Didukung Nathan’s Foundation, pelatihan dilanjutkan dengan tiga kali pendampingan untuk membekali guru melakukan asesmen dan menyusun program pembelajaran individual.
Papuabaratnews.id, Pegunungan Arfak – Yayasan Semesta Timur Berbagi mendorong penguatan layanan pendidikan inklusif di Kabupaten Pegunungan Arfak melalui peningkatan kapasitas guru dalam mengidentifikasi, memahami, dan menangani kebutuhan belajar anak berkebutuhan khusus (ABK).
Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pelatihan dan Pendampingan Guru dalam Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus yang diselenggarakan di SD YPPGI Irai, Distrik Anggi, Rabu (21/10/2026).
Kegiatan yang dilaksanakan Yayasan Semesta Timur Berbagi dengan dukungan Nathan’s Foundation ini dirancang tidak hanya memberikan pemahaman mengenai konsep pendidikan inklusif, tetapi juga membekali guru dengan keterampilan praktis untuk menerapkan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan setiap anak.
Direktur Yayasan Semesta Timur Berbagi, Angela B. Torimtubun, menjelaskan bahwa pelatihan dan pendampingan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat kemampuan sekolah dan tenaga pendidik dalam menghadirkan layanan pendidikan yang lebih inklusif, khususnya di tengah berbagai keterbatasan yang masih dihadapi satuan pendidikan di Kabupaten Pegunungan Arfak.
Menurut Angela, setiap anak memiliki karakteristik, kemampuan, dan kebutuhan belajar yang berbeda. Karena itu, guru perlu dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk mengenali kebutuhan peserta didik serta menentukan pendekatan pembelajaran yang tepat.
Program pelatihan ini menitikberatkan pada pemahaman dasar pendidikan inklusif, identifikasi dan asesmen awal anak berkebutuhan khusus, serta pengembangan strategi pembelajaran yang adaptif.
Selain mendapatkan pembekalan teori, peserta juga dilatih menyusun Program Pembelajaran Individual (PPI) sebagai panduan dalam memberikan layanan pembelajaran sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing anak.
Dilanjutkan Tiga Kali Pendampingan
Angela menjelaskan, salah satu bagian penting dari program tersebut adalah keberlanjutan kegiatan setelah pelatihan awal selesai.
Para guru peserta pelatihan akan mengikuti tiga kali pendampingan yang difokuskan pada praktik penyusunan dan penyempurnaan program pembelajaran individual bagi anak berkebutuhan khusus.
Pendekatan ini dimaksudkan agar pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan tidak berhenti pada pemahaman konseptual, tetapi benar-benar dapat diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Melalui proses pendampingan, guru akan diarahkan untuk mengenali kemampuan awal dan kebutuhan belajar peserta didik, merumuskan tujuan pembelajaran, menentukan strategi dan metode yang sesuai, serta menyusun langkah-langkah evaluasi perkembangan anak.
Dengan demikian, program pembelajaran individual yang dihasilkan diharapkan tidak hanya menjadi dokumen administratif, tetapi dapat digunakan sebagai panduan praktis bagi guru dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus.
Pendampingan juga menjadi ruang bagi guru untuk mendiskusikan berbagai tantangan yang dihadapi di sekolah, sekaligus mencari pendekatan pembelajaran yang lebih sesuai dengan kondisi peserta didik.
Asesmen untuk Mengenali Kebutuhan Anak
Selain penyusunan program pembelajaran individual, kegiatan ini juga memberikan perhatian pada peningkatan kemampuan guru dalam melakukan identifikasi dan asesmen awal terhadap peserta didik.
Angela menjelaskan, kemampuan melakukan asesmen pendidikan menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan pembelajaran inklusif karena guru perlu memahami kondisi dan kebutuhan setiap anak sebelum menentukan bentuk layanan pembelajaran.
Melalui pelatihan dan pendampingan, para guru diharapkan mampu mengenali hambatan belajar, kemampuan dasar, serta kebutuhan dukungan pendidikan yang diperlukan peserta didik.
Hasil identifikasi dan asesmen tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar penyusunan program pembelajaran individual yang lebih terarah.
Di sisi lain, data asesmen yang dihimpun dari sekolah-sekolah juga diharapkan dapat mendukung Dinas Pendidikan Kabupaten Pegunungan Arfak dalam memetakan kebutuhan layanan pendidikan khusus di daerah.
Dengan demikian, pelatihan dan pendampingan guru tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga diharapkan memberikan kontribusi terhadap penguatan data pendidikan sebagai dasar penyusunan kebijakan daerah.
Bangun Jejaring Guru Pendidikan Inklusif
Lebih lanjut, Angela menjelaskan bahwa program ini juga diarahkan untuk mendorong terbentuknya lingkungan sekolah yang aman, ramah, dan memberikan kesempatan belajar yang setara bagi seluruh peserta didik.
Pendidikan inklusif menuntut kesiapan guru dan sekolah untuk menerima keberagaman kemampuan peserta didik serta mengembangkan pendekatan pembelajaran yang tidak mengabaikan kebutuhan anak-anak dengan hambatan tertentu.
Karena itu, selain penguatan kompetensi individual, kegiatan ini juga mendorong terbentuknya jejaring guru pendidikan inklusif di Kabupaten Pegunungan Arfak.
Jejaring tersebut diharapkan menjadi wadah komunikasi dan berbagi pengalaman antarguru, terutama dalam menghadapi tantangan pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus.
Melalui kerja sama antarguru dan antarsekolah, praktik pembelajaran inklusif yang dikembangkan selama pelatihan dan pendampingan diharapkan dapat terus diperkuat dan menjangkau lebih banyak peserta didik.
“Penguatan kapasitas guru sebagai salah satu langkah penting untuk membangun layanan pendidikan yang lebih responsif terhadap kebutuhan anak, terutama pada daerah yang masih menghadapi keterbatasan akses dan sumber daya Pendidikan,” kata Angela. (pbn)







