Pers, Kepala Daerah, dan Komunitas Budaya didorong memperkuat pembangunan berbasis identitas lokal
Papuabaratnews.id, Jakarta –- Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat menggelar Silaturahmi dan Presentasi Anugerah Kebudayaan bagi wartawan bersama komunitas serta para bupati dan wali kota di Hall Dewan Pers, Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Kegiatan ini menjadi salah satu tahapan penting menjelang penyerahan Trofi Abyakta pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang akan digelar di Banten pada 9 Februari 2026.
Acara dibuka dengan pertunjukan seni budaya Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang dipimpin langsung oleh Bupati Manggarai, Heribertus Geradus Laju Nabit. Nuansa kebhinekaan semakin terasa ketika seluruh peserta berdiri dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Direktur Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat, Yusuf Susilo Hartono, menegaskan bahwa pers memiliki peran strategis yang melampaui fungsi kontrol sosial di bidang politik dan ekonomi, yakni sebagai penjaga dan penggerak keberlanjutan kebudayaan nasional.
“Pembangunan kebudayaan harus dimulai dari daerah. Karena itu, silaturahmi dan presentasi ini menjadi penting. Proposal tertulis saja tidak cukup untuk menggambarkan dinamika budaya daerah. Kemajuan budaya daerah akan sangat menentukan arah kebudayaan nasional,” ujar Yusuf.
Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, dalam sambutan yang dibacakan Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat, Atal S. Depari, menekankan bahwa Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI bukan sekadar ajang seremoni, melainkan pengakuan moral dan historis terhadap peran kebudayaan sebagai jiwa bangsa.
“Anugerah ini adalah bentuk apresiasi kepada para insan budaya dan pemimpin daerah yang konsisten menjaga identitas Indonesia di tengah arus perubahan zaman,” kata Atal.
Ia menambahkan, kekuatan utama Indonesia tidak hanya bertumpu pada ekonomi, geopolitik, maupun demografi, melainkan pada kekayaan budaya yang telah diakui dunia internasional, termasuk oleh UNESCO.
“Dengan ribuan bahasa dan ragam tradisi, pembangunan yang berlandaskan kebudayaan adalah sebuah keharusan. Tanpa kebudayaan, pembangunan akan kehilangan arah, makna, dan identitas,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Pers, Totok Suryanto, menilai wartawan memiliki kedekatan historis dan profesional dengan kebudayaan melalui tugas pencatatan peristiwa, tradisi, dan dinamika sosial masyarakat.
“Wartawan mencatat sejarah dan budaya. Dari catatan itulah nilai-nilai budaya dapat terus hidup. Karena itu, para pemimpin daerah diharapkan mampu menempatkan diri sebagai pelindung dan penyelamat kebudayaan yang kini mulai tergerus,” ujarnya.
Menurut Totok, keberhasilan seorang wali kota, bupati, atau gubernur tidak hanya diukur dari capaian pembangunan fisik, tetapi juga dari komitmennya melindungi dan melestarikan kebudayaan daerah selama masa kepemimpinannya.
“Jika suatu daerah didominasi budaya asing, mulai dari makanan hingga pola interaksi sosial, maka budaya lokal bisa hilang dan hanya tersisa kenangan. Di sinilah pers harus hadir sebagai penjaga ingatan, pejuang, sekaligus tonggak kebudayaan bangsa,” katanya.
Usai kegiatan silaturahmi, sebanyak 10 kepala daerah dijadwalkan mengikuti presentasi Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat pada Jumat (9/1/2026).
Peserta terdiri atas tiga wali kota, yakni Wali Kota Malang, Jawa Timur, Wahyu Hidayat; Wali Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Andi Harun; serta Wali Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Mohan Roliskana.
Sementara tujuh bupati yang mengikuti presentasi adalah Bupati Lampung Utara, Lampung, Hamartoni Ahadis; Bupati Temanggung, Jawa Tengah, Agus Setiawan; Bupati Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Heribertus Geradus Laju Nabit; Bupati Blora, Jawa Tengah, Arief Rohman; Bupati Labuhanbatu, Sumatera Utara, Maya Hasmita; Bupati Manokwari, Papua Barat, Hermus Indou; serta Bupati Padang Pariaman, Sumatera Barat, John Kenedy Azis. (pbn)


***
***





