TEP Unair Dampingi Lima Kampung di Prafi Kembangkan Pangan Lokal

PANGAN LOKAL — Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga bersama kader Posyandu memperlihatkan berbagai produk olahan pangan lokal yang dikembangkan melalui program SMART Kader Posyandu di Distrik Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat. (Foto: Papuabaratnews.id/Istimewa)
banner 120x600

Pendampingan SMART Kader Posyandu mendorong pengolahan komoditas lokal menjadi produk bernilai tambah sekaligus membuka peluang usaha bagi keluarga di kampung.

Papuabaratnews.id, Manokwari —  Lima kampung di Distrik Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, mengembangkan beragam produk olahan pangan berbasis potensi lokal melalui pendampingan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (Unair).

banner 325x300

Ketua Tim 3 TEP Unair, Dr. Muthmainnah, mengatakan pendampingan melalui program SMART Kader Posyandu diarahkan agar produk pangan olahan masyarakat memiliki mutu yang konsisten, aman, beridentitas, dan layak dipasarkan.

“Supaya produk olahan pangan lokal di Distrik Prafi bisa memberikan dampak ekonomi secara berkelanjutan,” kata Muthmainnah di Manokwari, Senin (14/9/2026).

Ia menjelaskan, pendampingan mencakup pemetaan potensi, uji coba dan standardisasi resep, keamanan pangan, penghitungan biaya produksi dan harga jual, pengemasan, hingga distribusi dan pemasaran produk.

Di Kampung Prafi Mulya, kelompok kader mengembangkan sale pisang, lemet singkong, keripik pisang, dan keripik singkong. Sementara kelompok kader di Kampung Disey menghasilkan risol mayo ubi ungu dan keripik pisang tanduk cokelat.

Kelompok kader di Kampung Aisami mengolah sukun menjadi mochi, ubi ungu menjadi mochi dan es krim, serta daun kelor menjadi es krim dan puding. Adapun kelompok di Kampung Udapi Hilir mengembangkan tape singkong, keripik bayam, stik labu kuning, sempol tuna, dan es bunga telang.

“Sementara kelompok 5 Kampung Kali Amin menghasilkan keripik singkong, keripik keladi, dan lemet singkong,” ujarnya.

Muthmainnah mengatakan seluruh bahan baku produk tersebut berasal dari komoditas yang tersedia di kebun, pekarangan, maupun lingkungan masyarakat. Bahan baku itu antara lain pisang, singkong, keladi, ubi ungu, sukun, kelor, bayam, labu kuning, bunga telang, serta ikan tuna.

Pengolahan berbagai bahan pangan lokal tersebut dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah, memperpanjang masa simpan, memperluas pilihan pangan, sekaligus membuka peluang usaha bagi rumah tangga di kampung.

“Usaha SMART Kader Posyandu juga telah memiliki sejumlah legalitas, antara lain Nomor Induk Berusaha (NIB), NPWP badan, PIRT, dan perlindungan kekayaan intelektual untuk menunjang pemasaran produk,” katanya.

Selain menghasilkan produk, para kader juga diarahkan agar mampu mengelola produksi, legalitas usaha, pencatatan keuangan, hingga pemasaran secara mandiri. Dengan demikian, manfaat ekonomi dari usaha tersebut dapat dirasakan keluarga maupun masyarakat di kampung.

Pengembangan produk juga diarahkan untuk mendorong diversifikasi pangan, penerapan praktik produksi yang aman, peningkatan keterampilan kader perempuan, serta pembentukan usaha produktif yang dapat menjadi sumber pendapatan keluarga.

“Para kader berharap ada pendampingan lanjutan mencakup standardisasi produk, perbaikan kemasan dan label, promosi digital, serta perluasan akses pasar melalui toko, pusat oleh-oleh, dan pembeli tetap,” ujar Muthmainnah. (pbn)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *