Produksi Gas Turun, Pertumbuhan Ekonomi Papua Barat pun Terkontraksi

Pekerja melakukan aktivitas di area fasilitas pencairan gas alam di Tangguh LNG di Teluk Bintuni, Papua Barat. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
banner 120x600

Papuabaratnews.id, Manokwari – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua Barat mencatat perekonomian Papua Barat pada triwulan III tahun 2025 mengalami kontraksi sebesar 0,13 persen (year-on-year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menandai perlambatan tajam setelah pada triwulan III tahun 2024 ekonomi Papua Barat sempat tumbuh tinggi mencapai 28,94 persen (yoy).

Kepala BPS Provinsi Papua Barat, Merry, menjelaskan bahwa kontraksi ekonomi ini terutama disebabkan oleh penurunan produksi gas alam cair (LNG) di wilayah tersebut.

banner 325x300

“Lapangan usaha pertambangan dan penggalian yang menjadi motor utama ekonomi Papua Barat mengalami kontraksi sebesar 3,28 persen, dan industri pengolahan turun 0,70 persen. Keduanya sangat dipengaruhi oleh turunnya produksi gas alam cair,” ujar Merry dalam rilis Berita Resmi Statistik di Manokwari, Rabu (5/11/2025).

Data BPS menunjukkan, sektor pertambangan dan penggalian menjadi sumber kontraksi terdalam terhadap pertumbuhan ekonomi Papua Barat pada triwulan III-2025, yakni sebesar 0,83 persen, disusul sektor industri pengolahan sebesar 0,31 persen.

Sebaliknya, pertumbuhan tertinggi dicatatkan oleh lapangan usaha transportasi dan pergudangan 9,67 persen, administrasi pemerintahan 7,97 persen, dan penyediaan akomodasi dan makan minum 6,66 persen.

Dari sisi pengeluaran, komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga (PK-RT) menjadi penopang utama pertumbuhan dengan kenaikan 5,75 persen, diikuti pengeluaran konsumsi lembaga nonprofit (PK-LNPRT) sebesar 5,21 persen, dan pengeluaran konsumsi pemerintah (PK-P) yang tumbuh tipis 0,15 persen. Sebaliknya, komponen ekspor barang dan jasa turun tajam 9,40 persen, dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) juga mengalami penurunan 1,10 persen.

Produksi LNG Menurun Akibat Perawatan Fasilitas

Penurunan produksi LNG menjadi faktor utama pelemahan ekonomi Papua Barat. Sumber utama produksi gas Papua Barat berasal dari fasilitas Tangguh LNG yang dioperasikan oleh BP Berau Ltd. Setelah pengoperasian Train-3, kapasitas produksi Tangguh meningkat hingga sekitar 11,4 juta ton per tahun (mtpa), dengan target produksi sekitar 180 kargo LNG sepanjang tahun 2025.

Namun pada pertengahan 2025, pihak BP melaksanakan kegiatan perawatan atau turnaround pada salah satu train, yang berdampak pada penurunan produksi sekitar 10 kargo LNG dari target tahunan. Aktivitas pemeliharaan tersebut dilaporkan berlangsung selama triwulan III-2025, sehingga berpengaruh terhadap volume produksi dan ekspor LNG dari wilayah Papua Barat.

Laporan industri juga menunjukkan bahwa ekspor LNG Indonesia secara nasional diperkirakan turun menjadi sekitar 150 kargo pada 2025, menandakan tekanan pasokan dari lapangan-lapangan utama, termasuk Tangguh di Papua Barat. Situasi ini turut menekan nilai ekspor barang dan jasa yang menurut BPS menyumbang kontraksi tertinggi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Papua Barat pada periode tersebut.

“Penurunan ekspor LNG yang signifikan pada triwulan ketiga menjadi salah satu faktor utama turunnya kinerja ekonomi Papua Barat,” kata Merry.

Ia menambahkan bahwa ketergantungan ekonomi daerah pada sektor migas menjadikan pertumbuhan ekonomi Papua Barat sangat sensitif terhadap fluktuasi produksi gas.

Struktur Ekonomi Masih Didominasi Sektor Migas

Secara struktural, industri pengolahan masih menjadi penyumbang terbesar perekonomian Papua Barat dengan kontribusi 39,71 persen, disusul oleh pertambangan dan penggalian 25,56 persen, administrasi pemerintahan 8,63 persen, dan konstruksi 7,72 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa tetap mendominasi dengan kontribusi 82,30 persen terhadap PDRB.

Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Papua Barat atas dasar harga berlaku pada triwulan III-2025 tercatat mencapai Rp20,39 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp13,14 triliun.

Secara triwulanan (quarter-to-quarter/q-to-q), ekonomi Papua Barat masih tumbuh 0,28 persen dibandingkan triwulan II-2025, dengan pertumbuhan tertinggi pada lapangan usaha jasa keuangan dan asuransi sebesar 5,45 persen serta peningkatan pengeluaran konsumsi pemerintah hingga 14,39 persen. Namun secara tahunan, tren penurunan ekspor LNG membuat kinerja ekonomi daerah ini tetap tertekan.

Adapun secara kumulatif (cumulative-to-cumulative/c-to-c), ekonomi Papua Barat selama Januari–September 2025 masih tumbuh positif 7,07 persen, didorong oleh pertumbuhan lapangan usaha industri pengolahan sebesar 10,23 persen dan komponen ekspor barang dan jasa sebesar 9,14 persen.

Secara spasial, di antara provinsi-provinsi di Maluku dan Papua, hanya Papua Barat yang mengalami kontraksi ekonomi pada triwulan III-2025 sebesar 0,13 persen (yoy). Sebaliknya, Maluku Utara mencatat pertumbuhan tertinggi mencapai 39,10 persen, diikuti Papua (4,21 persen) dan Papua Pegunungan (4,35 persen).

“Kontraksi yang terjadi di Papua Barat menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah untuk memperhatikan kembali ketergantungan ekonomi pada sektor migas. Diperlukan diversifikasi ekonomi yang lebih kuat agar pertumbuhan tidak mudah tertekan saat produksi gas menurun,” ujar Merry. (pbn)

 

Catatan Redaksi:

Data produksi LNG di atas bersumber dari laporan industri dan publikasi perusahaan (BP Berau Ltd.) serta proyeksi SKK Migas untuk tahun 2025. Hingga saat ini, tidak tersedia data volume produksi LNG per triwulan (Q3-2025) yang dipublikasikan secara resmi untuk wilayah Papua Barat.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *