Inflasi didorong kenaikan tarif listrik dan harga kebutuhan pokok, sementara transportasi menjadi penahan laju inflasi bulanan.
Papuabaratnews.id, Manokwari – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua Barat mencatat perekonomian Papua Barat mengalami inflasi secara tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 5,02 persen pada Januari 2026, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 110,76.
Selain secara tahunan, Papua Barat juga mengalami inflasi secara bulanan (month-to-month/mtm) dan tahun kalender (year-to-date/ytd) masing-masing sebesar 0,02 persen pada Januari 2026 dibandingkan Desember 2025.
Statistisi Madya BPS Provinsi Papua Barat, Lasmini, menjelaskan bahwa tingginya inflasi tahunan pada Januari 2026 tidak terlepas dari kondisi Januari tahun sebelumnya yang sempat mengalami deflasi sehingga berada di bawah tren normal. Kondisi tersebut menyebabkan perbandingan tahunan terlihat lebih tinggi.
“Inflasi tahunan Januari 2026 lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya dan berbanding terbalik dengan kondisi pada Januari 2025 yang justru mengalami deflasi,” kata Lasmini dalam siaran pers Berita Resmi Statistik di Manokwari, Senin (2/2/2026).
Ia menambahkan, rendahnya basis perbandingan pada tahun sebelumnya membuat kenaikan harga pada tahun berjalan tampak lebih signifikan secara statistik.
“Tingginya inflasi tahunan ini dipengaruhi oleh basis perbandingan tahun lalu yang relatif rendah akibat deflasi, sehingga secara statistik kenaikan terlihat lebih besar,” jelasnya.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, penyumbang utama inflasi Januari 2026 secara tahunan di Provinsi Papua Barat berasal dari kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga, dengan andil sebesar 2,70 persen. Kenaikan harga pada kelompok ini terutama dipicu oleh meningkatnya tarif listrik, sewa rumah, serta bahan bakar rumah tangga.
Selain kelompok perumahan, inflasi tahunan juga dipengaruhi oleh kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil sebesar 1,29 persen, disusul kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya sebesar 0,47 persen, kelompok Transportasi sebesar 0,30 persen, serta kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran sebesar 0,23 persen.
Sementara itu, untuk inflasi bulanan Januari 2026, penyumbang utama berasal dari kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil sebesar 0,36 persen. Kenaikan harga pada kelompok ini didorong terutama oleh meningkatnya harga beberapa komoditas hasil laut, yakni ikan tuna, ikan cakalang, dan ikan kakap merah.
Di sisi lain, laju inflasi bulanan tertahan oleh deflasi pada kelompok Transportasi, yang dipicu oleh turunnya tarif angkutan udara, serta penurunan harga beberapa komoditas pangan seperti cabai rawit, tomat, dan bensin.
Berdasarkan wilayah kabupaten/kota IHK di Papua Barat, Manokwari tercatat sebagai daerah dengan inflasi tahunan tertinggi sebesar 5,02 persen, sementara Kabupaten Sorong mencatat inflasi terendah sebesar 3,49 persen. Untuk inflasi bulanan, Manokwari mengalami inflasi sebesar 0,02 persen, sedangkan Kabupaten Sorong justru mengalami deflasi sebesar 0,12 persen.
BPS menilai pola inflasi Papua Barat pada Januari 2026 masih didominasi oleh kenaikan harga kebutuhan dasar, khususnya energi dan perumahan, serta dinamika harga pangan lokal, terutama komoditas ikan yang menjadi konsumsi utama masyarakat pesisir. (pbn)







