banner 468x60 *** banner 468x60 ***

Berita  

Warmare Disiapkan Jadi Kampung Dodol Matoa Pertama di Papua Barat

Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga Surabaya bersama mama-mama Suku Arfak berfoto sebelum mengikuti pelatihan pengolahan produk turunan buah matoa di Distrik Warmare, Kabupaten Manokwari, Papua Barat. (Foto: ANTARA/HO-Tim Ekspedisi Patriot Unair Surabaya)
banner 120x600

Tim Ekspedisi Patriot Unair melatih mama-mama Suku Arfak mengolah matoa menjadi dodol dan berbagai produk pangan turunan bernilai ekonomi.

Papuabaratnews.id, Manokwari –- Distrik Warmare, Kabupaten Manokwari, disiapkan menjadi Kampung Dodol Matoa pertama di Provinsi Papua Barat melalui program pelatihan dan pendampingan pengolahan buah matoa oleh Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga (Unair) Surabaya bersama puluhan mama dari Suku Arfak.

banner 325x300

Dosen Unair Surabaya Zamal Nasution mengatakan, pelatihan dan pendampingan untuk menciptakan berbagai kreasi makanan dan minuman berbahan dasar buah matoa berlangsung sejak 5 hingga 15 Agustus 2026.

“Pelatihan dan pendampingan pembuatan dodol matoa serta produk turunan lainnya dilakukan setiap sore setelah mama-mama Suku Arfak menyelesaikan kegiatan berkebun,” kata Zamal dalam keterangan resmi di Manokwari, Senin (17/8/2026).

Menurut dia, proses peralihan keterampilan berjalan lancar karena mama-mama Suku Arfak sebelumnya telah menguasai teknik pembuatan papeda. Teknik tersebut secara prinsip memiliki tekstur kental dan kenyal yang serupa dengan dodol maupun selai.

Dari pelatihan tersebut, seluruh peserta berhasil menciptakan sejumlah variasi produk olahan matoa. Produk tersebut antara lain dodol bertekstur lembut, selai yang dipadukan dengan nanas, es krim, stik renyah, olahan kacang, teh herbal matoa, hingga sambal matoa dengan cita rasa pedas manis.

“Kemiripan proses itu mempermudah mereka mempelajari teknik pengolahan produk yang baru,” ujarnya.

Dorong Sentra UMKM Matoa Zamal mengatakan, keterampilan yang diperoleh warga diharapkan menjadi cikal bakal berdirinya sentra usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Kampung Dodol Matoa di Warmare.

Pengembangan tersebut diarahkan untuk memperkuat posisi matoa sebagai komoditas olahan pangan khas Papua Barat sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.

Dalam jangka panjang, program itu tidak hanya berpotensi meningkatkan ekonomi keluarga, tetapi juga diarahkan untuk mendukung pemenuhan gizi anak dan menyediakan alternatif pangan sehat.

Pemanfaatan pangan lokal tersebut diharapkan dapat mengurangi konsumsi makanan olahan pabrik atau ultra-processed food.

“Kebiasaan konsumsi pangan sehat berbahan lokal diharapkan dapat menekan angka gizi buruk (stunting) dan malnutrisi di Papua Barat secara berkelanjutan,” kata Zamal.

Menurut dia, kolaborasi Tim Ekspedisi Patriot Unair dengan mama-mama Suku Arfak di Distrik Warmare menunjukkan bahwa pembentukan sentra ekonomi baru, pemenuhan gizi anak, dan ketahanan pangan dapat dikembangkan secara bersamaan.

“Kami berharap program ini bisa memberikan manfaat jangka panjang melalui pemanfaatan kekayaan sumber daya alam dan kearifan lokal,” ujarnya.

Program tersebut sekaligus mendorong masyarakat untuk tidak hanya menjual matoa dalam bentuk buah segar, tetapi mengembangkan berbagai produk olahan sehingga komoditas lokal tersebut memiliki nilai tambah dan peluang pasar yang lebih luas. (pbn)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *