Perjumpaan budaya masyarakat lokal dan transmigran di Bomberay–Tomage menjadi ruang merawat keberagaman sekaligus memperkenalkan potensi ekonomi kreatif berbasis sumber daya lokal.
Papuabaratnews.id, Fakfak – Keberagaman budaya masyarakat lokal dan transmigran di kawasan Bomberay–Tomage, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, mendapat ruang ekspresi melalui Gelar Budaya Kampung Harmoni Papua yang mempertemukan 10 paguyuban dari berbagai latar belakang suku dan budaya.
Kegiatan yang diinisiasi Tim 11 Ekspedisi Patriot Universitas Padjadjaran (Unpad) itu tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni dan tradisi lintas komunitas, tetapi juga menjadi ajang memperkenalkan potensi ekonomi lokal melalui pameran hasil kegiatan 20 tim Ekspedisi Patriot Unpad.
Berbagai karya dan produk olahan berbasis sumber daya lokal ditampilkan sebagai bagian dari upaya mendorong pemberdayaan masyarakat di kawasan transmigrasi Bomberay–Tomage.
Gelar budaya tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Fakfak Muhammad Ilham Nurdin serta Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Fakfak Saleh Hindom.
Selain masyarakat dan perwakilan paguyuban, kegiatan ini melibatkan peserta jambore yang tergabung sebagai Patriot Cilik. Mereka berkesempatan menyaksikan langsung pertunjukan budaya sekaligus mengenal berbagai hasil kegiatan pendampingan masyarakat.
Ketua Tim 11 Ekspedisi Patriot Unpad, Taufik Ampera, mengatakan Gelar Budaya Kampung Harmoni Papua menjadi ruang perjumpaan sosial dan budaya antara masyarakat lokal dan warga transmigran yang hidup berdampingan di kawasan Bomberay–Tomage.
Menurut dia, keberagaman latar belakang masyarakat merupakan kekayaan sosial yang perlu terus dirawat melalui kegiatan bersama, termasuk pertunjukan seni dan pengenalan tradisi antarkomunitas.
“Pagelaran budaya ini merupakan ruang untuk merawat identitas, mempertemukan keberagaman, dan mewariskan nilai luhur kepada generasi penerus,” ujar Taufik dalam sambutan pembukaan kegiatan.
Semangat kebersamaan tersebut mendapat apresiasi dari masyarakat yang terlibat dalam gelar budaya.
Kristina, perwakilan keluarga besar Flobamura, mengapresiasi keterlibatan Tim Ekspedisi Patriot Unpad dan peserta Pramuka yang telah memberikan ruang bagi berbagai komunitas untuk menampilkan identitas budayanya.
Menurut Kristina, kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat dari beragam latar belakang suku dapat dipertemukan dalam suasana kebersamaan. “Mereka sudah merangkul kami di dalam kegiatan ini, dengan berbagai macam suku yang ada di tanah Papua,” katanya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus diselenggarakan sehingga hubungan sosial antarkomunitas semakin erat.
Apresiasi juga disampaikan Mei Isnaini, guru SMK Negeri 2 Fakfak. Ia menilai penampilan tarian adat dan penyajian kuliner dari berbagai daerah memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk mengenal kekayaan budaya masyarakat yang hidup di kawasan tersebut. “Kalau boleh, kegiatan seperti ini bisa berjalan terus,” ujarnya.

Pamerkan Produk Olahan Sagu
Selain pertunjukan budaya, rangkaian kegiatan tersebut diisi dengan pameran hasil Ekspedisi Patriot Unpad yang melibatkan perwakilan 20 tim.
Dalam pameran itu, setiap tim memperkenalkan hasil kegiatan dan berbagai inisiatif pendampingan masyarakat kepada rombongan pemerintah daerah serta pengunjung.
Rani Sukmadewi, salah satu perwakilan ketua tim Unpad, turut mendampingi para kepala dinas saat meninjau stan pameran dan melihat secara langsung produk maupun hasil kegiatan yang dikembangkan bersama masyarakat.
Salah satu produk yang menarik perhatian adalah mi goreng sagu dan sagu goreng dengan merek ASDERA, hasil pengembangan Tim Ekspedisi Patriot Unpad Kelompok 13 yang diketuai Atwar Bajari.
Kelompok tersebut beranggotakan Sarach Diba Hidayat, Adista Nurfadillah, Denis Setia Prismayana, Miryam Elizabeth Rambe, dan Raja Bani Yudanegara.
Kedua produk tersebut diperkenalkan sebagai alternatif diversifikasi pangan berbasis sagu yang memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi usaha produktif masyarakat, khususnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat.
Pemanfaatan sagu sebagai bahan baku olahan pangan dinilai dapat membuka peluang pengembangan produk lokal yang memiliki nilai tambah ekonomi.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Fakfak, Saleh Hindom, yang berkesempatan mencicipi produk tersebut, menilai olahan berbahan dasar sagu itu layak dikembangkan lebih lanjut.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Fakfak, Muhammad Ilham Nurdin, mengapresiasi kontribusi Tim Ekspedisi Patriot Unpad dalam membantu mengidentifikasi berbagai potensi budaya dan pariwisata di kawasan Bomberay–Tomage.
Menurut Ilham, keterlibatan tim ekspedisi dapat mendukung proses inventarisasi potensi budaya dan objek wisata yang selama ini dimiliki masyarakat. “Dengan bantuan teman-teman tim Patriot, hal itu lebih mudah dilaksanakan,” ujarnya.
Ia berharap komunikasi dan hubungan kerja sama dengan kelompok masyarakat binaan tetap terpelihara meskipun masa penugasan Tim Ekspedisi Patriot Unpad telah berakhir.

Libatkan Patriot Cilik dan Festival Layang-Layang
Rangkaian Gelar Budaya Kampung Harmoni Papua juga memberikan ruang bagi keterlibatan generasi muda melalui kegiatan Patriot Cilik.
Para peserta jambore tidak hanya menyaksikan penampilan kesenian dari berbagai paguyuban, tetapi juga berinteraksi dengan masyarakat dalam suasana kebersamaan.
Keterlibatan anak-anak dan generasi muda tersebut menjadi bagian penting dalam memperkenalkan keberagaman budaya sekaligus menumbuhkan penghargaan terhadap tradisi masyarakat.
Selain gelar budaya dan pameran produk lokal, kegiatan ini turut dimeriahkan Festival Layang-Layang yang diselenggarakan tim Asep.
Festival tersebut dibuka oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Fakfak, Muhammad Ilham Nurdin, sebagai bagian dari keseluruhan rangkaian kegiatan.
Ketua Tim 11 Ekspedisi Patriot Unpad, Taufik Ampera, berharap berbagai karya dan produk yang telah diperkenalkan melalui kegiatan tersebut tidak berhenti sebatas pameran.
Ia menekankan pentingnya keberlanjutan pengembangan produk dan pendampingan masyarakat agar hasil kegiatan ekspedisi benar-benar memberikan manfaat ekonomi maupun sosial bagi warga setempat.
“Kami berharap hasil kegiatan ini terus dikembangkan, membuka peluang usaha, dan memberikan manfaat bagi kesejahteraan warga,” kata Taufik.
Harapan serupa disampaikan sejumlah warga dan perwakilan paguyuban yang menginginkan Gelar Budaya Kampung Harmoni Papua dapat diselenggarakan secara rutin setiap tahun.
Dengan demikian, kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi ajang pertunjukan budaya, tetapi juga ruang memperkuat hubungan antarkomunitas, melestarikan tradisi, serta mengembangkan potensi ekonomi masyarakat di kawasan Bomberay–Tomage. (pbn)







