapa bahan pangan pada Agustus juga belum menghapus kenaikan harga yang berlangsung dalam satu tahun terakhir. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih mengalami inflasi tahunan 3,27 persen dengan andil 1,16 persen terhadap inflasi umum.
“Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi tahunan adalah beras sebesar 0,34 persen, sigaret kretek mesin sebesar 0,25 persen, daging babi sebesar 0,17 persen, minyak goreng sebesar 0,15 persen, dan ikan cakalang sebesar 0,13 persen,” ujar Merry.
Selain harga bahan pangan, tekanan juga terlihat pada makanan siap saji. Kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran mengalami inflasi tahunan 8,44 persen dengan andil 0,53 persen terhadap inflasi umum.
Kenaikan harga pada kelompok tersebut antara lain berasal dari nasi dengan lauk, ayam goreng, soto, kue kering berminyak, bakso siap santap, sate, dan mi. Kondisi itu menunjukkan bahwa pengeluaran rumah tangga untuk membeli makanan jadi masih lebih tinggi dibandingkan dengan setahun sebelumnya.

Transportasi masih menjadi tekanan terbesar
Kelompok transportasi turut memberikan andil terhadap deflasi bulanan. Kelompok ini mengalami deflasi 2,25 persen dan menyumbang deflasi sebesar 0,31 persen pada Agustus 2026.
Merry mengatakan, penurunan tarif angkutan udara menjadi faktor utama yang menahan harga pada kelompok transportasi.
“Komoditas yang dominan memberikan andil deflasi month-to-month adalah angkutan udara sebesar 0,30 persen, bensin sebesar 0,06 persen, serta pelumas atau oli mesin sebesar 0,01 persen,” katanya.
Di tengah penurunan tersebut, tarif angkutan laut justru memberikan andil inflasi bulanan sebesar 0,06 persen.
Kendati mengalami deflasi secara bulanan, kelompok transportasi masih menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan Papua Barat. Kelompok tersebut mengalami inflasi 18,70 persen dan memberikan andil 2,25 persen terhadap inflasi umum yang mencapai 5,27 persen.
“Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi tahunan pada kelompok transportasi adalah angkutan udara sebesar 1,20 persen, bensin sebesar 0,69 persen, dan solar sebesar 0,10 persen,” ujar Merry.
Dengan andil 2,25 persen, kelompok transportasi menyumbang lebih dari dua perlima inflasi tahunan Papua Barat. Angkutan udara sendiri memberikan kontribusi lebih dari separuh andil inflasi kelompok transportasi.
Besarnya pengaruh angkutan udara menjadi persoalan penting bagi rumah tangga di Papua Barat. Konektivitas antardaerah masih sangat bergantung pada transportasi udara, laut, dan darat. Karena itu, perubahan tarif transportasi tidak hanya memengaruhi pengeluaran penumpang, tetapi juga dapat berdampak pada biaya distribusi barang.
Tekanan harga belum merata reda
Sebagian besar kelompok pengeluaran masih mengalami kenaikan harga secara tahunan. Selain transportasi, kenaikan tinggi terjadi pada kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 8,44 persen serta perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 7,31 persen.
Kelompok pakaian dan alas kaki mengalami inflasi 4,16 persen; rekreasi, olahraga, dan budaya 3,87 persen; makanan, minuman, dan tembakau 3,27 persen; serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 3,11 persen.
Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami inflasi 2,93 persen. Sementara kelompok kesehatan mengalami inflasi 2 persen serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 1,95 persen.
Dari 11 kelompok pengeluaran, hanya kelompok pendidikan yang mengalami deflasi tahunan, yakni 3,26 persen. Kelompok ini memberikan andil deflasi 0,16 persen, terutama karena penurunan biaya sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.
Rangkaian data tersebut memperlihatkan bahwa deflasi Agustus 2026 memang memberikan kelonggaran sementara bagi pengeluaran rumah tangga, terutama melalui penurunan harga sejumlah bahan pangan dan tarif angkutan udara. Namun, tingginya inflasi tahunan menunjukkan bahwa tekanan biaya hidup yang terkumpul selama setahun belum sepenuhnya mereda.
Keberlanjutan penurunan harga akan sangat bergantung pada ketersediaan pasokan pangan, kelancaran distribusi antardaerah, serta perkembangan tarif angkutan dan harga bahan bakar pada bulan-bulan berikutnya. (pbn)







