Deny Agustinus Ngutra menegaskan hasil asesmen guru akan menjadi salah satu dasar perencanaan layanan pendidikan khusus di Pegunungan Arfak.
Papuabaratnews.id, Pegunungan Arfak – Dinas Pendidikan Kabupaten Pegunungan Arfak mulai menyiapkan basis data anak berkebutuhan khusus (ABK) sebagai salah satu landasan perencanaan dan pengusulan pembangunan Sekolah Luar Biasa (SLB) di daerah tersebut.
Langkah itu diawali melalui dukungan terhadap pelatihan dan pendampingan guru dalam penanganan anak berkebutuhan khusus yang diselenggarakan Yayasan Semesta Timur Berbabagi dan Nathan’s Foundation di SD YPPGI Irai, Distrik Anggi, Rabu (21/10/2026).
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pegunungan Arfak, Deny Agustinus Ngutra, mengatakan pemerintah daerah membutuhkan data yang akurat mengenai jumlah, persebaran, serta karakteristik kebutuhan pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus sebelum merencanakan pengembangan fasilitas dan layanan pendidikan khusus.
Menurut Deny, data tersebut akan diperoleh melalui proses identifikasi dan asesmen pendidikan yang dilakukan oleh para guru setelah mengikuti pelatihan dan pendampingan.
“Dinas Pendidikan membutuhkan data yang dapat dipertanggungjawabkan untuk mengetahui jumlah anak yang membutuhkan pelayanan pendidikan khusus, lokasi keberadaan mereka, serta jenis layanan dan fasilitas yang diperlukan,” ujar Deny dalam sambutannya saat membuka kegiatan tersebut.
Ia menjelaskan, hasil asesmen yang dikumpulkan para guru nantinya akan dihimpun dan dianalisis oleh Dinas Pendidikan sebagai salah satu bahan penyusunan rencana dan pengusulan pembangunan SLB di Kabupaten Pegunungan Arfak.
Dengan demikian, pengembangan layanan pendidikan khusus diharapkan benar-benar bertumpu pada kebutuhan nyata anak-anak di daerah, bukan sekadar perkiraan.
“Kita ingin agar pembangunan fasilitas pendidikan khusus benar-benar didasarkan pada kebutuhan nyata masyarakat,” tegasnya.
Guru Dibekali Kemampuan Asesmen
Deny mengakui, penyelenggaraan pendidikan di Kabupaten Pegunungan Arfak masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kondisi geografis, keterbatasan sarana dan prasarana, hingga kebutuhan peningkatan kapasitas tenaga pendidik.
Tantangan tersebut semakin besar dalam pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus, terutama karena kemampuan sekolah dan guru dalam melakukan identifikasi, asesmen awal, serta menerapkan pendekatan pembelajaran yang adaptif masih perlu diperkuat.
Karena itu, pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk meningkatkan kapasitas guru sekaligus memperkuat fondasi pengembangan pendidikan inklusif di Pegunungan Arfak.
Deny menekankan, pelatihan tidak boleh hanya berakhir pada penyampaian materi dan pembagian sertifikat. Pengetahuan yang diperoleh harus diterapkan secara nyata dalam proses pembelajaran di sekolah.

Guru diharapkan mampu mengenali karakteristik dan kebutuhan belajar peserta didik, mengidentifikasi hambatan yang mereka alami, serta menentukan pendekatan pembelajaran yang sesuai.
“Pendidikan yang baik bukan hanya memberikan kesempatan kepada anak untuk bersekolah, tetapi juga memastikan setiap anak memperoleh pelayanan pembelajaran sesuai dengan kebutuhannya,” katanya.
Selain meningkatkan kompetensi guru, kegiatan ini juga diarahkan untuk memperkuat kemampuan sekolah dalam melakukan pendataan anak berkebutuhan khusus.
Deny mengingatkan bahwa asesmen yang dilakukan guru bukan bertujuan memberikan diagnosis medis ataupun label tertentu kepada anak, melainkan untuk mengenali kemampuan, hambatan belajar, dan bentuk dukungan pendidikan yang diperlukan.
Hasil asesmen juga harus didokumentasikan secara bertanggung jawab dengan tetap menjaga kerahasiaan dan martabat setiap peserta didik.
“Data yang Bapak dan Ibu kumpulkan bukan sekadar angka dalam laporan. Di balik setiap data tersebut ada anak-anak yang memiliki hak, harapan, dan masa depan yang harus kita perjuangkan bersama,” ujarnya.
Bangun Layanan Pendidikan Inklusif
Lebih jauh, Deny menegaskan bahwa rencana pengembangan SLB tidak berarti mengesampingkan pendidikan inklusif pada sekolah-sekolah reguler.
Kedua bentuk layanan pendidikan tersebut perlu dikembangkan secara saling melengkapi, dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi masing-masing anak.
Ia menilai pendidikan inklusif tidak hanya menyangkut penyediaan fasilitas dan metode pembelajaran, tetapi juga membutuhkan perubahan cara pandang terhadap anak-anak yang memiliki kebutuhan berbeda.
Setiap anak, menurutnya, mempunyai potensi untuk berkembang apabila memperoleh kesempatan, perhatian, dan dukungan yang tepat.
Karena itu, ia berharap guru-guru yang telah mengikuti pelatihan dapat menjadi penggerak pendidikan inklusif di sekolah masing-masing sekaligus membagikan pengetahuan kepada rekan-rekan guru lainnya.
Deny juga mendorong terbentuknya jejaring guru pendidikan inklusif di Kabupaten Pegunungan Arfak sebagai wadah komunikasi, berbagi pengalaman, dan penguatan praktik pembelajaran.
“Keberhasilan pembangunan pendidikan bukan hanya diukur dari banyaknya sekolah yang dibangun, tetapi juga dari kemampuan kita memastikan tidak ada anak yang tertinggal atau terabaikan dalam memperoleh hak pendidikannya,” kata Deny Ngutra. (pbn)







