Terdengar secerca perbincangan seorang anak dengan ibunya usai tengah membayar buah yang akan dibeli di sebuah minimarket, “Sioo, Mama tra bawa uang. Sa lupa bawa dompet eee” ucap sang Ibu. Kemudian si anak langsung merespons Ibunya dengan nada lantang dan tegas mengucapkan “Mace, sekarang tong bisa bayar pakai QRIS!”. Lantas si Ibu dengan dahi sedikit mengernyit dengan nada kebingungan menanyakan ke anaknya “Hah, ko bicara apa? Apa itu QRIS?”.
Jejak perjalanan QRIS sejak lima tahun terakhir telah diadopsi hampir seperempat dari jumlah penduduk Indonesia yakni 56 juta pengguna. Di sisi lain, pada sisi volume transaksi QRIS pada triwulan II 2025 telah tumbuh mencapai 170% secara tahunan. Dalam peruntukannya, inovasi QRIS sudah jelas dibuat dalam rangka memperkokoh akselerasi pertumbuhan ekonomi dan menciptakan inklusi pembayaran di tanah air. Melalui QRIS, aktivitas pembayaran dapat terjangkau dan berlangsung dengan optimal. Kemudahan dalam mengadopsi QRIS tanpa harus investasi mahal dengan membeli mesin EDC, memudahkan pengguna untuk masuk dalam pembayaran digital. Biaya transaksi yang lebih terjangkau serta interoperabilitas antara berbagai aplikasi pembayaran, terbukti telah memperkuat basis ekonomi mikro yang menjadi tulang punggung pertumbuhan nasional.
Implementasi QRIS di Papua Barat
Perkembangan QRIS di wilayah Provinsi Papua Barat pada triwulan II 2025 mengalami peningkatan pada sisi pengguna serta merchant. Pengguna QRIS hingga triwulan II* 2025 tercatat 111.223 pengguna dan terdapat 675 pengguna baru QRIS pada periode yang sama di Papua Barat. Sementara itu, pengguna QRIS di Provinsi Papua Barat selalu menunjukkan pertumbuhan konsisten sebesar 2 digit. Hingga triwulan II* 2025, pengguna QRIS meningkat sebesar 25 ribu user atau bertambah sebesar 13,05% jika dibandingkan dengan triwulan II tahun 2024.
Akselerasi pengguna QRIS sejalan dengan peningkatan dari sisi merchant di Papua Barat. Hingga triwulan II* 2025 terdapat 108.521 merchant yang mengutilisasi QRIS sebagai opsi kanal pembayaran, meningkat 23,13% dari 88.135 merchant pada triwulan II 2024.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua Barat secara konsisten dan berkesinambungan terus melakukan edukasi dan sosialisasi baik dari sisi pengguna maupun merchant terkait Cepat, Mudah, Murah, Aman, dan Handal (CEMUMUAH) dalam bertransaksi menggunakan QRIS. Edukasi tersebut terutama melalui QRIS user experience dan didukung program kerja lainnya yang dijalankan guna membentuk ekosistem digital. Melalui agenda tersebut, awareness masyarakat Papua Barat dan Papua Barat Daya terkait akseptasi QRIS ikut tumbuh akseleratif, tercermin dari jumlah volume dan nominal transaksi QRIS yang terus meningkat.
QRIS tampaknya memang bukan hanya sebuah alat pembayaran, melainkan simbol kedaulatan keuangan digital Indonesia. QRIS sendiri memang bukan menjadi sebuah tolak ukur kesejahteraan masyarakat, namun dengan adanya QRIS kita bisa menerima fakta bahwa inklusi keuangan turut hadir hingga ke pelosok negeri, ujung Timur Indonesia.
QRIS Lintas Negara
Melihat kilas balik kesepakatan yang dibuat dalam forum Group of Twenty (G20) yang silam, penetapan arah dan tujuan dilakukan dalam menciptakan pembayaran lintas negara yang inklusif, murah, cepat, dan transparan, dengan tetap mempertimbangkan sisi keamanan. Saat ini, QRIS antarnegara sudah dapat digunakan di 9 negara, diantaranya Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, Vietnam, Laos, Brunei Darussalam, Jepang, dan Korea Selatan. Tidak berhenti disini, ada pula rencana penjajakan penggunaan QRIS ke negara lain seperti India dan Uni Emirat Arab, dalam menciptakan Ekonomi Keuangan Digital (EKD) yang lebih inklusif.
Merujuk data BSPI 2030, sebagaimana manifestasi komitmen dalam forum G20 yang menggagas kerangka Regional Payment Connectivity (RPC) dalam menjembatani antar sistem pembayaran nasional di kawasan ASEAN, jika dijalankan dengan matang, RPC memiliki potensi besar untuk mendorong peningkatan arus transaksi lintas negara. Inisiatif ini bertumpu pada lima pilar utama: (i) interoperabilitas QR, (ii) keterhubungan antar sistem fast payments , (iii) standarisasi antarmuka aplikasi (API), (iv) integrasi sistem RTGS, dan (v) pertukaran data yang diperkuat oleh penggunaan mata uang lokal melalui skema Local Currency Transaction (LCT) dan Local Currency Bilateral Swap Arrangement (LCBSA). Dengan eksekusi yang tepat, RPC dapat menjadi jembatan inklusi keuangan bagi lebih dari 500 juta penduduk ASEAN menyatukan potensi kawasan dalam satu ekosistem yang terhubung. Inisiatif RPC ini tidak hanya memperkuat ekonomi digital kawasan, tetapi juga menempatkan Indonesia sebagai pionir integrasi pembayaran regional.
RPC yang diimplementasikan melalui penggunaan QRIS bertujuan untuk mempermudah transaksi pembayaran antarnegara, terutama di kawasan ASEAN. Masih dalam koridornya, saat ini QRIS terus bergerak dalam memperluas cakupan ekosistem pembayaran digital lintas batas (cross-border payment), dalam memainkan peranan penting untuk menyatukan negara di kawasan ASEAN. Tak heran, perkembangan QRIS dapat dikatakan sangat signifikan, dari yang sebelumnya hanya dapat memenuhi kebutuhan dalam lingkup domestik, hingga mampu digunakan dalam transaksi lintas negara.
Meski jejak digitalisasi telah dilayarkan beberapa tahun terakhir, layar belum sepenuhnya terakit sempurna masih ada simpul-simpul yang perlu dikokohkan agar kapal pembayaran digital ini mampu benar-benar dapat menembus gelombang arus global.
Kini QRIS bukan lagi hanya sebagai alat pembayaran, melainkan pilar inklusi keuangan domestik dan simbol kedaulatan negara. Melalui sinergi serta harmonisasi regulasi antarnegara, QRIS dapat menjadi tombak vital dalam pertumbuhan ekonomi dalam meneguhkan Indonesia pada peta EKD secara global.
*data Mei 2025
Oleh: Andreas Cornelius Purba, Analis Yunior Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua Barat.


***
***





