banner 468x60 *** banner 468x60 ***

Opini  

Dari Imlek ke Ramadan dan Prapaskah Merajut Tenun Kebangsaan di Papua Barat

Ilustrasi (Dok. Istimewa)
banner 120x600

Ketika ritme iman lintas agama menguatkan kerukunan masyarakat Papua Barat, provinsi dengan indeks toleransi beragama di atas rata-rata nasional.

SAAT lonceng Imlek berdentang di awal tahun, abu dioleskan di dahi, dan gema takbir serta azan Ramadan mengisi langit Indonesia, kita diingatkan pada satu realitas yang tak boleh dipandang sebelah mata: keberagaman bukan hanya dimiliki, tetapi juga dijaga. Dalam ritme hidup keagamaan yang berbeda-beda inilah benang-benang kebangsaan kita disulam menjadi sebuah kain tenun toleransi yang kuat dan berwarna.

banner 325x300

Masyarakat Indonesia telah lama dikenal oleh dunia sebagai salah satu contoh pluralisme harmonis, tempat perayaan Imlek dan Ramadan berjalan berdampingan tanpa sekat, sebuah pemandangan yang disebut sebagai bukti nyata toleransi yang indah ditampilkan bangsa ini. Di tengah arus global yang kadang mengadu perbedaan, kita tetap mampu menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, bukan jurang pemisah.

Jika dilihat dalam konteks Papua Barat, cerita toleransi bukan sekadar wacana retoris. Provinsi ini secara konsisten mencatat skor tinggi dalam indeks toleransi beragama. Menurut Kanwil Kementerian Agama Papua Barat, pada tahun 2024 indeks toleransi mencapai sekitar 81 poin, angka yang berada di atas rata-rata nasional dan menunjukkan bahwa kerukunan antarumat beragama menjadi bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat setempat . Bahkan berdasarkan survei yang dilakukan Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI, Papua Barat pernah berada di posisi tertinggi tingkat kerukunan beragama di Indonesiadengan skor mencapai 82,1 dari nilai maksimal 100, sebuah capaian yang membanggakan bagi daerah yang kaya suku, budaya, dan keyakinan ini.

Imlek, Ramadan, dan Prapaskah, meskipun berasal dari tradisi keagamaan yang berbeda, membuka ruang refleksi yang sama: bagaimana kita menjadi lebih peka terhadap sesama, bagaimana kedamaian bukan sekadar slogan, tetapi praktik keseharian. Ketiga momentum ini menyediakan kesempatan langka bagi masyarakat untuk memperluas kualitas dialog antariman, serta mempertegas komitmen bersama bahwa Indonesia bukan hanya rumah kita, tetapi rumah yang kita rawat bersama.

Imlek yang berdampingan dengan Ramadan dan Prapaskah adalah pengingat bahwa Indonesia bukan rumah kontrakan, di mana sebagian merasa sebagai pemilik sah dan yang lain sekadar penyewa. Semua anak bangsa adalah pemilik kedaulatan dan kedamaian negeri ini. Tidak ada ‘anak kampung sini’ dan ‘pendatang’ dalam bingkai konstitusi. Yang ada hanyalah warga negara dengan hak dan kewajiban setara.

Para pendiri bangsa telah menyadari realitas itu sejak awal. Mereka merumuskan Pancasila sebagai fondasi, bukan untuk menyeragamkan warna, melainkan demi menyatukan perbedaan dalam satu cita-cita bersama. Indonesia tidak dibangun di atas satu identitas tunggal, tetapi dari mosaik budaya, agama, dan etnis yang saling melengkapi.

Karena itu, momentum Imlek dan Ramadan semestinya menjadi ruang dialog dan penguatan empati lintas iman. Menghargai keyakinan orang lain bukanlah kompromi terhadap iman sendiri, melainkan tanda kedewasaan berbangsa. Ibadah yang khusyuk tidak pernah membutuhkan kebencian sebagai penopang.

Negara tentu memikul tanggung jawab utama untuk memastikan setiap warga dapat menjalankan ibadah tanpa rasa khawatir. Aparat keamanan harus hadir bukan sekadar sebagai penjaga ketertiban, melainkan sebagai penjamin rasa aman. Namun, harmoni tidak cukup dijaga oleh negara semata. Tokoh agama, tokoh adat, dan pemimpin komunitas memiliki peran strategis membangun narasi kebersamaan. Mimbar-mimbar keagamaan harus menjadi ruang penyemaian kasih, bukan panggung penyulut curiga.

Papua Barat menjadi laboratorium hidup dari gagasan besar itu. Kerukunan yang terjaga adalah bukti bahwa dialog antaragama tidak hanya mungkin, tetapi juga menjadi fondasi bagi kehidupan sosial yang damai dan produktif. Di sinilah tenun kebangsaan dirajut ulang: bukan dengan benang yang seragam, tetapi dengan ragam warna yang tetap saling menguatkan.

Dengan demikian, ketika umat Tionghoa menyambut Imlek dengan penuh harapan, umat Muslim memasuki Ramadan dengan tekad suci, dan komunitas Kristiani menyongsong Prapaskah dengan refleksi mendalam, Papua Barat memperlihatkan kepada kita bahwa pluralisme yang sehat bukan sekadar toleransi pasif, tetapi keterlibatan aktif di dalam kehidupan bersama. Toleransi di sini bukan hanya sebuah indeks, tetapi karya nyata yang dilakukan setiap hari oleh masyarakat yang menerima perbedaan sebagai bagian dari jati diri mereka. (*)

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *