Dari Takut Menjadi Asyik, Anak Pegunungan Arfak Diajak Bersahabat dengan Matematika

Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pegunungan Arfak Deny Agustinus Ngutra memberikan arahan kepada siswa dan guru saat pembukaan pelatihan metode GASING di SMP Negeri Sururey, Distrik Sururey, Senin (14/9/2026). (Foto: Dok. Dinas Pendidikan Pegaf)
banner 120x600

Lewat metode GASING, 76 siswa dan 24 guru dari Sururey dan Hingk belajar bersama selama 15 hari untuk memperkuat kemampuan berhitung dan membangun budaya numerasi.

Papuabaratnews.id, Pegunungan Arfak — Bagi sebagian anak, matematika identik dengan deretan angka dan hitungan yang sulit. Perasaan takut salah bahkan bisa muncul sebelum mereka mencoba menyelesaikan soal. Pandangan seperti itulah yang hendak diubah di Pegunungan Arfak.

banner 325x300

Sebanyak 76 siswa bersama 24 guru SD dan SMP dari Distrik Sururey dan Distrik Hingk mulai belajar matematika dengan pendekatan berbeda. Selama 15 hari, mereka diperkenalkan pada metode GASING—akronim dari Gampang, Asyik, dan Menyenangkan—di SMP Negeri Sururey, Distrik Sururey.

Pelatihan yang berlangsung 14–28 September 2026 itu tidak sekadar mengajarkan cara berhitung cepat. Pemerintah Kabupaten Pegunungan Arfak ingin menjadikannya sebagai salah satu jalan untuk memperkuat kemampuan numerasi sekaligus mengubah cara anak memandang matematika.

Plt. Kepala Dinas Pendidikan Pegunungan Arfak, Deny Agustinus Ngutra, mengatakan matematika selama ini kerap dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit, menakutkan, bahkan membosankan. Kondisi tersebut dapat membuat siswa kesulitan memahami konsep matematika dan pada akhirnya memengaruhi kemampuan numerasi mereka.

Padahal, kata Deny, matematika dapat dipelajari dengan cara yang lebih sederhana dan menyenangkan apabila anak mendapatkan pendekatan pembelajaran yang tepat.

Para siswa mengikuti pembukaan pelatihan metode GASING di SMP Negeri Sururey, Kabupaten Pegunungan Arfak, Senin (14/9/2026). (Foto: Dok. Dinas Pendidikan Pegaf)

Metode GASING yang dikembangkan Prof. Yohanes Surya, Ph.D., menurut dia, menawarkan pendekatan tersebut. Anak belajar secara bertahap, dari hal konkret menuju abstrak serta dari materi yang mudah menuju tingkat yang lebih sulit.

Dengan proses itu, siswa diharapkan tidak hanya mampu menyelesaikan hitungan, tetapi juga memahami apa yang mereka kerjakan.

“Metode ini mengajarkan matematika secara langkah demi langkah, dari yang konkret menuju abstrak, dari yang mudah menuju yang lebih sulit, sehingga setiap anak dapat memahami, menguasai, dan bahkan menyukai matematika,” kata Deny saat membuka kegiatan di SMP Negeri Sururey, Senin (14/9/2026).

Guru dan Siswa Belajar Bersama

Pelatihan kali ini menempatkan guru dan siswa dalam satu proses pembelajaran. Sebanyak 24 guru mengikuti kegiatan bersama 76 siswa dari sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di Sururey dan Hingk.

Keterlibatan keduanya menjadi penting karena perubahan pembelajaran tidak berhenti pada kemampuan siswa selama pelatihan. Guru diharapkan menguasai metode yang sama untuk kemudian menerapkannya di ruang kelas masing-masing.

Deny mengatakan penguatan literasi dan numerasi merupakan bagian penting dalam peningkatan mutu pendidikan. Karena itu, penerapan metode GASING ditempatkan sebagai salah satu langkah strategis Dinas Pendidikan Kabupaten Pegunungan Arfak dalam memperkuat kemampuan dasar peserta didik.

Guru, siswa, narasumber, dan jajaran Dinas Pendidikan Kabupaten Pegunungan Arfak berfoto bersama di SMP Negeri Sururey, Senin (14/9/2026). (Foto: Dok. Dinas Pendidikan Pegaf)

Program tersebut juga merupakan bagian dari agenda pemerintah daerah untuk mengakselerasi peningkatan kualitas pendidikan serta kapasitas guru dan peserta didik di Kabupaten Pegunungan Arfak. Dalam dokumen persiapan kegiatan, Dinas Pendidikan bahkan meminta pendataan siswa kelas III–VI SD dan kelas VII–IX SMP serta kondisi sarana pendukung pembelajaran di sekolah-sekolah Sururey dan Hingk.

Pelatihan diarahkan pada empat sasaran. Selain mengubah pola pikir bahwa matematika dapat dipelajari siapa saja dengan menyenangkan, kegiatan ini bertujuan meningkatkan kompetensi guru dalam menerapkan metode GASING, meningkatkan kemampuan numerasi dan mencongak siswa, serta membangun minat dan kepercayaan diri anak dalam belajar matematika.

Bagi Deny, perubahan cara pandang itu sama pentingnya dengan kemampuan berhitung.

Ia berharap setelah mengikuti pelatihan, siswa tidak lagi berhadapan dengan matematika sebagai sesuatu yang harus ditakuti, sedangkan guru mempunyai pendekatan baru untuk membuat pembelajaran lebih mudah diterima anak.

Dampak pelatihan, menurut Deny, tidak boleh berakhir ketika kegiatan selama 15 hari itu selesai.

Para guru diminta membawa pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh kembali ke sekolah. Mereka juga diharapkan membagikan metode tersebut kepada guru lain sehingga manfaat pelatihan dapat menjangkau lebih banyak peserta didik.

“Jadikan metode ini sebagai sarana untuk membangun budaya numerasi yang kuat di seluruh satuan pendidikan di wilayah kita,” ujarnya. (pbn)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *