Berita  

El Niño Super Diproyeksikan Mencapai Puncak Akhir 2026, Indonesia Bersiap Hadapi Risiko Kekeringan

Petugas memantau perkembangan analisis anomali suhu muka laut melalui layar monitor untuk memprediksi fenomena El Niño, di kantor pusat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Jakarta, 30 Juli 2026. (Foto: ANTARA/Darryl Ramadhan)
banner 120x600

WMO memprediksi anomali suhu Pasifik menembus rekor baru, BMKG memperkuat mitigasi untuk mengantisipasi karhutla, krisis air, dan musim hujan yang berpotensi mundur.

Papuabaratnews.id, Manokwari –- Ancaman El Niño super diperkirakan semakin nyata di Indonesia. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memproyeksikan fenomena iklim tersebut akan terus menguat sepanjang Agustus hingga Oktober 2026 dengan intensitas yang berpotensi melampaui seluruh catatan sebelumnya.

banner 325x300

Dalam pembaruan El Niño Update yang dirilis 31 Juli 2026, WMO menyebutkan 13 model iklim global menunjukkan anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik ekuator berpotensi melampaui 2,9 derajat Celsius, bahkan beberapa model memprediksi mencapai 3,5 hingga 5 derajat Celsius.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding El Niño sangat kuat pada 1997 yang mencapai +2,2 derajat Celsius dan 2015 sebesar +2,6 derajat Celsius.

WMO memperkirakan penguatan El Niño masih akan berlangsung hingga penghujung 2026, sebelum mulai melemah secara bertahap. Di Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi dampaknya dapat berlangsung hingga awal triwulan pertama 2027.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres mengingatkan bahwa El Niño bukan lagi ancaman yang akan datang, tetapi sudah memperburuk kondisi bumi yang semakin panas akibat perubahan iklim.

“El Niño bukan lagi sudah sampai di muka pintu rumah kita, fenomena ini sudah berada di dalam dan menambahkan panas di rumah kita,” ujar Guterres.

Ia menilai penggunaan bahan bakar fosil masih menjadi penyebab utama krisis iklim yang kini diperparah dengan meningkatnya kejadian cuaca ekstrem dan kebakaran hutan di berbagai belahan dunia.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo mengatakan kondisi suhu laut dan suhu global yang saat ini berada pada tingkat tertinggi sepanjang sejarah menjadi peringatan bagi seluruh negara untuk memperkuat langkah mitigasi sebelum dampak El Niño semakin meluas.

Profesor Riset Klimatologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, menyatakan El Niño super telah memasuki fase pemecah rekor sejak akhir Juli 2026.

Menurutnya, berdasarkan klasifikasi WMO, El Niño dikategorikan sangat kuat apabila anomali suhu muka laut melebihi 2 derajat Celsius. Dengan proyeksi yang berpotensi melampaui 3 derajat Celsius, fenomena tahun ini diperkirakan menjadi yang terkuat sepanjang pencatatan modern.

“Kalau sudah melampaui 3,0 derajat Celsius, berarti ini menjadi pemecah rekor tertinggi El Niño super yang pernah terjadi,” ujarnya.

Erma memperkirakan anomali suhu laut masih meningkat sekitar 0,1 derajat Celsius setiap pekan dengan puncaknya diperkirakan terjadi pada Oktober hingga Desember 2026.

Ia mengingatkan dampak utama yang perlu diwaspadai adalah melemahnya Monsun Asia yang dapat menyebabkan musim hujan datang lebih lambat dari biasanya.

Selain El Niño, WMO juga mengingatkan potensi terbentuknya Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada akhir tahun.

Kombinasi kedua fenomena tersebut diperkirakan memperkuat kondisi kering di Indonesia sehingga meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta berkurangnya ketersediaan air.

Secara global, WMO memprediksi suhu udara Agustus–Oktober 2026 berada di atas normal di sebagian besar wilayah dunia. Sebaliknya, Indonesia termasuk kawasan yang diperkirakan mengalami curah hujan di bawah normal.

Peneliti Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Givo Alsepan, mengatakan El Niño akan semakin menekan curah hujan yang memang secara klimatologis sudah rendah pada Juli hingga Oktober.

Menurutnya, informasi perkembangan El Niño harus dimanfaatkan sebagai dasar penyusunan langkah mitigasi, mulai dari penyesuaian pola tanam, pengelolaan sumber daya air, hingga pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

“Tantangan terbesar saat ini bukan lagi memprediksi kedatangan El Niño, tetapi memastikan informasi iklim benar-benar diterjemahkan menjadi langkah nyata,” katanya.

Mengantisipasi dampak El Niño, BMKG memperkuat berbagai langkah mitigasi, termasuk memperluas operasi modifikasi cuaca (OMC) di sejumlah daerah rawan kekeringan dan karhutla.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan operasi tersebut dilakukan di Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Riau, dan Jawa Barat sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko kebakaran hutan sekaligus menjaga ketersediaan air di waduk dan danau.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menjelaskan penyemaian awan merupakan langkah komplementer untuk memaksimalkan potensi hujan alami sebelum kekeringan mencapai kondisi ekstrem.

Sementara itu, Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menegaskan bahwa dampak terbesar El Niño di Indonesia diperkirakan terjadi sepanjang musim kemarau tahun ini.

BMKG mencatat hampir 48,77 persen wilayah Indonesia berpotensi mengalami musim kemarau yang lebih kering dibanding kondisi normal. Puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September, sedangkan peningkatan curah hujan baru diproyeksikan terjadi secara bertahap mulai Oktober hingga November 2026.

Bagi wilayah Papua Barat, kondisi ini menjadi peringatan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan, gangguan pasokan air bersih, serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama pada daerah yang memasuki puncak musim kemarau. (pbn)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *