Papuabaratnews.id, Halmahera Utara – PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Maluku dan Papua (UIP MPA) memperkuat komitmennya terhadap pelestarian lingkungan melalui aksi konservasi pesisir dalam rangka memperingati Hari Mangrove Sedunia 2026 di kawasan Pantai Wauwo, Area PLTMG Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara, Senin (27/7/2026).
Kegiatan bertajuk “Tobelo Rawat Bumi” tersebut diselenggarakan oleh PT PLN Nusantara Power Services Unit PLTMG Tobelo bersama Universitas Halmahera (Uniera), dengan dukungan PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Proyek Maluku dan Papua 2 (UPP MPA 2), pemerintah daerah, TNI, serta berbagai pemangku kepentingan.
Tiga aksi konservasi menjadi fokus utama kegiatan, yakni penanaman 100 bibit mangrove, penanaman 30 butir telur burung mamoa pada fasilitas penetasan semi alami, serta pelepasan 40 ekor tukik ke habitat alaminya sebagai bentuk pelestarian keanekaragaman hayati di Maluku Utara.
Manager Unit PLTMG Tobelo, Pandu Hari Respati, mengatakan peringatan Hari Mangrove Sedunia menjadi momentum untuk memperkuat sinergi berbagai pihak dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.
“Melalui Tobelo Rawat Bumi, kami ingin mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan. Penanaman mangrove, pelepasan burung mamoa, dan tukik bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi merupakan simbol komitmen bersama dalam merawat alam agar manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi mendatang,” ujar Pandu.

Menurutnya, kawasan mangrove di Desa Mamuya memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara berkelanjutan, tidak hanya sebagai benteng alami pesisir, tetapi juga sebagai kawasan edukasi lingkungan, ekowisata, hingga pusat pengembangan produk berbasis mangrove yang mampu memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
“Kami berharap kawasan konservasi ini terus dirawat dan dikembangkan sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan dari sisi lingkungan, tetapi juga mampu membuka peluang usaha serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Mamuya,” katanya.
Kegiatan tersebut juga memperkuat kolaborasi yang selama ini dibangun PLN UIP MPA bersama Universitas Halmahera melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Konservasi Burung Mamoa di Desa Mamuya. Program tersebut mengedepankan pendekatan konservasi berbasis masyarakat, edukasi lingkungan, serta penguatan kapasitas kelompok konservasi lokal.
Pada sesi edukasi, akademisi Program Studi Kehutanan Universitas Halmahera, Radios Simanjuntak, menjelaskan kawasan konservasi Pantai Wauwo memiliki ekosistem mangrove seluas sekitar 4,91 hektare dan kawasan pesisir sekitar 0,58 hektare yang menjadi habitat bertelur burung mamoa (Eulipoa wallacei), satwa endemik Maluku Utara.
Ia menuturkan mangrove berfungsi sebagai pelindung alami pantai dari abrasi, habitat berbagai biota laut, sekaligus penyerap karbon yang efektif dalam mengurangi dampak perubahan iklim.
“Ekosistem mangrove memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan karbon sekitar empat hingga lima kali lebih besar dibandingkan hutan daratan. Karena itu, Hari Mangrove Sedunia harus menjadi momentum memperkuat kesadaran dan aksi bersama dalam melindungi kawasan pesisir,” ujarnya.

Sementara itu, Manager UPP MPA 2, Mohammad Fendra Harinansah, menegaskan bahwa keterlibatan PLN dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk menghadirkan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan yang sejalan dengan prinsip keberlanjutan.
Menurutnya, pembangunan sektor energi tidak hanya berorientasi pada penyediaan listrik yang andal, tetapi juga harus memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat melalui implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
“Melalui kolaborasi bersama Universitas Halmahera dan seluruh pemangku kepentingan, kami berkomitmen menjaga keberlangsungan ekosistem pesisir serta melindungi keanekaragaman hayati yang menjadi kekayaan Indonesia. Program TJSL Konservasi Burung Mamoa dan Tukik merupakan salah satu implementasi prinsip ESG yang terus kami dorong agar memberikan dampak berkelanjutan,” katanya. (pbn)







