Posko terpadu beroperasi selama 18 hari untuk memastikan kelancaran arus mudik dan balik Idul Fitri 1447 Hijriah di Papua Barat.
Papuabaratnews.id, Manokwari –- Badan Layanan Umum (BLU) Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas II Rendani Manokwari resmi membuka Posko Angkutan Lebaran 2026 untuk mendukung kelancaran arus mudik dan arus balik Idul Fitri 1447 Hijriah di Papua Barat.
Pembukaan posko tersebut diawali dengan apel siaga yang melibatkan personel gabungan dari berbagai instansi, antara lain Kantor Otoritas Bandar Udara (Otban) Wilayah IX Manokwari, Kantor BLU UPBU Kelas II Rendani Manokwari, Dinas Perhubungan Kabupaten Manokwari, Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Manokwari, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabaupaten Manokwari, BMKG Manokwari, Polsek Bandara Rendani, serta sejumlah unsur terkait lainnya.
Posko Angkutan Lebaran ini akan beroperasi selama 18 hari, mulai Jumat (13/3/2026) hingga Senin (30/3/2026), dengan melibatkan personel gabungan dari berbagai instansi dan pemangku kepentingan di lingkungan bandara.
Kepala Kantor BLU UPBU Kelas II Rendani Manokwari, Herman Sujito, mengatakan posko tersebut dibentuk untuk memastikan pelayanan penerbangan selama masa angkutan Lebaran berjalan lancar, aman, dan nyaman bagi masyarakat.
“Kami akan melakukan pemantauan terhadap pergerakan penumpang, jadwal penerbangan, serta kesiapan fasilitas dan personel di bandara selama periode arus mudik dan arus balik,” ujarnya.

Ia menekankan beberapa hal penting yang perlu diperhatikan oleh seluruh petugas, khususnya pihak maskapai. Salah satunya adalah memperhatikan faktor cuaca yang belakangan ini sering terjadi hujan dan angin kencang.
Menurutnya, informasi dan peringatan dari BMKG harus menjadi acuan utama agar penerbangan dapat berjalan dengan baik dan tetap mengutamakan keselamatan.
Selain itu, Herman juga mengingatkan pentingnya ketertiban dalam pelayanan tiket, terutama terkait identitas penumpang serta kepastian harga tiket yang tidak boleh melebihi batas tarif yang telah ditetapkan pemerintah.
“Petugas perlu memastikan harga tiket tidak melebihi batas yang ditetapkan. Apabila ada perbedaan harga, maka harus dapat dijelaskan kepada calon penumpang, karena tidak semua penumpang membeli tiket secara langsung, tetapi melalui layanan daring,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya manajemen keterlambatan penerbangan (delay). Apabila terjadi keterlambatan, maka maskapai harus tetap memperhatikan hak-hak penumpang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Herman memprediksi puncak arus penumpang Lebaran akan terjadi pada akhir pekan menjelang masa libur Idul Fitri.
“Lonjakan penumpang kemungkinan terjadi pada hari Sabtu dan Minggu ini, karena anak-anak sekolah masih masuk sampai Sabtu dan mulai libur pada hari Senin,” katanya.

Ia juga mengimbau masyarakat yang akan melakukan perjalanan udara selama masa angkutan Lebaran agar mematuhi seluruh aturan penerbangan demi menjaga keamanan dan kelancaran operasional bandara.
“Masyarakat diharapkan mengikuti tata tertib yang berlaku di bandara sehingga pelayanan penerbangan selama angkutan Lebaran dapat berjalan aman, lancar, dan nyaman,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Basarnas Manokwari Yefri Sabaruddin menyampaikan bahwa keterlibatan Basarnas dalam posko terpadu ini bertujuan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan keadaan darurat sekaligus memastikan keamanan dan kenyamanan masyarakat yang menggunakan transportasi udara selama periode angkutan Lebaran.
Personel Basarnas ditempatkan di kawasan bandara untuk mendukung kelancaran pelayanan serta memberikan respons cepat terhadap berbagai situasi yang mungkin terjadi selama masa arus mudik dan arus balik.
Ia berharap melalui posko terpadu ini seluruh instansi yang terlibat dapat meningkatkan koordinasi dan kesiapsiagaan sehingga pelayanan kepada masyarakat selama periode angkutan Lebaran dapat berjalan aman, tertib, dan lancar. (pbn)







