Papuabaratnews.id, Manokwari – Provinsi Papua Barat mengalami deflasi sebesar 1,51 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y) pada Mei 2025, berdasarkan data Indeks Harga Konsumen (IHK) yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Papua Barat.
Kepala BPS Papua Barat Merry dalam konferensi pers di Sorong, Senin (2/6/2025, menjelaskan bahwa deflasi ini terutama disebabkan oleh penurunan harga pada kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau yang mencatatkan deflasi sebesar 5,47 persen (y-on-y) dengan andil terhadap deflasi umum sebesar 1,97 persen.
“Dua kelompok pengeluaran lain yang turut menyumbang deflasi adalah kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,03 persen serta kelompok transportasi sebesar 3,09 persen,” ujarnya.
Komoditas utama yang berkontribusi terhadap deflasi Mei di antaranya tomat dengan andil 0,78 persen, ikan cakalang/ikan sisik (0,40 persen), tarif angkutan udara (0,25 persen), beras (0,19 persen), dan bensin (0,13 pesen).
“Komoditas lain seperti ikan ekor kuning, sawi hijau, bawang merah, udang basah, dan ikan teri juga turut memberikan sumbangan terhadap penurunan harga secara umum,” lanjut dia.
Meskipun tiga kelompok pengeluaran mengalami penurunan harga, terdapat pula beberapa kelompok yang mengalami inflasi tahunan (y-on-y), antara lain: kelompok pendidikan yang mencatatkan inflasi sebesar 6,30 persen, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 4,51 persen), penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,79 persen, serta kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 2,44 persen.
“Secara bulanan (month-to-month/m-to-m), Papua Barat juga mencatat deflasi sebesar 0,33 persen, sedangkan secara tahun berjalan (year-to-date/y-to-d) sebesar 1,24 persen.” kata Merry.
Dengan deflasi tahunan ini, Papua Barat menjadi salah satu provinsi yang mengalami penurunan harga cukup signifikan pada Mei 2025, berbanding terbalik dengan tren inflasi di bulan yang sama pada tahun-tahun sebelumnya. (sem)


***
***





