Sekitar 168 paguyuban, sanggar seni, dan kelompok suku asli Papua berpartisipasi. Keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam pelestarian budaya.
Papuabaratnews.id, Manokwari – Pawai budaya memperingati HUT ke-27 Provinsi Papua Barat menjadi ruang perjumpaan beragam suku dan tradisi di Manokwari, Rabu (28/10/2026). Kegiatan tersebut membawa pesan kerukunan sekaligus mengajak generasi muda menjaga kekayaan budaya.
Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan mengatakan, keterlibatan masyarakat yang menampilkan adat Papua dan budaya berbagai suku Nusantara mencerminkan semangat saling menghargai di tengah perbedaan.
“Pawai budaya mencerminkan berbagai suku, adat, dan agama dapat berjalan bersama dalam semangat persatuan,” kata Dominggus.
Menurutnya, pawai budaya merupakan bagian dari upaya melestarikan keberagaman sebagai identitas masyarakat Papua Barat. Pelestarian itu perlu melibatkan generasi muda agar kesenian dan tradisi tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Dominggus mencontohkan anak-anak muda asli Papua yang mempelajari kesenian dari daerah lain, mulai dari kuda lumping, gamelan, hingga barongsai. Baginya, keterbukaan untuk saling mengenal dan mempelajari budaya dapat mempererat hubungan antarsuku.
“Anak-anak Papua sekarang sudah bisa memainkan kuda lumping dan memainkan gamelan. Ini menunjukkan bahwa budaya bisa saling dipelajari dan menjadi perekat persatuan,” ujarnya.
Ia menyebut keterampilan memainkan gamelan telah berkembang di sejumlah wilayah, termasuk satuan permukiman (SP) 7 dan SP 8. Perkembangan tersebut, menurutnya, memperlihatkan peran kesenian sebagai jembatan persaudaraan.
Pawai budaya semula dijadwalkan berlangsung pada 8 Oktober 2026. Namun, pelaksanaannya ditunda karena kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat.
“Jadwal awal pawai budaya tanggal 8 Oktober 2026, tetapi ditunda akibat kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat,” kata Dominggus.
Dalam pelaksanaan pawai yang melintasi ruas jalan RS Angkatan Laut hingga Jalan Merdeka, Dominggus mengingatkan seluruh rombongan untuk menjaga ketertiban. Ia meminta peserta tetap berkoordinasi dengan panitia dan petugas di lapangan.
“Ikuti arahan panitia. Kita ingin kegiatan ini berjalan dengan baik, tertib, dan damai,” ujarnya.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Papua Barat Jefer Warfete menjelaskan, sekitar 168 paguyuban, sanggar seni, serta kelompok suku asli Papua telah menyatakan kesediaan berpartisipasi dalam pawai tersebut.
Menurut Jefer, pemilihan waktu pelaksanaan setelah upacara Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2026 turut mempertimbangkan upaya mendorong keterlibatan generasi muda dalam kegiatan kebudayaan. (pbn)







