Sebanyak 35 guru, pengelola taman bacaan, dan pemuda gereja dibekali keterampilan menulis kreatif untuk mengangkat potensi lokal, memperkuat budaya literasi, hingga mendukung promosi UMKM di Papua Barat.
Papuabaratnews.id, Manokwari –- Rumah Baca Manokwari terus mendorong tumbuhnya budaya literasi di Tanah Papua dengan mengembangkan kapasitas komunitas literasi dan generasi muda melalui pelatihan Menulis Kreatif dan Membaca Nyaring yang berlangsung selama tiga hari mulai Rabu (5/8/2026).
Kegiatan yang didukung Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) itu diikuti 35 peserta yang terdiri atas guru SD hingga SMA, pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) se-Kabupaten Manokwari, serta pemuda gereja.
Founder sekaligus Ketua TBM Rumah Baca Manokwari, Yudit Yewun, mengatakan pelatihan tersebut dirancang untuk membangun kemampuan menulis sekaligus menggali potensi para pegiat literasi agar mampu menghasilkan karya yang mengangkat kekayaan lokal Papua.
Menurutnya, keterampilan menulis kreatif menjadi bekal penting bagi guru, pengelola TBM, maupun anak-anak muda untuk mendokumentasikan pengalaman, budaya, dan berbagai isu lokal dalam bentuk tulisan yang inspiratif.
“Menulis kreatif ini mencakup semua ide dan tema. Kami ingin menginspirasi para guru, pengelola TBM, dan pemuda gereja agar mampu menuangkan pikiran serta gagasan mereka, baik tentang kearifan lokal maupun pengembangan budaya setempat,” kata Yudit.
Tidak hanya membahas teknik menulis cerita, artikel, dan karya sastra, pelatihan ini juga menghadirkan materi penulisan narasi untuk mendukung Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Melalui pendekatan storytelling, peserta diajarkan menyusun narasi promosi yang mampu memperkuat identitas produk lokal sehingga lebih menarik bagi konsumen.

Selama pelatihan, peserta didampingi oleh wartawan LKBN ANTARA, Fransiskus Salu Weking, yang bertindak sebagai fasilitator. Ia membimbing peserta mengolah ide, pengalaman hidup, dan fenomena sehari-hari menjadi karya tulis yang komunikatif.
Dari proses pendampingan tersebut, peserta berhasil menghasilkan berbagai karya, mulai dari artikel feature, cerita pendek (cerpen), hingga puisi.
Salah seorang peserta, Mikael Solossa, mengaku pelatihan tersebut memberinya perspektif baru dalam menuangkan ide ke dalam tulisan.
Sarjana Peternakan lulusan Universitas Papua itu mengatakan selama ini banyak gagasan yang hanya tersimpan dalam pikirannya karena merasa belum memiliki kemampuan menulis.
“Setelah mengikuti pelatihan, saya menyadari bahwa ide yang ada di dalam pikiran sebenarnya bisa dituangkan dalam bentuk tulisan agar dapat dibaca dan menjadi inspirasi bagi orang lain,” ujarnya.
Melalui kegiatan tersebut, Rumah Baca Manokwari berharap peserta tidak hanya menjadi penikmat bacaan, tetapi juga mampu menjadi penulis yang secara konsisten menghasilkan karya-karya yang menginspirasi masyarakat.
Selain memperkuat budaya literasi, pelatihan ini diharapkan melahirkan lebih banyak penulis muda yang mampu mengangkat potensi daerah, memperkenalkan kearifan lokal, sekaligus berkontribusi terhadap pengembangan ekonomi kreatif di Papua Barat. (pbn)







