Kasus keracunan makan bergizi gratis meluas. Data korban keracunan BGN lebih kecil dari data lembaga independen.
Papuabaratnews.id, Jakarta – Kepanikan melanda Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 277 Jakarta pada Senin pagi (8/9/2025). Puluhan murid sekolah yang berada di Kecamatan Koja, Jakarta Utara, itu keracunan setelah menyantap menu makan bergizi gratis (MBG). Para guru pun mengumumkan peristiwa itu ke semua kelas.
“Kami diminta jangan memakan buah yang busuk,” kata Bernard—bukan nama sebenarnya—murid kelas IX SMPN 277 pada Jumat (26/9/2025), seperti dikutip dari Tempo.
Seorang murid kelas IX lain juga membenarkan kabar soal peristiwa keracunan di sekolahnya. Begitu pun seorang pejabat Dinas Kesehatan Jakarta.
Murid yang keracunan dilarikan ke unit kesehatan sekolah dan pusat kesehatan masyarakat.
Asisten lapangan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Koja, Arnold Sitepu, menuturkan, dapur tempatnya bekerja berhenti beroperasi selama sepekan akibat kasus keracunan itu. “Setelah itu, kami mengganti makanan masak menjadi biskuit,” ujar Arnold.
Pada Senin (29/9/2025), dapur SPPG Koja mulai ngebul lagi. Setiap hari mereka memasak 3.600 porsi.
Diketahui 79 murid dari sejumlah sekolah di kawasan Koja keracunan setelah menyantap sajian MBG. Jumlah ini jauh lebih tinggi ketimbang data BGN, yaitu 14 kasus di SPPG Koja. Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara Ika Dewi Subandiyah enggan berkomentar soal kasus keracunan di Koja.
Gejala keracunan para murid beragam. Mereka mengalami sakit kepala, sakit perut, muntah, hingga sering buang air besar. Di dalam dokumen itu juga tertulis peristiwa keracunan ini dilaporkan sebagai kejadian luar biasa.
Hasil pemeriksaan mikrobiologi, yang termuat dalam dokumen tertanggal 17 September 2025, menunjukkan lauk yang disantap para murid mengandung bakteri dan jamur. Pada menu egg roll, jamur enoki goreng, dan selada ditemukan bakteri Escherichia coli, Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus yang melebihi batas aman. Pada makanan itu juga terdapat jamur Candida albicans.

Ketua Riset dan Kebijakan Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives Olivia Herlinda menuturkan, temuan bakteri dan jamur pada makanan menunjukkan pembuatan sajian makan bergizi gratis tak sehat.
“Proses memasaknya tak higienis dan makanan sudah basi,” ucapnya pada Kamis (25/9/2025).
Badan Gizi Nasional baru mengumumkan ada 5.914 korban keracunan di sejumlah daerah, termasuk di Koja, pada Kamis, 25 September 2025. Wakil Ketua Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat, yang salah satu lingkup tugasnya di bidang kesehatan, Charles Honoris, mencurigai BGN menyembunyikan kebenaran data keracunan MBG.
“Kami meminta BGN membuka data yang sebenarnya,” ujar politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini pada Kamis (25/9/2025).
Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji sependapat dengan Charles. Riset JPPI menunjukkan, sejak proyek MBG dimulai pada awal tahun ini hingga Kamis (25/9/2025), hampir 8.000 siswa keracunan MBG. Jumlah itu jauh lebih tinggi ketimbang data yang dirilis BGN.
Menurut Ubaid, salah satu kasus keracunan yang parah terjadi di kawasan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, sejak Senin (22/9/2025).
“Bertambah cepat dari ratusan menjadi seribuan kasus dalam tiga hari,” katanya. Total ada 1.308 siswa yang keracunan MBG di Cipongkor.
Hingga Jumat malam (26/9/2025), puluhan murid di Cipongkor masih dirawat. Mereka berbaring di atas tempat tidur lipat yang dijejerkan di aula Kecamatan Cipongkor. Keluhan para korban keracunan hampir sama dengan kasus di Koja: sakit kepala, sesak napas, mual, dan muntah-muntah. Makanan itu berasal dari dua SPPG yang dikelola Yayasan Rajib Putra Barokah.
Kepala Puskesmas Cipongkor Yuyun Sarihotimah menyatakan kewalahan menerima murid yang keracunan. Karena itu, ia meminta bantuan Tentara Nasional Indonesia dan badan penanggulangan bencana daerah untuk menyiapkan ratusan tempat tidur darurat.
“Beberapa pasien kami rujuk ke rumah sakit terdekat karena kami kewalahan,” tuturnya.
Ai Nuraeni salah satu korban keracunan karena memakan lauk daging ayam dari MBG pada Senin (22/9/2025). Perempuan 15 tahun itu sebetulnya sudah diperbolehkan pulang malam tersebut. Tapi, empat hari kemudian atau pada Jumat (26/9/2025), ia kembali dirawat. “Mual dan sesak lagi,” ujar Ai pada Jumat (26/9/2025).

Keracunan MBG pun terjadi di Cianjur dan Sukabumi, Jawa Barat, serta Kupang, Nusa Tenggara Timur. Kornelia, orang tua murid di Sekolah Dasar Inpres Liliba, Kupang, bercerita bahwa anaknya, Theresia Talan, keracunan karena meminum susu yang warnanya menguning dan terdapat ulat. Murid kelas V itu memilih minum susu karena ogah memakan lauk yang sudah bau.
Theresia sempat dirawat selama dua hari di Rumah Sakit Umum Leona Kupang. Menurut Kornelia, anaknya mengalami trauma saat melihat perawat membawa makanan yang wadahnya mirip ompreng MBG. “Anak saya menangis, trauma, dan tak mau makan,” ucapnya.
Kornelia menuturkan, ia dan sejumlah orang tua murid lain tak mau anak mereka mengkonsumsi sajian MBG lagi.
Kelompok masyarakat sipil dan ahli hukum menyatakan masyarakat bisa mengajukan upaya hukum atas kasus keracunan MBG. Misalnya menggugat Badan Gizi Nasional secara perdata karena kasus keracunan terjadi akibat kelalaian, menggugat secara kolektif dan meminta ganti rugi kepada negara, hingga membatalkan kebijakan MBG melalui pengadilan tata usaha negara.
“Hak masyarakat atas kesehatan dan rasa aman terancam akibat kebijakan MBG,” kata Wakil Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia Arif Maulana.
Wakil Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang meminta maaf atas peristiwa ribuan anak keracunan MBG. “Berjanji tidak akan terjadi lagi,” ujarnya pada Jumat (26/9/20205). (tem)


***
***





