banner 468x60 *** banner 468x60 ***

Berita  

Karhutla di Papua Ganggu Penerbangan, Sekolah di Biak Diliburkan

Kabut asap pada pagi hari tampak di Bandara Douw Aturure, Distrik Wanggar, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, Senin (24/8/2026). (Foto: Dok Bandara Douw Aturure Nabire)
banner 120x600

Di Kabupaten Biak Numfor, Papua, akibat asap karhutla, pemda setempat meliburkan sekolah dan kampus. Di Nabire, Papua Tengah, aktivitas penerbangan terganggu.

Papuabaratnews.id, Jayapura – Sejumlah sekolah di Biak Numfor, Papua, diliburkan akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan. Sementara itu, di Nabire, Papua Tengah, aktivitas penerbangan di bandar udara juga masih terganggu kabut asap.

banner 325x300

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hingga 23 Agustus 2026, titik panas (hotspot) di enam provinsi Papua mencapai 2.890 titik. Titik panas terbanyak ada di Papua Selatan (1.225), Papua Barat (708), Papua Tengah (636), Papua Pegunungan (192), Papua Barat Daya (79), dan Papua (50).

Di Biak Numfor, kabut asap menyelimuti kota pada Senin (24/8/2026). Data BMKG menyebut ada 37 titik yang berada di Distrik Biak Kota.

Terkait kondisi itu, Bupati Biak Numfor Markus O Mansnembra membuat edaran untuk meliburkan semua aktivitas sekolah dan perkuliahan. Alasannya, kabut asap sudah sangat berbahaya bagi kesehatan.

”Terhitung sejak Senin, 24 Agustus 2026, seluruh sekolah/kampus diliburkan sementara waktu,” kata Markus dalam keterangannya, Senin.

Seiring itu, upaya pemadaman api masih dilakukan. Kepala Polres Biak Numfor Ajun Komisaris Besar Arjuna Wijaya mengajak semua pihak tidak membakar lahan. Dia mengingatkan adanya sanksi pidana dan denda bagi pelaku pembakaran ini.

”Ada sanksi pidana bagi para pelaku sesuai Pasal 108 Undang-Undang 32 Tahun 2009. Pelaku pembakaran hutan dan lahan bisa dipidana penjara 3-10 tahun dan denda Rp 3 miliar-Rp 10 miliar,” ujarnya.

Situasi kabut dan asap pada pagi hari di wilayah Distrik Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor, Papua, Senin (24/8/2026). Dokumentasi diabadikan oleh Komunitas Abdi Drone sekitar pukul 06.00 WIT dan turut dibagikan oleh Penerangan Komando Daerah TNI Angkatan Udara (Kodau III). (Foto: Komunitas Abdi Drone)

Peran semua pihak jelas dibutuhkan, apalagi dampak kebakaran sudah meluas dan mengganggu aktivitas penerbangan. Pada Minggu (23/8/2026) siang, karhutla dilaporkan terjadi di kawasan Bandar Udara (Bandara) Frans Kaisepo, Distrik Biak Kota.

Namun, api dapat dipadamkan oleh personel kepolisian bersama petugas bandara dan warga sekitar. Pada Senin pagi, operasionalisasi bandara kembali normal.

Kabut asap mengganggu penerbangan juga terjadi di Bandara Douw Aturure, Distrik Wanggar. Pelaksana Tugas Kepala Kantor Bandara Douw Aturure Allrido Simandjutak mengatakan, sejak sepekan terakhir ada sejumlah penundaan (delay) hingga pengalihan (divert) penerbangan.

”Pagi ini, ada satu penerbangan yang seharusnya mendarat di Nabire, tetapi harus dialihkan ke Jayapura, dan kembali terbang ke Nabire siang ini,” ujar Allrido.

Sementara itu, di daerah dengan konsentrasi titik panas tertinggi, yakni Papua Selatan, dilaporkan situasi kabut asap masih relatif belum mengganggu aktivitas masyarakat. Aktivitas penerbangan di sejumlah bandara dilaporkan masih normal.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Mopah Merauke Wahyu Hidayat mengatakan, titik panas Papua Selatan terpusat di dua daerah, yakni Kabupaten Merauke dan Kabupaten Mappi. Namun, berdasarkan pantauan langsung, kabut asap relatif belum signifikan.

”Kami terus memberikan update terkait dengan laporan situasi cuaca dan titik panas ini dengan pemerintah daerah serta instansi dan pihak terkait, termasuk dengan bandara-bandara di wilayah Papua Selatan. Infonya, operasionalisasi masih normal,” ujar Wahyu.

Merauke belum signifikan

Upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kabupaten Merauke, Papua Selatan, Selasa (18/8/2026). (Foto: BPBD Papua Selatan)

Wahyu menjelaskan, kabut asap di Merauke yang relatif belum signifikan ini disebabkan beberapa faktor. Misalnya saja, titik panas yang terpantau banyak di daerah-daerah yang jauh dari pusat permukiman.

Salah satunya yang paling masif ada di Distrik Waan. Daerah ini terletak di Pulau Yos Sudarso yang berada di sisi barat laut dari pusat kota Kabupaten Merauke.

Di sisi lain, lanjut Wahyu, embusan angin yang cukup kencang justru semakin menjauhkan asap mengarah ke wilayah laut. Saat ini, angin berkisar 12-15 knot berembus ke wilayah barat laut dan timur laut Merauke.

”Kondisi-kondisi ini membuat asap terbawa angin kencang ke wilayah laut. Sementara itu, di wilayah kota, kabut asap ada juga, tapi tidak signifikan,” ujar Wahyu.

Namun, Wahyu menuturkan, kondisi saat ini harus terus menjadi atensi pemerintah daerah dan pihak-pihak terkait. Apalagi, kondisi kemarau ini masih akan berlangsung hingga awal 2027. (pbn/kom)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *