banner 468x60 *** banner 468x60 ***

Opini  

Pers Papua Barat di Simpang Daya Tahan

Ilustrasi. Aktivitas peliputan. (Dok. freepik.com)
banner 120x600

HARI Pers bukan sekadar penanda kalender. Ia adalah alarm untuk menakar daya tahan dan martabat pers, termasuk di Papua Barat. Secara normatif, kemerdekaan pers dijamin undang-undang (Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1990). Namun, di lapangan, kebebasan itu berhadapan dengan realitas ekonomi, tekanan sosial, dan perubahan teknologi yang bergerak lebih cepat dari kesiapan industri.

Pertumbuhan media digital di Papua Barat menunjukkan dinamika yang menggembirakan dari sisi kuantitas. Data dan pemetaan yang dirilis Dewan Pers mencatat ekspansi media online di berbagai daerah, termasuk kawasan timur Indonesia. Akan tetapi, banyak media lokal tumbuh dengan struktur minimalis dan model bisnis yang rapuh. Redaksi dan bisnis kerap berjalan dalam ruang yang sama karena keterbatasan sumber daya.

banner 325x300

Di sisi lain, laporan tahunan dari Aliansi Jurnalis Independen, Persatuan Wartawan Indonesia, dan Southeast Asia Freedom of Expression Network secara konsisten menunjukkan masih adanya kasus intimidasi, kekerasan, maupun pembatasan kerja jurnalistik di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Papua dan Papua Barat. Fakta ini menegaskan bahwa tantangan pers bukan hanya soal bisnis, tetapi juga keamanan dan kebebasan berekspresi.

Disrupsi digital dan disrupsi informasi yang ditandai dengan post-trust memperumit keadaan. Media arus utama (mainstream) harus bersaing dengan arus informasi media sosial yang cepat, instan, dan sering kali dangkal. Algoritma platform digital lebih mengutamakan atensi ketimbang akurasi. Liputan investigatif yang membutuhkan biaya dan waktu panjang makin jarang menjadi prioritas.

Dalam situasi pendapatan iklan yang menurun dan belanja publikasi pemerintah yang makin selektif, independensi menjadi taruhan. “Pagar api” (fire wall) antara ruang redaksi dan bisnis menghadapi ujian serius. Relasi personal dan kerja sama advertorial menjadi strategi bertahan, tetapi berisiko menggerus fungsi kontrol sosial.

Kondisi ini menegaskan, pers Papua Barat sedang berada di simpang daya tahan. Negara perlu menghadirkan kebijakan afirmatif untuk memperkuat ekosistem media lokal tanpa mencederai independensi. Di saat yang sama, insan pers wajib menjaga etika sebagai fondasi utama.

Tanpa ketahanan ekonomi, kemerdekaan mudah goyah. Tanpa integritas, pers kehilangan martabatnya. Di titik inilah masa depan pers Papua Barat ditentukan. (*)

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *