Distribusi logistik ujian ke 10 distrik di Pegunungan Arfak mulai disiapkan dengan pengawalan tim khusus guna memastikan pelaksanaan berjalan tepat waktu dan objektif.
Papuabaratnews.id, Manokwari –- Dinas Pendidikan Kabupaten Pegunungan Arfak (Pegaf) terus mematangkan persiapan pelaksanaan Tes Kompetensi Akademik (TKA) dan Ujian Sekolah jenjang SD dan SMP yang dijadwalkan berlangsung serentak pada 6 April 2026.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya memetakan kualitas pendidikan di wilayah yang dikenal sebagai “Negeri di Atas Awan” tersebut.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Pegaf, Deny Agustinus Ngutra, ST, menegaskan, penyusunan soal ujian tahun ini menggunakan parameter khusus, yakni disesuaikan dengan materi yang benar-benar dipelajari siswa di kelas agar hasil evaluasi lebih objektif.
“Terkait standar, kami menekankan pada tata cara penyusunan soal yang lebih baik, mudah dipahami siswa, serta sesuai dengan materi yang telah mereka pelajari di sekolah,” ujar Deny saat menutup Kegiatan Penyusunan Naskah Ujian Sekolah Jenjang SD dan SMP di Manokwari, Kamis (2/4/2026).
Ia juga menekankan pentingnya kejujuran dalam menerima hasil ujian sebagai dasar evaluasi pendidikan ke depan. “Apapun hasil siswa, itu yang harus kita terima. Walaupun hasilnya kurang baik, tetap harus diterima dan dievaluasi setiap tahun. Pendidikan tidak bisa dilihat hanya hari ini, tetapi harus diproyeksikan 10 hingga 15 tahun ke depan,” tegasnya.

Terkait tantangan geografis Pegaf, Deny memastikan distribusi logistik ke 10 distrik akan dikawal oleh tim khusus. “Ada dua hingga tiga tim yang akan dibagi untuk memastikan logistik sampai tepat waktu. Sebelum diserahkan, pihak sekolah wajib melakukan pengecekan. Jika ada kekurangan, tim segera menyiapkannya,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Pegaf, Matias Saroi, S.Pd., M.Pd., menjelaskan, soal ujian ini disusun dengan mengombinasikan Kurikulum 2013 yanag disesuaikan dengan konteks lokal.
“Kriteria utama adalah soal mengacu pada kurikulum dan materi di kelas. Kami juga menekankan kontekstualisasi, yakni menghubungkan teori akademik dengan kearifan lokal atau kondisi riil di Pegunungan Arfak,” ujarnya.
Ia menambahkan, ujian ini tidak sekadar menjadi syarat kelulusan, tetapi juga sebagai alat pemetaan kualitas pendidikan di setiap distrik.
“Hasil ujian ini menjadi barometer untuk melihat sejauh mana penyerapan materi selama tiga tahun terakhir. Jika ada capaian yang masih rendah, itu menjadi dasar intervensi program pada tahun ajaran berikutnya,” katanya.

Koordinator Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pegaf, Danliberdan, S.Pd., mengungkapkan, secara teknis para guru telah melakukan sinkronisasi untuk menjaga standar kesulitan soal tetap seimbang.
“Kami memastikan setiap indikator kompetensi tertuang jelas dengan proporsi tingkat kesulitan yang terdiri dari soal mudah, sedang, dan sukar (HOTS), sehingga penilaian tetap objektif,” ujarnya.
Ia juga menyebutkan adanya inovasi dalam penyederhanaan bahasa soal guna menyesuaikan dengan kemampuan literasi siswa di berbagai distrik.
“Kalimat yang terlalu kompleks atau menggunakan istilah asing kami sederhanakan tanpa mengurangi esensi materi. Tujuannya agar soal benar-benar mengukur kemampuan siswa, bukan menjadi hambatan karena bahasa,” pungkasnya.
Persiapan ini diharapkan dapat memberikan gambaran nyata kualitas pendidikan di Kabupaten Pegunungan Arfak, sekaligus menjadi dasar peningkatan mutu sumber daya manusia di masa mendatang. (pbn)


***
***





