Berita  

Wisata dan Aktivitas Nelayan Ancam Kelestarian Hiu Paus di Perairan Papua

Nelayan memberikan sebagian hasil tangkapannya untuk makanan hiu Paus (Rhincodon typus) dari atas bagan di perairan Kwatisore, Distrik Yaur, Kabupaten Nabire, Papua. (Kompas/Ferganata Indra Riatmoko)
banner 120x600

Papuabratnews.id, Manokwari — Aktivitas wisata bahari dan kegiatan nelayan di wilayah perairan Papua mulai mengancam kelestarian hiu paus (Rhincodon typus). Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan sebagian besar hiu paus di kawasan ini mengalami luka akibat interaksi dengan aktivitas manusia.

Kawasan perairan di wilayah “kepala burung” Pulau Papua, seperti Teluk Cenderawasih dan Kaimana, telah lama dikenal sebagai habitat alami hiu paus. Namun, peningkatan aktivitas wisata dan perikanan dalam beberapa tahun terakhir menimbulkan tekanan serius terhadap populasi megafauna laut tersebut.

banner 325x300

Sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Marine Science pada Agustus 2025 mengungkap, dari lebih 200 hiu paus yang teridentifikasi di Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) dan perairan Kaimana, sekitar 77 persen di antaranya mengalami luka akibat ulah manusia. Luka tersebut ditemukan di bagian mulut, kepala, sirip, hingga ekor.

Luka akibat tali pancing dan perahu

Di kawasan Kwatisore, Distrik Yaur, Kabupaten Nabire — lokasi utama pengamatan hiu paus di TNTC — tercatat ada 213 ekor hiu paus hingga Oktober 2025, meningkat dari 203 ekor pada Juli 2024.

Markus Apaseray (30), polisi hutan TNTC, mengatakan luka paling sering ditemukan di sekitar mulut hiu paus. “Kemungkinan besar luka itu akibat gesekan tali nilon yang digunakan nelayan untuk memancing ikan berukuran besar,” ujar Markus, dikutip dari Kompas.id, Selasa (28/10/2025).

Menurut Markus, aktivitas nelayan dan wisatawan memang perlu mendapat pengawasan ketat. Kawasan Kwatisore menjadi destinasi favorit wisata pengamatan hiu paus, di mana wisatawan biasanya menyaksikan langsung dari bagan atau perahu tangkap tradisional nelayan. Ikan-ikan kecil yang dilempar ke laut kerap memancing kemunculan hiu paus.

“Kami selalu memberikan edukasi kepada nelayan dan pemandu wisata agar tidak melakukan aktivitas yang membahayakan hiu paus, termasuk larangan memancing saat wisatawan datang,” ujarnya.

Namun, Markus menambahkan, pergerakan hiu paus sulit diprediksi. Aktivitas nelayan malam hari sering kali tidak menyadari keberadaan hiu paus di sekitar bagan, sehingga tali pancing bisa tersangkut di tubuh atau mulut hewan raksasa itu dan menimbulkan luka.

Hiu paus mendatangi bagan nelayan di perairan Kwatisore, Distrik Yaur, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, Jumat (7/6/2024). (Kompas/Nasrun Katingka)

Hasil penelitian: luka akibat aktivitas manusia

Penelitian gabungan para ilmuwan dari Indonesia, Australia, dan Selandia Baru menemukan, dari 268 hiu paus yang diamati di perairan Papua sejak 2010 hingga 2023, 206 ekor mengalami luka atau bekas cedera. Sebagian besar luka diduga disebabkan oleh tabrakan perahu, terjerat alat tangkap, atau gesekan dengan rangka bagan penangkapan ikan.

“Kami menemukan sebagian besar cedera berasal dari penyebab antropogenik seperti tabrakan dan jeratan alat tangkap,” kata Edy Setyawan dari Elasmobranch Institute Indonesia, dikutip dari Frontiersin.org.

Edy menegaskan, kawasan kepala burung Papua merupakan salah satu habitat penting hiu paus, dengan sekitar 90 persen individu yang teridentifikasi berjenis kelamin jantan. Di sisi lain, kawasan ini juga menjadi pusat pertumbuhan ekonomi lokal melalui wisata bahari, sehingga diperlukan keseimbangan antara konservasi dan aktivitas ekonomi.

Secara global, populasi hiu paus menurun drastis hingga lebih dari 50 persen dalam 75 tahun terakhir, dan mencapai 63 persen di kawasan Indo-Pasifik.

Langkah mitigasi dan edukasi

Upaya perlindungan hiu paus terus dilakukan oleh Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC). Salah satu langkahnya adalah bekerja sama dengan Pertamina Foundation untuk mengembangkan program konservasi berkelanjutan, termasuk penggunaan metode tagging ramah lingkungan guna memantau pergerakan hiu paus tanpa melukai tubuhnya.

“Petugas di lapangan secara rutin mengunjungi bagan untuk mengingatkan nelayan agar tidak membuang sampah plastik dan mematuhi aturan interaksi dengan hiu paus,” kata Sumaryono Pardi, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Yeretuar, BBTNTC.

Sementara itu, Konservasi Indonesia melalui program Focal Species Conservation tengah menyusun rekomendasi peraturan bagi pengelola kawasan konservasi laut, agar dilakukan modifikasi pada bagan untuk mengurangi potensi cedera pada hiu paus.

“Kami mendorong penghapusan tepi tajam pada cadik perahu dan rangka jaring. Modifikasi sederhana ini diyakini dapat menekan dampak buruk bagi hiu paus,” ujar Mochamad Iqbal Herwata Putra, Senior Manager Focal Species Conservation Program Konservasi Indonesia.

Upaya bersama antara pemerintah, peneliti, dan masyarakat pesisir diharapkan mampu memastikan keberlanjutan populasi hiu paus — ikon megafauna laut yang menjadi kebanggaan sekaligus penopang ekonomi ekowisata di perairan Papua. (pbn/kom)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *