NTP Papua Barat Turun, Petani Hortikultura Menanggung Tekanan Terberat

Petani mengelola tanaman sayuran di Kampung Iraiweri, Pegunungan Arfak, Papua Barat. Pada Agustus 2026, indeks harga yang diterima petani hortikultura turun 6,08 persen, sedangkan indeks harga yang mereka bayar naik 0,06 persen. (Foto: Dok. Kemendes)
banner 120x600

Nilai Tukar Petani Papua Barat masih bertahan di atas 100. Namun, angka gabungan itu menyembunyikan keadaan petani hortikultura yang menghadapi penurunan harga jual bersamaan dengan kenaikan biaya produksi.

Papuabaratnews.id, Manokwari –- Nilai Tukar Petani Papua Barat pada Agustus 2026 masih berada di atas 100. Namun, angka gabungan tersebut belum menggambarkan keadaan seluruh kelompok petani. Di balik NTP sebesar 101,55, petani hortikultura menghadapi tekanan paling berat karena harga hasil produksi mereka turun ketika biaya yang harus dibayar justru meningkat.

banner 325x300

Badan Pusat Statistik mencatat NTP Papua Barat turun 1,60 persen, dari 103,20 pada Juli 2026 menjadi 101,55 pada Agustus 2026. Penurunan terjadi karena Indeks Harga yang Diterima Petani turun 1,58 persen menjadi 123,08, sedangkan Indeks Harga yang Dibayar Petani naik 0,02 persen menjadi 121,20.

Kepala BPS Papua Barat, Merry, menjelaskan bahwa NTP merupakan perbandingan antara indeks harga yang diterima petani dan indeks harga yang mereka bayar.

“NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi,” kata Merry dalam konferensi pers di Manokwari, Selasa (1/9/2026).

NTP di atas 100 secara umum menunjukkan indeks harga yang diterima petani lebih tinggi daripada indeks harga yang mereka bayar, dibandingkan dengan kondisi pada tahun dasar 2018. Namun, angka tersebut merupakan nilai agregat dari berbagai subsektor. Angka gabungan itu tidak serta-merta berarti semua petani berada dalam kondisi yang baik atau memperoleh keuntungan usaha.

BPS mencatat empat subsektor masih memiliki NTP di atas 100. NTP peternakan menjadi yang tertinggi, yakni 120,48, disusul tanaman perkebunan rakyat 106,42, tanaman pangan 105,29, serta perikanan 104,59.

Keadaan berlawanan terjadi pada subsektor hortikultura. NTP hortikultura turun 6,14 persen, dari 94,09 menjadi 88,31. Penurunan ini menjadi yang terdalam di antara seluruh subsektor pertanian di Papua Barat pada Agustus 2026.

“Penurunan NTP Papua Barat pada Agustus 2026 dipengaruhi oleh turunnya NTP pada satu subsektor, yaitu tanaman hortikultura sebesar 6,14 persen. Sementara subsektor tanaman pangan, tanaman perkebunan rakyat, peternakan, dan perikanan seluruhnya mengalami peningkatan,” ujar Merry.

Harga yang diterima petani merosot Tekanan terhadap petani hortikultura terutama berasal dari penurunan harga hasil produksi. Indeks Harga yang Diterima Petani hortikultura turun 6,08 persen, dari 114,42 pada Juli menjadi 107,47 pada Agustus 2026.

Pada saat bersamaan, Indeks Harga yang Dibayar Petani hortikultura justru naik 0,06 persen, dari 121,61 menjadi 121,69. Pergerakan yang berlawanan tersebut menyebabkan daya tukar petani hortikultura semakin melemah.

“Di Papua Barat pada Agustus 2026 terjadi penurunan NTP hortikultura sebesar 6,14 persen, yaitu dari 94,09 menjadi 88,31. Hal ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani turun 6,08 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar petani meningkat 0,06 persen,” kata Merry.

Penurunan harga yang diterima terutama terjadi pada kelompok sayur-sayuran. Indeks kelompok ini merosot 8,34 persen, dari 122,18 menjadi 111,99. Komoditas yang memengaruhi penurunan tersebut antara lain cabai rawit, tomat, dan cabai merah.

Kelompok buah-buahan juga mengalami penurunan indeks sebesar 0,11 persen, terutama dipengaruhi harga semangka. Sebaliknya, indeks tanaman obat meningkat 4,69 persen.

Merry mengatakan penurunan indeks harga yang diterima petani hortikultura berasal dari kelompok sayur-sayuran, terutama cabai rawit, tomat, dan cabai merah, serta kelompok buah-buahan, terutama semangka.

Penurunan harga komoditas di tingkat konsumen dapat memberikan kelegaan kepada rumah tangga. Namun, bagi petani, kemerosotan harga jual dapat mengurangi penerimaan, terutama apabila hasil panen harus segera dijual karena mudah rusak dan fasilitas penyimpanan terbatas. (pbn)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *