Penemuan di Semenanjung Vogelkop dipublikasikan dalam jurnal ilmiah setelah penelitian selama 27 tahun dan melibatkan masyarakat adat setempat.
Papuabaratnews.id, Manokwari –- Dua spesies marsupial yang selama ini diyakini telah punah setidaknya sejak 6.000 tahun lalu ternyata masih hidup di kawasan hutan hujan terpencil di Semenanjung Vogelkop, Papua Barat, Indonesia.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Records of the Australian Museum setelah melalui penelitian panjang selama 27 tahun.
Kedua spesies yang ditemukan kembali hidup di alam liar itu adalah Tous ayamaruensis atau ring-tailed glider serta Dactylonax kambuayai yang dikenal sebagai possum berjari panjang kerdil.
Penelitian ini dipimpin oleh ilmuwan Tim Flannery, profesor dari Melbourne Sustainable Society Institute sekaligus peneliti tamu di Australian Museum.
Petunjuk awal keberadaan kedua hewan tersebut sebenarnya telah ditemukan sejak 1999. Namun, para peneliti membutuhkan bukti fotografi serta dokumentasi ilmiah yang cukup untuk memastikan identitas spesies tersebut.
“Vogelkop merupakan bagian kuno dari benua Australia yang kemudian menjadi bagian dari Pulau Nugini. Hutan-hutannya mungkin masih menyimpan banyak peninggalan tersembunyi dari masa lalu Australia,” kata Flannery, dikutip dari IFLScience.
Para ilmuwan menyebut kedua hewan ini sebagai Lazarus taxa, yakni istilah bagi spesies yang lama menghilang dari catatan fosil dan dianggap punah sebelum akhirnya ditemukan kembali hidup di alam liar.
Marsupial sendiri merupakan kelompok mamalia yang memiliki kantung (pouch) untuk membawa anaknya.
Selama ini, kedua spesies tersebut hanya diketahui dari fosil yang ditemukan di Australia yang berasal dari zaman es terakhir hingga awal era Holosen.
Possum berjari panjang kerdil memiliki tubuh kecil dengan pola garis pada tubuhnya. Ciri paling mencolok adalah jari yang sangat panjang, bahkan satu jarinya dapat dua kali lebih panjang dibanding jari lainnya. Jari tersebut digunakan untuk menggali kayu lapuk dan mencari larva kumbang sebagai makanan.
Sementara itu, ring-tailed glider merupakan kerabat kelompok Petauroides yang dikenal mampu meluncur dari satu pohon ke pohon lain menggunakan selaput kulit berbulu.
Versi yang ditemukan di Papua memiliki ukuran lebih kecil dibanding kerabatnya di Australia serta memiliki telinga tanpa bulu dan ekor yang mampu mencengkeram cabang pohon.
Penemuan ini juga tidak lepas dari bantuan masyarakat adat Papua Barat. Tim peneliti bekerja sama dengan para tetua dari klan Tambrauw dan Maybrat untuk melacak keberadaan hewan tersebut di kawasan hutan.
Menurut laporan New Scientist, beberapa komunitas adat bahkan menganggap ring-tailed glider sebagai hewan suci yang harus dilindungi. Kepercayaan tersebut diduga turut membantu menjaga spesies ini tetap terlindungi dari aktivitas manusia selama bertahun-tahun. Meski kini dipastikan masih hidup, kedua spesies tersebut tetap menghadapi ancaman serius dari deforestasi.
Ring-tailed glider diketahui membentuk pasangan seumur hidup dan hanya melahirkan satu anak setiap tahun. Mereka juga bersarang di lubang pohon sehingga sangat rentan terhadap penebangan hutan. Sementara itu, possum jari panjang kerdil juga sangat bergantung pada ekosistem hutan untuk mencari makanan.
Para peneliti bahkan sengaja merahasiakan lokasi pasti penemuan kedua spesies tersebut untuk mencegah perburuan liar maupun perdagangan satwa. “Temuan ini menegaskan betapa pentingnya menjaga kawasan bioregion yang luar biasa ini,” kata Flannery. (pbn)


***
***





