Ekonomi Papua Barat Kian Bertumpu pada Industri Pengolahan

Tangguh LNG di Bintuni, Papua Barat. (Dok bp Indonesia)
banner 120x600

BPS mencatat industri pengolahan tetap menjadi tulang punggung perekonomian dengan kontribusi hampir 40 persen terhadap PDRB dan menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi triwulan II-2026.

Papuabaratnews.id, Manokwari –- Struktur perekonomian Papua Barat semakin bertumpu pada sektor industri pengolahan. Meski ekonomi Papua Barat pada triwulan II-2026 hanya tumbuh 3,41 persen dibanding periode yang sama tahun lalu (year-on-year), industri pengolahan tetap menjadi mesin utama yang menopang aktivitas ekonomi daerah sekaligus penyumbang terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi.

banner 325x300

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Papua Barat, Merry, mengatakan industri pengolahan masih menjadi sektor dengan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Papua Barat.

“Leading sector Papua Barat masih didominasi industri pengolahan, kemudian pertambangan dan penggalian, serta administrasi pemerintahan. Ketiga sektor tersebut masih mencatatkan pertumbuhan positif,” kata Merry saat konferensi pers Berita Resmi Statistik di Manokwari, Rabu (5/8/2026).

Data BPS menunjukkan, industri pengolahan menyumbang 39,86 persen terhadap struktur ekonomi Papua Barat, jauh di atas sektor pertambangan dan penggalian yang berkontribusi 25,60 persen, serta administrasi pemerintahan sebesar 8,47 persen.

Dominasi tersebut semakin terlihat karena sektor industri pengolahan juga menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi Papua Barat pada triwulan II-2026. Dari total pertumbuhan ekonomi sebesar 3,41 persen (y-on-y), industri pengolahan sendiri memberikan andil 1,71 persen, lebih tinggi dibanding pertambangan dan penggalian yang menyumbang 0,78 persen, serta konstruksi sebesar 0,23 persen.

Menurut Merry, meskipun lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi berasal dari sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh 10,22 persen, disusul transportasi dan pergudangan 6,80 persen, serta pengadaan listrik dan gas 6,54 persen, kontribusi ketiga sektor tersebut terhadap keseluruhan perekonomian masih relatif kecil.

“Sebaliknya, industri pengolahan yang tumbuh 3,86 persen justru memiliki pengaruh paling besar karena porsinya yang sangat dominan dalam struktur ekonomi Papua Barat,” jelasnya.

BPS juga mencatat hampir seluruh lapangan usaha di Papua Barat mengalami pertumbuhan positif pada triwulan II-2026, kecuali jasa pendidikan. Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi daerah semakin meluas, meski penggerak utamanya tetap berasal dari sektor-sektor unggulan yang selama ini menjadi basis ekonomi Papua Barat.

Secara keseluruhan, perekonomian Papua Barat pada triwulan II-2026 mencapai Rp21,11 triliun atas dasar harga berlaku dan Rp13,55 triliun atas dasar harga konstan 2010. Dibanding triwulan II-2025, ekonomi Papua Barat tumbuh 3,41 persen, sedangkan secara kumulatif semester I-2026 tumbuh 4,02 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, secara triwulanan (quarter-to-quarter), ekonomi Papua Barat masih mengalami kontraksi tipis sebesar 0,12 persen.

Di sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah menjadi komponen dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 19,57 persen (y-on-y). Meski demikian, dari sisi produksi, BPS menilai industri pengolahan tetap menjadi fondasi utama perekonomian Papua Barat karena tidak hanya memiliki kontribusi terbesar terhadap PDRB, tetapi juga menjadi sumber pertumbuhan ekonomi terbesar pada triwulan II-2026.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa transformasi struktur ekonomi Papua Barat masih bertumpu pada aktivitas hilirisasi dan pengolahan hasil sumber daya alam. Tantangan ke depan adalah menjaga agar sektor industri pengolahan terus tumbuh lebih kuat sehingga mampu menciptakan nilai tambah, memperluas lapangan kerja, dan menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas. (pbn)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *