banner 468x60

Pemkab Pegaf Dorong Keberlanjutan Program Literasi-Numerasi Masuk APBD 2027

FOTO BERSAMA: Para peserta Diseminasi Hasil Studi Pengukuran Akhir (Endline) dan Replikasi Program Literasi-Numerasi Kelas Awal dan PAUD Berkualitas berfoto bersama di sela kegiatan yang berlangsung di Ulong, Kabupaten Pegunungan Arfak, Rabu (4/11/2026). (Foto: Dok. Disdik Pegaf)
banner 120x600

Usai pendampingan UNICEF dan PUSKAMUDA UI, pemerintah daerah berkomitmen melanjutkan sekaligus mereplikasi praktik baik pembelajaran dari 20 SD dan 6 satuan PAUD ke sekolah lainnya.

Papuabaratnews.id, Anggi – Pemerintah Kabupaten Pegunungan Arfak (Pegaf), Papua Barat, mendorong keberlanjutan program literasi-numerasi kelas awal dan pendidikan anak usia dini (PAUD) berkualitas menjadi bagian dari prioritas pembangunan pendidikan daerah pada tahun anggaran 2027.

banner 325x300

Langkah tersebut merupakan upaya pemerintah daerah memastikan berbagai inovasi pembelajaran yang telah dikembangkan melalui pendampingan UNICEF bersama mitranya, PUSKAMUDA Universitas Indonesia, tidak berhenti setelah berakhirnya program kerja sama, tetapi terus dilanjutkan dan diperluas ke sekolah-sekolah lainnya di Pegunungan Arfak.

Komitmen Pemerintah Kabupaten Pegunungan Arfak itu disampaikan Bupati Dominggus Saiba melalui sambutan tertulis yang dibacakan Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan, Deny Agustinus Ngutra, dalam kegiatan Diseminasi Hasil Studi Pengukuran Akhir (Endline) dan Replikasi Program Literasi-Numerasi Kelas Awal dan PAUD Berkualitas di Ulong, Rabu (4/11/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 4–6 November 2026, dengan agenda evaluasi capaian program, pemantauan bersama, dan pembahasan rencana keberlanjutan intervensi pendidikan dasar serta PAUD berkualitas di Pegunungan Arfak.

Dalam sambutannya, Bupati Dominggus menegaskan bahwa berakhirnya pendampingan lembaga mitra pembangunan harus menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk mengambil tanggung jawab lebih besar dalam menjaga keberlanjutan program.

“Berakhirnya pendampingan bukan berarti berakhir pula tanggung jawab kita. Justru mulai saat ini Pemerintah Kabupaten Pegunungan Arfak harus mengambil peran lebih besar untuk melanjutkan, menjaga, dan mengembangkan hasil serta praktik baik program,” tegasnya.

Keberlanjutan Program Diintegrasikan ke APBD 2027

Pemkab Pegunungan Arfak berkomitmen mengintegrasikan keberlanjutan program literasi dan numerasi dasar serta PAUD berkualitas ke dalam dokumen perencanaan dan penganggaran pembangunan daerah.

Integrasi tersebut terutama diarahkan melalui Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), Rencana Kerja (Renja) Dinas Pendidikan, dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2027.

Kebijakan ini dimaksudkan agar berbagai praktik pembelajaran yang telah dikembangkan melalui pendampingan UNICEF dan PUSKAMUDA UI dapat menjadi bagian dari layanan pendidikan daerah secara berkelanjutan.

Menurut Bupati, komitmen keberlanjutan program harus diterjemahkan ke dalam kegiatan yang konkret, indikator capaian yang terukur, pembagian tanggung jawab antarlembaga, serta dukungan pembiayaan yang jelas.

Karena itu, Pemkab Pegaf melalui Bappeda, Dinas Pendidikan, dan perangkat daerah terkait diminta mengawal proses integrasi program tersebut sesuai tugas dan kewenangan masing-masing.

Hasil kegiatan pemantauan bersama atau Joint Monitoring Visit (JMV), studi pengukuran akhir (endline), dan kesepakatan Exit Meeting diharapkan menjadi landasan penyusunan rencana tindak lanjut yang realistis, terukur, dan dapat dipantau pelaksanaannya.

SAMBUTAN BUPATI: Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pegunungan Arfak, Deny Agustinus Ngutra (kiri), membacakan sambutan Bupati Dominggus Saiba dalam kegiatan diseminasi hasil endline program literasi-numerasi dan PAUD berkualitas di Ulong, Rabu (4/11/2026). (Foto: Dok. Disdik Pegaf)

Perluas Praktik Baik dari 20 SD dan 6 PAUD

Program literasi dan numerasi dasar serta PAUD berkualitas yang didukung UNICEF bersama PUSKAMUDA UI selama ini dilaksanakan pada 20 sekolah dasar dan 6 satuan PAUD di Kabupaten Pegunungan Arfak.

Melalui program tersebut, berbagai pendekatan pembelajaran dikembangkan untuk menjawab tantangan pendidikan dasar di wilayah pegunungan, khususnya dalam meningkatkan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung pada anak-anak kelas awal sekolah dasar.

Sejumlah intervensi yang telah dilakukan meliputi pelatihan dan pendampingan guru, penyediaan buku bacaan berjenjang dengan konteks lokal Papua, pengembangan pojok baca, serta penerapan pembelajaran berbasis bunyi dengan memanfaatkan bahasa ibu sebagai jembatan pembelajaran.

Pada jenjang PAUD, program diarahkan pada peningkatan kapasitas pendidik, penyediaan alat permainan edukatif, serta penguatan keterlibatan orang tua dalam mendukung perkembangan dan kesiapan belajar anak.

Pelaksanaan program juga mengintegrasikan pendekatan kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial atau Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI), untuk mendorong layanan pendidikan yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan setiap anak.

Pemkab Pegaf menilai berbagai praktik pembelajaran tersebut relevan dengan karakteristik sosial, budaya, dan geografis daerah. Karena itu, pengalaman dan pendekatan yang telah dikembangkan pada sekolah dampingan diharapkan dapat direplikasi secara bertahap ke sekolah dasar dan satuan PAUD lainnya.

Perluasan program tersebut perlu disertai penguatan kompetensi guru, dukungan kepala sekolah, keterlibatan orang tua, serta koordinasi lintas perangkat daerah dan masyarakat.

Ketidakhadiran Siswa Jadi Perhatian

Selain keberlanjutan program, Pemkab Pegunungan Arfak juga menaruh perhatian terhadap persoalan ketidakhadiran siswa yang dapat memengaruhi keberlangsungan pembelajaran dan pencapaian kemampuan literasi-numerasi dasar.

Dalam sambutannya, Bupati Dominggus menekankan pentingnya memanfaatkan hasil asesmen ketidakhadiran siswa untuk mengidentifikasi berbagai faktor yang menyebabkan anak tidak mengikuti kegiatan belajar secara teratur.

Persoalan tersebut perlu dilihat dalam konteks kondisi geografis dan sosial masyarakat Pegunungan Arfak. Jarak antara rumah dan sekolah, kondisi ekonomi keluarga, kesehatan, kondisi sekolah, hingga faktor sosial budaya dan lingkungan masyarakat dapat memengaruhi tingkat kehadiran siswa.

Karena itu, upaya mengatasi ketidakhadiran siswa tidak dapat hanya dibebankan kepada guru dan kepala sekolah.

Pemkab Pegaf memandang perlu adanya kerja sama antara pemerintah daerah, kepala distrik, kepala kampung, sekolah, orang tua, tokoh agama, tokoh adat, dan seluruh elemen masyarakat untuk memastikan setiap anak memperoleh kesempatan belajar.

“Hasil asesmen ini harus menjadi dasar untuk merumuskan langkah nyata agar setiap anak di Pegunungan Arfak memperoleh haknya atas pendidikan,” demikian penegasan Bupati.

EVALUASI PROGRAM: Para peserta mengikuti kegiatan diseminasi hasil pengukuran akhir program literasi-numerasi kelas awal dan PAUD berkualitas yang didukung UNICEF bersama PUSKAMUDA UI di Kabupaten Pegunungan Arfak, Rabu (4/11/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari evaluasi dan penyusunan rencana keberlanjutan program pendidikan dasar. (Foto: Dok. Disdik Pegaf)

Hasil Endline Jadi Dasar Perbaikan Pendidikan

Pemkab Pegunungan Arfak juga berharap hasil studi pengukuran akhir atau endline dapat dimanfaatkan sebagai dasar evaluasi dan perbaikan kebijakan pendidikan daerah.

Hasil pengukuran tersebut perlu dibandingkan dengan kondisi awal atau baseline untuk melihat perubahan yang terjadi selama pelaksanaan program, sekaligus mengidentifikasi pendekatan pembelajaran yang efektif dan tantangan yang masih dihadapi satuan pendidikan.

Evaluasi program tidak cukup hanya menunjukkan angka capaian, tetapi harus menghasilkan rekomendasi yang dapat diterjemahkan menjadi langkah perbaikan nyata.

Hal ini penting mengingat penyelenggaraan pendidikan di Pegunungan Arfak masih menghadapi tantangan geografis, keterbatasan aksesibilitas, ketersediaan tenaga pendidik, sarana dan prasarana, serta bahan pembelajaran.

Dalam kondisi tersebut, penguatan kemampuan literasi dan numerasi pada kelas awal sekolah dasar menjadi kebutuhan mendasar karena menentukan kesiapan anak mengikuti pembelajaran pada jenjang pendidikan berikutnya.

Demikian pula dengan pendidikan anak usia dini. Layanan PAUD perlu terus diperkuat sebagai fondasi perkembangan bahasa, kemampuan berpikir, sosial-emosional, motorik, dan kesiapan anak memasuki pendidikan dasar.

Pemkab Pegaf menyampaikan apresiasi kepada UNICEF, PUSKAMUDA UI, Pemerintah Provinsi Papua Barat, para pendidik, serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan dan kontribusi terhadap penguatan pendidikan dasar dan PAUD di daerah tersebut.

Pemerintah daerah berharap kerja sama yang telah terbangun dapat menjadi fondasi bagi pengembangan sistem pendidikan yang lebih inklusif, kontekstual, dan berkelanjutan.

“Kita mungkin menghadapi keterbatasan geografis, sarana, dan berbagai tantangan lainnya, tetapi keterbatasan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk membiarkan anak-anak kita tertinggal dalam pendidikan,” tegas Dominggus.

Dengan berakhirnya fase pendampingan UNICEF dan PUSKAMUDA UI, Pemkab Pegaf dihadapkan pada agenda penting untuk memastikan keberlanjutan sekaligus perluasan program.

Komitmen memasukkan program literasi-numerasi dan PAUD berkualitas ke dalam perencanaan serta penganggaran daerah pada 2027 menjadi langkah awal agar inovasi pembelajaran yang telah dikembangkan tidak berhenti pada sekolah percontohan, melainkan dapat menjangkau lebih banyak anak di Pegunungan Arfak. (pbn)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *