Penjualan produk kriya menjadi penyumbang terbesar nilai transaksi. Pemprov Papua Barat akan menjadikan capaian tersebut sebagai acuan pengembangan pariwisata dan UMKM berbasis budaya.
Papuabaratnews.id, Manokwari –- Pemerintah Provinsi Papua Barat mencatat nilai transaksi pameran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) selama penyelenggaraan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV di Manokwari mencapai sekitar Rp1,2 miliar.
Kepala Dinas Pariwisata Papua Barat, Jafar Werfete, mengatakan nilai tersebut berasal dari transaksi langsung selama pameran yang berlangsung pada 18–28 Juni 2026.
“Kami hanya mencatat transaksi langsung dengan total kurang lebih sebanyak Rp1,2 miliar,” kata Jafar di Manokwari, Senin (20/7/2026).
Menurutnya, produk kriya khas Papua seperti tas rajut noken, miniatur rumah adat, batik Papua, dan berbagai kerajinan lainnya menjadi penyumbang terbesar nilai penjualan dibandingkan produk kuliner maupun produk UMKM lainnya.
Jafar mengatakan capaian tersebut melampaui target awal panitia yang hanya memproyeksikan nilai transaksi sekitar Rp600 juta.
“Pameran UMKM saat Pesparawi itu kami menargetkan transaksi belanja langsung berkisar Rp600 juta, tapi realisasinya melampaui target. Ini sesuatu yang bagus,” ujarnya.
Ia menilai keberhasilan tersebut menjadi indikator bahwa penyelenggaraan event berskala nasional mampu memberikan dampak ekonomi langsung bagi pelaku UMKM sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pariwisata di Papua Barat.
Karena itu, Pemerintah Provinsi Papua Barat akan terus mengembangkan berbagai agenda festival dan kegiatan yang melibatkan pelaku UMKM melalui kolaborasi dengan komunitas, kementerian, lembaga, maupun instansi lainnya. Salah satunya adalah Festival Raimuti yang dalam waktu dekat akan diselenggarakan oleh Kodam XVIII/Kasuari di Manokwari.
Selain memperkuat promosi produk lokal, pemerintah juga terus mengembangkan sektor pariwisata berbasis ekowisata dan budaya. Pendekatan tersebut menitikberatkan pada pelestarian nilai budaya, sejarah, adat istiadat, serta identitas masyarakat lokal Papua.
Jafar menjelaskan, berdasarkan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), terdapat dua destinasi wisata prioritas di Papua Barat, yakni kawasan Teluk Triton di Kabupaten Kaimana dan kawasan wisata alam Pegunungan Arfak.
Menurutnya, pengembangan kedua destinasi tersebut harus mengedepankan konsep 3A, yaitu atraksi, aksesibilitas, dan amenitas agar mampu memberikan pengalaman wisata yang berkualitas sekaligus berdampak terhadap peningkatan ekonomi masyarakat.
“Pengembangan pariwisata memiliki multiplier effect terhadap sektor lainnya seperti UMKM. Sehingga perlu ada kolaborasi lintas sektor,” katanya.
Ia menambahkan, Papua Barat memiliki potensi besar karena tidak hanya menawarkan keindahan alam dan kekayaan budaya, tetapi juga beragam produk UMKM khas Papua yang dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan. (pbn)







