Berita  

Melindungi Hutan Adat di Sorong Selatan dengan Ekowisata

Ekowisata Kalibiru Klaogin yang dikelola masyarakat adat Knasaimos di Kampung Klaogin, Distrik Seremuk, Sorong Selatan, Papua Barat Daya. (Tempo/Nur Hadi)
banner 120x600

Papuabaratnews.id, Sorong — Masyarakat adat Knasaimos yang berada di Distrik Seremuk, Sorong Selatan, Papua Barat Daya, memiliki kekayaan alam berupa sungai jernih yang airnya bersumber dari perbukitan kars. Orang lokal menyebut sumber itu sebagai kepala air. Lokasinya sekitar 1 jam 30 menit perjalanan darat dari Teminabuan, pusat pemerintahan Kabupaten Sorong Selatan.

Sejak tiga tahun lalu, masyarakat adat yang tergabung dalam kelompok sadar wisata membangun ekowisata Kalibiru Klaogin dengan prinsip menjunjung tinggi kearifan lokal dan menjaga kelestarian alam. Bagi masyarakat, ini merupakan upaya pengembangan ekonomi lokal sekaligus menjaga wilayah adat dari berbagai ancaman.

banner 325x300

Untuk menuju kepala air, wisatawan harus menyusuri sungai sejauh 500 meter menggunakan perahu yang disediakan warga.

“Airnya yang berwarna biru menjadi daya tarik wisatawan,” kata Kepala Kampung Klaogin Martinus Sawen, Jumat (26/9/2025). Dasar sungai sedalam 10-15 meter itu terlihat jelas dari atas perahu.

Martinus mengatakan ia bersama warga mulai mengembangkan potensi wisata Kalibiru Klaogin secara swadaya sejak 2021 atau setelah hampir 20 tahun Kampung Klaogin pertama kali dibuka. Seiring dengan berjalannya waktu, Kalibiru Klaogin ini perlahan-lahan mulai dikenal dan dikunjungi wisatawan lokal hingga luar daerah. “Tiap hari ada saja wisatawan yang datang,” ujar Martinus.

Pengunjungnya tidak hanya datang dari dalam negeri. Martinus menyebutkan ada beberapa rombongan wisatawan asing yang berkunjung dan mereka menyukai keindahan Kalibiru Klaogin ini. Namun, kata dia, tidak adanya penginapan membuat wisatawan tidak leluasa dan berlama-lama berwisata di Klaogin.

Masyarakat adat dibantu Konservasi Indonesia (KI) kini sedang membangun homestay untuk menjawab kebutuhan adanya tempat menginap di daerah ini. Pembangunan homestay merupakan bagian dari pendampingan KI untuk mengembangkan pariwisata berkelanjutan. “Kami sudah menjalin kerja sama dengan KI hampir empat bulan,” tutur Martinus.

Ekowisata untuk Melindungi Hutan Adat. (Tempo/Nur Hadi)

Ada enam homestay beratap daun sagu yang tengah dalam proses pembangunan. Homestay berukuran sekitar 5 x 6 itu terlihat hampir rampung. Tiap homestay nantinya diberi nama sesuai dengan enam marga yang memiliki hak atas kepala air: Momot, Kolin, Wolo Yadafat, Sawen, Adiolo, dan Wafatolo.

Bagi masyarakat adat, kepala air diyakini sebagai tempat keramat sekaligus sumber air minum. Karena itu, kata Martinus, kepala air harus dijaga kelestariannya. Wisatawan pun dilarang mengunjungi beberapa titik lokasi di sekitar kepala air. “Kalau melanggar harus membayar denda kain adat yang nilainya ratusan juta rupiah.”

Meski ekowisata belum sepenuhnya menggerakkan ekonomi lokal, Martinus yakin ekowisata Kalibiru Klagoin akan berdampak pada kehidupan ekonomi warga. “Diharapkan bisa jadi penghasilan tambahan,” ucap kepala kampung dari subsuku Salmeic Klawsa, satu dari enam subsuku masyarakat adat Knasaimos.

Martinus menambahkan, selama ini warga menangkap ikan dan udang sebagai penghasilan sehari-hari. Udang tawar yang ditangkap warga Kampung Klaogin menjadi komoditas unggulan yang dijual hingga ke Sorong. Selain bergantung pada hasil menangkap udang, masyarakat mengandalkan kebun sagu dan hasil aktivitas berkebun.

Berbeda dengan Kampung Klaogin, masyarakat adat di Kampung Bariat, Distrik Konda, berusaha menarik wisatawan lewat hutan damar yang merupakan warisan pemerintah Belanda. Kepala Kampung Barat Adrianus Kemeray mengatakan hutan damar sudah ada sejak 1958. Belanda dulu memanfaatkan getah damar untuk diekspor.

Untuk mewujudkan ekowisata di kampug Kampung Bariat, dua homestay berukuran sekitar 5 x 7 pun didirikan di antara rapatnya pohon damar seluas lebih-kurang 400 hektare itu. “Ditargetkan akhir Oktober ini diresmikan,” kata Adrianus, 52 tahun.

Rumah Belajar juga dibangun tak jauh dari lokasi homestay. Rumah itu nantinya dijadikan pusat belajar tentang masyarakat adat. Menurut Adrianus, berdirinya homestay serta rumah belajar itu mendapat dukungan penuh dari Konservasi Indonesia yang sudah mendampingi mereka sejak 2021.

Selain menawarkan sensasi tinggal di homestay di hutan konservasi, wisatawan bisa melihat secara langsung burung asli Papua, seperti burung cenderawasih raja, cenderawasih belah rotan, serta cenderawasih 12 kawat. Ekowisata hutan damar juga terhubung dengan wisata alam Kalibiru Klaogin.

Adrianus menyatakan ekowisata hutan damar Kampung Bariat merupakan salah satu upaya mempertahankan hutan dari pembalakan liar. “Hutan ini menjadi benteng bagi kehidupan kami,” ucapnya. Andrinus mengatakan nenek moyang mereka menjadikan hutan sebagai sumber kehidupan.

Selain pembalakan liar, yang mengancam hutan adat adalah tambang pasir (galian C) dan kehadiran perkebunan sawit. Masyarakat adat di Distrik Konda, yang terdiri atas Suku Gemna, Nakma, Afsya, dan Naben, mengajukan permohonan hutan adat seluas 40 ribu hektare. Namun mereka mendengar informasi bahwa 14 ribu hektare dari lahan itu sudah dialokasikan untuk hak guna usaha perkebunan sawit.

Seperti masyarakat adat di Konda, masyarakat adat Knasaimos di Kampung Klaogin juga tengah mengajukan permohonan hutan adat ke Kementerian Kehutanan. Pemerintah Kabupaten Sorong Selatan sudah mengakui wilayah hutan adat mereka seluas 97.441 hektare pada tahun lalu. (tem)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *