banner 468x60 *** banner 468x60 ***

Jurnalis Diduga Mengalami Kekerasan saat Liputan Dapur MBG

Unjuk rasa mengecam keracunan massal karena proyek makan bergizi gratis (MBG) di depan DPRD Jawa Barat, Bandung, Jawa Barat, Senin (29/9/2025). Mereka menuntut pengentian sementara program MBG dan pengusutan penyebab keracunan serta merekomendasikan program MBG dikonversi menjadi bantuan tunai bagi pelajar dari kalangan tidak mampu. (Tempo/Prima Mulia)
banner 120x600

Papuabaratnews.id, Jakarta –  Dua jurnalis diduga mengalami kekerasan dari petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) saat meliput dapur makan bergizi gratis (MBG) pada Selasa siang (30/9/2025). Peristiwa itu terjadi di SPPG Gedong 2, salah satu dapur penyedia MBG, di Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Dua korban dugaan kekerasan itu adalah wartawan Warta Kota, Miftahul Munir, dan wartawan MNC, Rizki Fahluvi. Saat mendatangi SPPG Gedong 2, keduanya sedang berupaya mengkonfirmasi kasus keracunan MBG di SDN 1 Gedong, Pasar Rebo.

banner 325x300

Menurut Munir, ketika itu dia dan Rizki menemukan lokasi SPPG Gedong 2 melalui mesin pencari Google. “Kami hanya ingin menelusuri kebenarannya,” kata Munir dikutip Tempo.

Keduanya pun mendatangi lokasi SPPG Gedong 2. Munir berujar seorang penjaga kemudian meminta dia untuk masuk ke dalam gedung SPPG. “Petugas keamanan itu mengira saya tukang cuci ompreng MBG,” ujar dia.

Kepada petugas itu, Munir lalu menyebut ingin bertemu kepala SPPG untuk mengkonfirmasi kasus keracunan yang dialami 20 siswa di SDN 1 Gedong. Namun, sang petugas SPPG langsung mengusir keduanya saat tahu mereka adalah wartawan.

Munir dan Rizki pun menunggu di depan gedung dapur SPPG. Tak lama kemudian, sebuah mobil SPPG yang digunakan untuk mengantar MBG ke sekolah-sekolah masuk ke lokasi tersebut.

Munir dan Rizki lalu mengeluarkan gawai untuk mengambil video. Namun, mereka dilarang merekam mobil SPPG oleh petugas. Munir membalas bahwa petugas tidak bisa melarang dirinya merekam. “Ini di luar, area publik, bapak enggak boleh larang-larang,” tuturnya kepada petugas itu.

Kemudian, salah satu pegawai SPPG turun dari mobil dan menghampiri Munir. Petugas itu, kata Munir, menjelaskan bahwa SPPG Gedong 2 tidak mengirim MBG ke SDN 1 Gedong tempat kasus keracunan terjadi. SPPG yang bertanggung jawab terhadap sekolah itu berada di lokasi lain.

Setelah mendapat penjelasan tersebut, Munir dan Rizki pun berencana pergi mengecek lokasi lain. Namun, salah satu petugas SPPG kemudian menghampiri mereka sambil mengepalkan tangan. “Bahkan saya dan Rizki tiba-tiba dicekik,” kata Munir.

Staf SPPG Gedong 2 lainnya pun melerai mereka. Petugas keamanan yang mencekik Munir dan Rizki lalu dipegangi oleh rekan-rekannya.

Setelah kejadian tersebut, Munir dan Rizki melaporkan kekerasan yang mereka alami ke Kepolisian Sektor atau Polsek Pasar Rebo. Menurut Munir, proses pelaporan itu baru selesai pada sekitar pukul 22.00 WIB.

Polsek Pasar Rebo membenarkan adanya laporan dari kedua jurnalis atas peristiwa kekerasan tersebut.

Adapun insiden keracunan MBG yang sedang ditelusuri Munir dan Rizki terjadi di SDN 01 Kelurahan Gedong, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Kapolsek Pasar Rebo Ajun Komisaris I Wayan Wijaya membenarkan kabar keracunan massal tersebut. “Betul ada siswa yang keracunan pagi ini pukul 07.15 WIB,” kata Wijaya ketika dikonfirmasi oleh wartawan, Senin (29/9/2025).

Menurut Wijaya, setidaknya ada puluhan peserta didik yang mengalami keracunan setelah menyantap menu MBG. “Untuk siswa yang merasakan mual, pusing, dan muntah-muntah sebanyak 20 siswa,” tutur Wijaya.

Korban keracunan tersebut berasal dari Kelas 1 hingga Kelas 6 di SDN 01 Gedong. Bahkan salah satu siswa telah dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Pasar Rebo untuk menjalani pemeriksaan kesehatan insentif. (tem)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *