Berita  

Uskup Datus Lega: Krisma Bukan Sekadar Ritual, Umat Katolik Harus Berani Bersaksi

Uskup Manokwari–Sorong, Mgr. Hilarion Datus Lega, memimpin prosesi pengurapan bagi 44 penerima Sakramen Krisma dalam perayaan Ekaristi di Gereja Ko-Katedral Santo Agustinus, Manokwari, Minggu (30/8/2026). (Foto: Papuabaratnews.id/Sam Sirken)
banner 120x600

Sebanyak 44 umat menerima Sakramen Krisma di Gereja Ko-Katedral Santo Agustinus Manokwari. Mereka diajak mengosongkan diri, memikul salib, serta menghadirkan kasih dan kesetiaan kepada Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Papuabaratnews.id, Manokwari –-  Uskup Keuskupan Manokwari–Sorong, Mgr. Hilarion Datus Lega, mengingatkan umat agar tidak menjadikan Sakramen Krisma sebatas ritual keagamaan. Pengurapan Roh Kudus harus menjadi kekuatan bagi umat Katolik untuk bertumbuh dalam iman dan berani menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat.

banner 325x300

Pesan itu disampaikan Uskup Datus Lega saat memimpin perayaan Ekaristi penerimaan Sakramen Krisma bagi 44 umat Katolik di Gereja Ko-Katedral Santo Agustinus, Manokwari, Minggu (30/8/2026).

Perayaan Ekaristi yang dihadiri ratusan umat, frater, dan suster tersebut berlangsung khidmat dan penuh rasa syukur.

Dalam homilinya, Uskup Datus Lega mengatakan, mengikuti Yesus membutuhkan kesiapan untuk memenuhi tiga syarat utama, yakni menyangkal diri, memikul salib, serta hidup dalam kasih dan kesetiaan.

Menurut dia, menyangkal diri bukan berarti kehilangan jati diri atau merasa tidak berharga, melainkan sikap mengosongkan diri agar manusia bersedia menerima kehendak dan hikmat yang berasal dari Allah.

“Kalau kita sudah merasa diri penuh, bagaimana kita dapat diisi kembali? Kalau orang, di tengah berbagai pengetahuan dan pengalaman hidup, tetap mengosongkan diri, ia dapat diisi kembali oleh berbagai hikmat yang berasal dari Allah,” ujarnya.

Sikap mengosongkan diri, lanjut dia, menolong manusia untuk tidak menjadi sombong karena merasa telah mengetahui atau memiliki segala sesuatu. Dengan kerendahan hati, seseorang memberikan ruang bagi Tuhan untuk membimbing pikiran, pertimbangan, dan jalan hidupnya.

Uskup Manokwari–Sorong, Mgr. Hilarion Datus Lega, mengoleskan minyak Krisma memimpin prosesi pengurapan bagi 44 penerima Sakramen Krisma dalam perayaan Ekaristi di Gereja Ko-Katedral Santo Agustinus, Manokwari, Minggu (30/8/2026). (Foto: Istimewa)

Memikul Salib Kehidupan

Syarat kedua mengikuti Yesus adalah kesediaan memikul salib. Menurut Uskup Datus Lega, salib tidak selalu berbentuk penderitaan besar. Salib juga hadir melalui pekerjaan, tanggung jawab, kesulitan, dan berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari.

Memikul salib merupakan bentuk penyerahan diri kepada Tuhan. Orang yang tetap bersyukur, berserah, dan setia di tengah kesulitan menunjukkan kesediaannya untuk berjalan bersama Yesus.

“Orang yang bersujud, bersyukur, dan menyerahkan diri sebagai hasil dari penyangkalan diri, merekalah yang dapat mengikuti Yesus,” ujarnya.

Adapun syarat ketiga adalah hidup dalam kasih dan kesetiaan sebagaimana telah diteladankan oleh Yesus. Kasih dan kesetiaan tersebut harus diwujudkan melalui kesediaan untuk berbagi, melayani, dan memberikan diri bagi kebaikan sesama.

Uskup Datus Lega menjelaskan, manusia memiliki kelemahan dan kerap berhadapan dengan berbagai tantangan serta godaan. Karena itu, umat membutuhkan pertolongan Roh Kudus agar tetap teguh mengikuti jalan Tuhan.

Pertolongan itu, kata dia, hadir secara nyata melalui sakramen-sakramen Gereja, termasuk Sakramen Krisma atau Sakramen Penguatan.

Umat yang menerima Sakramen Krisma diurapi dengan minyak krisma sebagai lambang persatuan dengan Kristus sekaligus tanda penerimaan kekuatan Roh Kudus.

“Kristus berarti ‘Yang Terurapi’. Orang-orang yang telah dibaptis kemudian diurapi dengan minyak krisma dalam Sakramen Penguatan. Pengurapan ini menjadi lambang persatuan antara orang yang diurapi dengan Tuhan, sumber segala kelimpahan,” jelasnya.

Jalan Keteguhan dan Penguatan

Uskup Datus Lega menegaskan, mengosongkan dan menyerahkan diri kepada Tuhan bukanlah tanda seseorang kurang percaya diri. Sikap itu berangkat dari kesadaran bahwa manusia memiliki kelemahan dan membutuhkan kekuatan Tuhan.

“Jalan Tuhan adalah jalan keteguhan dan jalan penguatan. Pada akhirnya, jalan itu menjadi jalan kemuliaan,” katanya.

Menurut dia, tanpa kekuatan dari Roh Kudus, penyerahan diri dapat berhenti sebagai ritual. Bahkan, seseorang mungkin mengikuti Tuhan karena terpaksa, bukan karena kesadaran dan iman yang tumbuh dari dalam dirinya.

Karena itu, Sakramen Krisma harus menjadi tonggak penting dalam proses kedewasaan iman seorang Katolik. Iman yang telah ditanamkan tidak boleh berhenti sebagai pengetahuan atau formalitas keagamaan, tetapi harus terus bertumbuh dan menghasilkan kesaksian hidup.

Melalui Sakramen Krisma, umat juga dipersiapkan agar tidak hanya mengikuti pikiran, pertimbangan, dan kehendaknya sendiri. Umat diajak belajar seperti Rasul Petrus untuk memahami dan mengikuti jalan serta kehendak Allah.

Uskup Datus Lega berharap 44 penerima Sakramen Krisma terus menghayati panggilan sebagai saksi Kristus serta bersedia berbagi dan memberikan diri bagi kebaikan sesama.

Uskup Manokwari–Sorong, Mgr. Hilarion Datus Lega, memimpin prosesi pengurapan bagi 44 penerima Sakramen Krisma dalam perayaan Ekaristi di Gereja Ko-Katedral Santo Agustinus, Manokwari, Minggu (30/8/2026). (Foto: Istimewa)

Jalani Pembinaan Dua Bulan

Pastor Paroki Ko-Katedral Santo Agustinus, RD. Januarius Vaenbes, mengatakan bahwa 44 penerima Sakramen Krisma telah menjalani masa persiapan dan pembinaan iman selama dua bulan.

Proses tersebut dilaksanakan bersama tim pendamping untuk mempersiapkan para peserta memahami makna Sakramen Krisma dan tanggung jawab mereka setelah menerima pengurapan Roh Kudus.

Januarius menyampaikan apresiasi kepada para peserta, pendamping, dan seluruh pihak yang telah mendukung proses pembinaan hingga perayaan penerimaan Sakramen Krisma dapat dilaksanakan.

“Semoga pencurahan Roh Kudus ini mendorong umat untuk semakin aktif bergerak maju dan melayani melalui karya-karya kasih,” katanya seusai perayaan Ekaristi.

Sementara itu, perwakilan penerima Sakramen Krisma, Dewa Pratama, menyampaikan terima kasih kepada Uskup, pastor paroki, para pengajar, pendamping, serta seluruh pihak yang terlibat dalam proses pembinaan.

Menurut Dewa, penerimaan Sakramen Krisma menjadi pijakan penting bagi para peserta untuk memperkuat ketulusan hati dan mengokohkan iman dalam mengikuti jalan keselamatan yang ditawarkan Kristus.

Ia mengatakan, berbagai pengajaran dan pengalaman rohani yang diperoleh selama pembinaan akan menjadi bekal bagi para penerima Krisma dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Dewa juga memohon dukungan doa dari seluruh umat dan komunitas Gereja agar mereka tetap setia mengamalkan ajaran Kristus.

“Kuasa Roh Kudus harus terus dipelihara sebagai kekuatan utama umat Katolik untuk berani menjadi saksi Kristus di tengah berbagai tantangan zaman,” tuturnya. (pbn)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *