banner 468x60 *** banner 468x60 ***

Penyu Menetas di Pantai Wauwo, Bukti Konservasi Berbasis Masyarakat Mulai Pulihkan Ekosistem Pesisir Halmahera

Tim konservasi menunjukkan sejumlah tukik yang berhasil menetas di kawasan konservasi Pantai Wauwo, Desa Mamuya, Kabupaten Halmahera Utara. Sebanyak 20 anak penyu berhasil menetas dari sarang semi alami hasil pengelolaan masyarakat bersama pendamping konservasi. (Dok. PLN UIP MPA)
banner 120x600

Papuabaratnews.id, Halmahera Utara — Upaya konservasi berbasis masyarakat di Pantai Wauwo, Desa Mamuya, Kabupaten Halmahera Utara, mulai menunjukkan hasil menggembirakan. Sebanyak 20 tukik atau anak penyu berhasil menetas dari sarang semi alami yang dikelola masyarakat bersama tim pendamping konservasi.

Keberhasilan tersebut menjadi penanda membaiknya kualitas habitat pesisir yang selama dua tahun terakhir mendapat perhatian melalui program konservasi satwa dan perlindungan kawasan pantai. Menariknya, capaian ini lahir setelah seluruh upaya penetasan telur penyu pada tahun 2025 mengalami kegagalan.

banner 325x300

Warga yang terlibat dalam pengelolaan kawasan konservasi, Garda Multi Gosango dan Sukasimon, mengungkapkan bahwa kegagalan tahun lalu menjadi pelajaran penting dalam pengembangan metode konservasi yang lebih sesuai dengan kondisi alami habitat penyu.

Hasil evaluasi menunjukkan lokasi penanaman telur sebelumnya berada terlalu jauh dari area peneluran alami. Perbedaan karakter pasir dan kondisi lingkungan diduga menjadi penyebab telur gagal menetas.

Setelah melakukan penyesuaian lokasi yang lebih mendekati habitat alami penyu, hasil positif mulai terlihat. Pada 13 Mei 2026, sebanyak 20 telur berhasil menetas, sementara sekitar 200 butir telur lainnya masih dalam proses inkubasi.

Salah seorang anggota tim konservasi memeriksa kondisi tukik sebelum dilepasliarkan. Keberhasilan penetasan ini menjadi indikator membaiknya kualitas habitat pesisir yang selama ini dilindungi melalui program konservasi berbasis masyarakat. (Dok. PLN UIP MPA)

Keberhasilan tersebut tidak hanya menjadi kabar baik bagi pelestarian penyu, tetapi juga memperlihatkan dampak lanjutan dari program konservasi yang telah dijalankan di Pantai Wauwo sejak 2024.

Awalnya, kawasan ini dikenal sebagai lokasi konservasi Burung Gosong Maluku atau Mamoa (Eulipoa wallacei), satwa endemik Maluku yang memanfaatkan panas pasir pantai untuk menetaskan telurnya. Melalui kolaborasi masyarakat, akademisi, dan dukungan PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Maluku dan Papua (UIP MPA), kawasan bertelur Mamoa seluas sekitar 14.400 meter persegi mulai ditata dan dilindungi dari berbagai ancaman.

Hasilnya cukup signifikan. Hingga saat ini sekitar 400 telur Mamoa berhasil ditetaskan secara semi alami dan anak-anak burung tersebut telah dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Kawasan konservasi juga berkembang menjadi ruang edukasi lingkungan bagi pelajar, mahasiswa, peneliti, dan masyarakat umum.

Ketua Tim Konservasi Burung Mamoa Program Studi Kehutanan Universitas Halmahera, Fiktor Imanuel Boleu, menilai keberhasilan penetasan telur penyu merupakan indikator positif bahwa kondisi ekosistem pesisir di Pantai Wauwo semakin membaik.

Menurutnya, perlindungan habitat yang dilakukan secara berkelanjutan mulai memberikan dampak nyata bagi berbagai satwa yang memanfaatkan kawasan pantai tersebut sebagai habitat dan lokasi berkembang biak.

“Keberhasilan menetasnya telur penyu merupakan kabar baik bagi konservasi satwa pesisir di Pantai Wauwo. Ini menunjukkan bahwa upaya perlindungan habitat yang dilakukan secara berkelanjutan mulai memberikan dampak positif terhadap kondisi ekosistem pantai,” ujarnya.

Sejumlah tukik yang berhasil menetas di Pantai Wauwo, Halmahera Utara. Selain menjadi habitat Burung Gosong Maluku (Mamoa), kawasan konservasi ini kini mulai menunjukkan manfaat ekologis bagi satwa pesisir lainnya, termasuk penyu. (Dok. PLN UIP MPA)

Sementara itu, General Manager PLN UIP MPA, Raja Muda Siregar, mengatakan keberhasilan penetasan tukik menunjukkan bahwa konservasi yang dibangun melalui kolaborasi antara masyarakat, akademisi, dan dunia usaha mampu menghasilkan dampak nyata bagi lingkungan.

Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah satwa yang berhasil diselamatkan, tetapi juga dari meningkatnya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan dan keberlanjutan ekosistem.

Ia menambahkan bahwa Program Konservasi Mamoa di Desa Mamuya kini berkembang menjadi model pengelolaan kawasan konservasi berbasis masyarakat yang tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga mendukung pendidikan lingkungan dan pemberdayaan sosial masyarakat setempat.

Bagi masyarakat Desa Mamuya, kemunculan puluhan tukik yang bergerak menuju laut bukan sekadar peristiwa alam biasa. Peristiwa itu menjadi simbol harapan bahwa upaya menjaga lingkungan secara konsisten dapat menghadirkan perubahan nyata bagi masa depan ekosistem pesisir Halmahera Utara. (pbn)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *