banner 468x60

Berita  

Belajar dari Gula Kelapa Banyumas, Anak Muda Fakfak Diajak Kembangkan Potensi Lokal

Pemateri bersama perwakilan STIA As Syafiiyah Fakfak dan Tim Ekspedisi Patriot Unpad berfoto dalam kegiatan diskusi “Local Hustle, Global Market”, Senin (26/10/2026). Diskusi membahas peluang pengembangan komoditas lokal dan keterlibatan generasi muda dalam ekonomi kawasan transmigrasi Bomberay–Tomage. (Foto: Dok. TEP Unpad)
banner 120x600

Diskusi Tim Ekspedisi Patriot Unpad di STIA As Syafiiyah membahas peluang pengolahan dan pemasaran komoditas Fakfak, termasuk pala, serta pengembangan ekonomi kawasan transmigrasi Bomberay–Tomage.

Papuabaratnews.id, Fakfak – Pengembangan komoditas lokal membutuhkan lebih dari sekadar ketersediaan bahan baku. Mutu produk, kesinambungan pasokan, dan pemahaman terhadap kebutuhan pasar menjadi bagian penting agar usaha dapat berkembang.

banner 325x300

Persoalan itu menjadi pembahasan dalam diskusi Tim Ekspedisi Patriot Universitas Padjadjaran (Unpad) Kelompok 01 bersama mahasiswa dan anak muda di Kampus STIA As Syafiiyah Fakfak, Senin (26/10/2026).

Mengangkat tajuk “Local Hustle, Global Market: Anak Muda Buka Jalan bagi Kawasan Transmigrasi”, kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pengembangan Kawasan Transmigrasi Bomberay–Tomage, Kabupaten Fakfak.

Melalui pengalaman industri gula kelapa di Banyumas, Jawa Tengah, peserta diajak melihat peluang pengembangan komoditas daerah serta peran yang dapat diambil generasi muda dalam mengelola usaha.

Pemateri Muhammad Faishol Muzakky memaparkan perjalanan industri gula kelapa Banyumas yang berkembang selama bertahun-tahun hingga menjangkau pasar ekspor. Ia juga memperkenalkan pengalaman wirausaha sosial Village on Mars yang tengah merintis usaha di bidang gula kelapa.

Dalam paparannya, pengembangan usaha perlu disertai kemampuan menjaga kualitas dan pasokan produk. Produsen juga perlu memahami kebutuhan pembeli serta membangun hubungan kerja sama yang dipercaya pasar.

Pengalaman tersebut kemudian dikaitkan dengan potensi komoditas Fakfak, termasuk pala. Peserta diajak mencermati pelaku usaha yang sudah bergerak, kebutuhan produsen dan pembeli, serta peluang keterlibatan anak muda dalam pengolahan dan pemasaran.

Wakil Ketua I STIA As Syafiiyah, Zulfiqar Weunan Bauw, menyambut kegiatan tersebut. Ia mengajak mahasiswa melihat peluang ekonomi di kawasan transmigrasi sebagai ruang untuk mengembangkan usaha dan berkontribusi bagi daerah.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Saya mengajak generasi muda Fakfak untuk turut membaca dan mengembangkan peluang di kawasan transmigrasi Bomberay–Tomage,” ujar Zulfiqar.

Peserta bersama pemateri, perwakilan kampus, dan Tim Ekspedisi Patriot Unpad berfoto seusai diskusi di Kampus STIA As Syafiiyah Fakfak, Senin (26/10/2026). Pengalaman industri gula kelapa Banyumas menjadi bahan pembelajaran untuk melihat peluang. (Foto: Dok. TEP Unpad)

Sementara itu, Ketua Tim Ekspedisi Patriot Unpad Kelompok 01, Johar Arifin, menilai daya dukung wilayah yang luas perlu diikuti pengembangan pendekatan pertanian yang lebih inovatif.

Menurutnya, berkurangnya jumlah petani menjadi tantangan sekaligus alasan untuk mendorong pemanfaatan teknologi dalam kegiatan pertanian.

“Daya dukung wilayah yang luas, di tengah jumlah petani yang semakin menyusut, justru memberi harapan bagi tumbuhnya pola pertanian baru. Dengan dukungan teknologi dan inovasi, pertanian dapat terhubung dengan pasar global,” kata Johar.

Diskusi tersebut turut mengenalkan beragam peran yang dapat dijalankan generasi muda dalam pengembangan ekonomi lokal. Peluang itu mencakup kegiatan produksi, pengelolaan usaha, pemasaran, hingga membangun hubungan dengan mitra pasar.

Melalui pembahasan tersebut, mahasiswa dan anak muda Fakfak diajak mengenali potensi daerah sekaligus memahami kebutuhan pengembangan usahanya, terutama di kawasan transmigrasi Bomberay–Tomage. (pbn)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *