banner 468x60 *** banner 468x60 ***

Inflasi Papua Barat Daya Desember 2025 Terkendali di 2,15 Persen, BPS Soroti Peran Pangan

Kepala BPS Provinsi Papua Barat, Merry, menyampaikan paparan inflasi Papua Barat Daya pada Desember 2025 dalam konferensi pers di Kantor BPS Provinsi Papua Barat, Manokwari, Senin (5/1/2026). (Papuabaratnews.id/Sam Sirken)
banner 120x600

Harga cabai rawit, beras, dan ikan jadi pendorong utama inflasi tahunan di Papua Barat Daya.

Papuabaratnews.id, Manokwari –- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Papua Barat mengalami inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) sebesar 2,15 persen pada Desember 2025, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 107,62. Capaian ini masih berada dalam rentang target inflasi nasional tahun 2025 sebesar 2,5±1 persen.

banner 325x300

Inflasi tertinggi terjadi di Kota Sorong sebesar 2,27 persen dengan IHK 107,59, sementara inflasi terendah tercatat di Kabupaten Sorong Selatan sebesar 1,76 persen dengan IHK 111,70. Seluruh kota dan kabupaten IHK di Papua Barat Daya tercatat mengalami inflasi tahunan.

Selain inflasi tahunan, Papua Barat Daya pada Desember 2025 juga mengalami inflasi bulanan atau month to month (m-to-m) sebesar 0,65 persen serta inflasi tahun kalender atau year to date (y-to-d) sebesar 2,15 persen. BPS mencatat kondisi inflasi bulanan tersebut berbanding terbalik dibandingkan bulan sebelumnya dan periode yang sama tahun lalu, yang sempat mengalami deflasi.

Kepala BPS Provinsi Papua Barat, Merry, dalam konferensi pers di Manokwari, Senin (5/1/2026), menjelaskan bahwa inflasi tahunan Papua Barat Daya terutama dipicu oleh kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran strategis.

“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi tahunan dengan andil sebesar 1,29 persen,” ujarnya.

Secara rinci, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 3,18 persen. Disusul kelompok transportasi sebesar 2,71 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 4,50 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,59 persen, kesehatan sebesar 1,84 persen, pendidikan sebesar 1,53 persen, serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,74 persen.

Sementara itu, dua kelompok pengeluaran mengalami penurunan indeks, yakni pakaian dan alas kaki yang terkontraksi 0,56 persen, serta perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga yang turun 0,37 persen.

Untuk inflasi bulanan (m-to-m), kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,50 persen. Namun, pada saat yang sama, beberapa komoditas di kelompok ini justru menahan laju inflasi, di antaranya cabai rawit, bawang merah, dan cabai merah yang berkontribusi terhadap tekanan deflasi.

“Adapun secara tahunan, komoditas yang paling dominan menyumbang inflasi Papua Barat Daya antara lain cabai rawit, ikan kembung, dan beras,” sebutnya.

Selain itu, BPS mengingatkan sejumlah komoditas yang kerap memicu inflasi sepanjang tahun kalender dan perlu diwaspadai, seperti minyak goreng, daging ayam ras, cabai merah, bawang merah, bayam, penyegar ruangan, kontrak rumah, emas perhiasan, serta sigaret kretek mesin (SKM).

“Secara umum, inflasi Papua Barat Daya masih terkendali dan berada dalam target. Namun stabilitas harga pangan tetap menjadi perhatian utama, terutama menjelang periode-periode dengan permintaan tinggi,” kata Merry. (pbn)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *