Kami mengajak semua masyarakat, terutama pengguna media sosial untuk tidak berspekulasi dengan peristiwa kematian korban.
Papuabaratnews.id, Manokwari –- Kepolisian Daerah Papua Barat mengimbau warganet agar tidak menyebarkan opini liar soal kematian presenter TVRI Papua Barat Yanto Idorway yang hanyut terseret arus sungai di kawasan Air Terjun Memti, Kampung Sisrang, Pegunungan Arfak, pada 18 Juli 2026.
Kepala Bidang Humas Polda Papua Barat Komisaris Besar Polisi Trihadi Kuncahyo, mengatakan warganet atau pengguna media sosial semestinya lebih bijak dalam menyebarluaskan informasi yang berkaitan dengan peristiwa kematian korban.
“Kami mengajak semua masyarakat, terutama pengguna media sosial untuk tidak berspekulasi dengan peristiwa kematian korban,” ujarnya di Manokwari, Selasa (28/7/2026) seperti dikutip Antara.
Saat ini, kata dia, Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokes) Polda Papua Barat sedang menyiapkan segala kebutuhan dalam melaksanakan proses autopsi terhadap jenazah korban sesuai dengan permintaan dari pihak keluarga.
Hal tersebut merupakan upaya kepolisian untuk memastikan penyebab kematian korban secara ilmiah dan akurat, sekaligus memberikan ketenangan bagi keluarga, serta menghindari kesimpangsiuran informasi yang berkembang di tengah masyarakat.
“Keluarga sudah melayangkan surat permintaan autopsi. Kami berharap masyarakat bersabar menunggu hasilnya. Percayakan kepada kepolisian, jangan buat opini sendiri,” tegas Trihadi.
Dirinya juga berpesan kepada seluruh lapisan masyarakat di wilayah Papua Barat agar lebih berhati-hati ketika melakukan perjalanan keluar kota ataupun berwisata ke lokasi dengan tingkat kesulitan geografis yang cukup tinggi.
“Utamakan keselamatan saat beraktivitas di sekitar sungai, air terjun, pantai, atau kawasan berpotensi bahaya lainnya, terutama saat cuaca kurang bersahabat atau debit air meningkat,” pesannya.
Dia menjelaskan, jenazah korban ditemukan oleh Tim SAR gabungan yang terdiri dari personel TNI, Polri, Basarnas, dan masyarakat lokal pada Senin (28/7) sekitar pukul 11.05 WIT dengan jarak kurang lebih 10 meter dari titik awal dilaporkan terpeleset.
Tim gabungan tetap melakukan pencarian terhadap korban meskipun operasi SAR ditutup pada Jumat (24/7) atau selama tujuh hari sesuai standar prosedur, dan dua hari kemudian korban berhasil ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di antara celah bebatuan.
Selama tujuh hari pencarian terhadap korban, tim menghadapi berbagai kendala, seperti cuaca yang cepat berubah, kabut tebal di jalur menuju lokasi, suhu dingin, arus sungai deras, serta bebatuan sungai yang besar dan licin. (pbn)







