banner 468x60 *** banner 468x60 ***

Ikan Cakalang dan Angkutan Udara jadi Faktor Deflasi Tahunan 0,87 Persen di Papua Barat

Ikan cakalang yang dijual di Pasar Ikan Sanggeng Manokwari, Sabtu (30/8/2025). Komoditas ikan cakalang tercatat memberikan kontribusi tertinggi terhadap deflasi tahunan di Papua Barat. (Papuabaratnews.id/Istimewa)
banner 120x600

Papuabaratnews.id, Sorong –  Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, ikan cakalang dan angkutan udara menjadi kontributor utama deflasi tahunan Agustus 2025 di Papua Barat yang tercatat sebesar 0,87 persen (year-on-year/yoy).

“Penyumbang utama deflasi Agustus 2025 secara tahunan adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil deflasi 0,86 persen, dan kelompok  transportasi dengan andil deflasi 0,58 persen . Dan komoditas penyumbang utama deflasi pada kelompok ini adalah ikan cakalang dan angkutan udara,” kata Kepala BPS Papua Barat, Merry dalam rilis BPS di Manokwari, Senin (1/9/2025).

banner 325x300

BPS mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) Papua Barat turun dari 108,41 pada Agustus 2024 menjadi 107,47 pada Agustus 2025.

Deflasi tahunan Papua Barat dipengaruhi penurunan indeks harga pada empat kelompok pengeluaran, yaitu: Makanan, minuman, dan tembakau sebesar 2,39 persen, Pakaian dan alas kaki 0,04 persen, Perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga 1,13 persen, dan Transportasi 4,58 persen.

Sementara itu, beberapa kelompok justru mengalami inflasi, seperti kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 4,29 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 3,80 persen, pendidikan 1,64 persen, serta rekreasi, olahraga, dan budaya 2,50 persen.

Sejumlah komoditas yang memberi andil besar terhadap deflasi Papua Barat secara tahunan antara lain: Ikan cakalang/ikan sisik 0,43 persen, Angkutan udara 0,41 persen, Ikan tuna 0,24 persen, Cabai rawit 0,24 persen, Bensin 0,22 persen, Udang basah, kangkung, ikan asap, ikan layang, hingga sawi hijau.

Sedangkan komoditas yang menyumbang inflasi antara lain bawang merah 0,41 persen, emas perhiasan 0,21 persen, beras 0,14 persen, tomat 0,11 persen, serta biaya pendidikan Sekolah Menengah Atas 0,07 persen.

Selain deflasi tahunan, Papua Barat juga mencatat deflasi secara bulanan (month to month/mtm) sebesar 0,99 persen, serta deflasi tahun kalender (year to date/ytd) sebesar 0,44 persen.

Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi di Provinsi Papua Barat Daya, yang justru mengalami inflasi sebesar 0,87 persen (mtm) dan 1,88 persen (yoy) pada periode yang sama

Berdasarkan wilayah, BPS mencatat deflasi tertinggi terjadi di Manokwari dengan penurunan 0,99 persen (mtm) dan 0,87 persen (yoy). Sementara Kota Sorong mengalami inflasi bulanan tertinggi sebesar 1,19 persen.

“Deflasi di Papua Barat, khususnya di Manokwari, terutama dipicu turunnya harga ikan segar dan biaya transportasi udara yang cukup signifikan sepanjang Agustus 2025,” jelas Merry. (pbn)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *