Papuabaratnews.id, Kabupaten Jayapura — Di tengah anggapan bahwa sektor pertanian kurang diminati generasi muda, kisah Marten Luter Norotouw justru menjadi bukti sebaliknya. Pemuda asal Kampung Waibron, Distrik Sentani Barat, Kabupaten Jayapura ini berhasil bertransformasi dari nakhoda kapal menjadi penggerak pertanian yang berdampak luas bagi masyarakat.
Marten, lulusan SMK Pelayaran Jayapura, sebelumnya bekerja sebagai nakhoda kapal feri dengan rute Biak–Manokwari. Namun pada 2010, hidupnya berubah ketika ia memutuskan pulang ke kampung halaman setelah ibunya jatuh sakit.
Keputusan itu sekaligus menempatkannya sebagai tulang punggung keluarga bagi enam orang adiknya. Di tengah keterbatasan, Marten melihat peluang dari lahan tidur milik keluarga seluas satu hektare. Ia pun mulai mengembangkan pertanian hortikultura dengan menanam berbagai komoditas seperti sawi, kangkung, bayam, kol, dan cabai.
“Awalnya saya hanya mencoba untuk bertahan hidup. Tapi ternyata hasilnya di luar dugaan, permintaan dari warga kampung cukup tinggi sampai saya kewalahan memenuhinya,” ungkap Marten.

Perlahan, usahanya berkembang. Tak hanya meningkatkan ekonomi keluarga, keberhasilan Marten juga menarik minat warga sekitar untuk ikut bertani. Dari hanya tiga orang di awal, kini sekitar 50 orang terlibat aktif dalam kegiatan pertanian di wilayah tersebut.
Atas dedikasinya, Marten kini dipercaya sebagai Ketua Kelompok Tani Pelita Jaya Makmur. Di bawah kepemimpinannya, kelompok tani ini berkembang menjadi salah satu motor penggerak pertanian lokal di Kampung Waibron.
Dalam beberapa tahun terakhir, dukungan dari berbagai pihak mulai mengalir. Bantuan sarana dan prasarana seperti sprinkler, cultivator, tangki semprot, hingga benih diberikan untuk menunjang produktivitas. Selain itu, pelatihan dan workshop juga rutin dilakukan guna meningkatkan kapasitas petani.
Keberhasilan tersebut turut memicu efek positif di wilayah sekitar. Marten kini kerap diundang untuk berbagi pengalaman kepada masyarakat di kampung lain. Ia pun memiliki visi besar menjadikan Waibron sebagai sentra produksi bawang merah di masa depan.
“Saya ingin Waibron ke depan dikenal sebagai lumbung bawang merah. Potensinya sangat besar jika dikelola bersama,” ujarnya.

Tak hanya fokus pada produksi, Marten juga mendorong edukasi pertanian sejak dini. Kebunnya kerap menjadi lokasi pembelajaran bagi berbagai kalangan, mulai dari anak-anak PAUD hingga mahasiswa.
Menurutnya, pengenalan pertanian sejak usia dini penting untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap sektor ini.
Sebagai bentuk komitmen jangka panjang, Marten berencana membangun perpustakaan pertanian yang dapat diakses masyarakat. Fasilitas tersebut diharapkan menjadi pusat literasi sekaligus ruang belajar bagi generasi muda di kampungnya.
Selain itu, posisi Kampung Waibron yang berada di jalur wisata juga menjadi peluang ekonomi tersendiri. Marten mendorong masyarakat memanfaatkan potensi tersebut dengan menjual hasil pertanian seperti sayur dan buah segar kepada para pelintas.
Kisah Marten Norotouw menjadi gambaran bahwa pertanian tidak hanya mampu menopang ekonomi keluarga, tetapi juga dapat menjadi jalan membangun kemandirian pangan dan menggerakkan masyarakat secara kolektif. (pbn)


***
***





