banner 468x60 *** banner 468x60 ***

Dari Persemaian ke Pesisir: 1.000 Bibit Mangrove Disiapkan untuk Menjaga Pantai Wauwo dan Habitat Mamoa

Dosen dan mahasiswa Program Studi Kehutanan UNIERA bersama masyarakat menyiapkan bibit mangrove di Pantai Wauwo, Desa Mamuya, Kabupaten Halmahera Utara, Sabtu (22/8/2026). Pembibitan tersebut merupakan bagian dari kolaborasi PLN UIP MPA dan UNIERA untuk merehabilitasi kawasan pesisir. (Foto: PLN UIP MPA)
banner 120x600

Papuabaratnews.id, Halmahera Utara – Upaya menjaga habitat Mamoa di Kabupaten Halmahera Utara dimulai dengan menyiapkan 1.000 bibit mangrove untuk memulihkan fungsi ekosistem pesisir Pantai Wauwo.

Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Maluku dan Papua (UIP MPA) berkolaborasi dengan Program Studi Kehutanan, Fakultas Ilmu Alam dan Teknologi Rekayasa (FIATER), Universitas Halmahera (UNIERA).

banner 325x300

Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui pembibitan 1.000 mangrove untuk mendukung rehabilitasi kawasan Pantai Wauwo, Desa Mamuya, Kabupaten Halmahera Utara.

Bagi PLN UIP MPA, kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu (22/8/2026) itu bukan sekadar menanam pohon. Rehabilitasi mangrove menjadi bagian dari upaya memulihkan fungsi ekologis pesisir sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat dan generasi muda terhadap pentingnya menjaga lingkungan.

General Manager PLN UIP MPA, Raja Muda Siregar, mengatakan keberlanjutan lingkungan membutuhkan proses yang panjang dan konsisten.

“Menanam mangrove hari ini mungkin belum langsung terlihat hasilnya. Tetapi, beberapa tahun ke depan, ketika mangrove tumbuh dan ekosistemnya kembali terbentuk, manfaatnya akan dirasakan oleh masyarakat dan lingkungan,” kata Raja dalam keterangan tertulis yang diterima Papuabaratnews.id, Rabu (26/8/2026).

Karena itu, lanjut Raja, program TJSL harus diarahkan menjadi program yang berkelanjutan dan bukan sekadar kegiatan sesaat.

Ia menambahkan, keterlibatan perguruan tinggi, masyarakat, dan generasi muda menjadi kekuatan penting dalam menjaga keberlanjutan program tersebut.

“Kami ingin kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama. Mahasiswa dapat menerapkan ilmu di lapangan, siswa mengenal lingkungan sejak dini, masyarakat mendapatkan manfaat dan pengalaman, sementara PLN dapat berkontribusi melalui program TJSL. Semuanya bergerak dalam satu tujuan, yaitu menjaga lingkungan,” ujarnya.

Proses pembibitan menggunakan dua jenis mangrove, yakni Rhizophora apiculata dan Bruguiera gymnorhiza. Tahapan pembibitan dimulai dari pemilihan bahan tanaman, penyemaian, penanaman pada media pembibitan, hingga pemeliharaan dan pemantauan pertumbuhan.

Mahasiswa dan masyarakat menyiapkan media pembibitan mangrove di Pantai Wauwo, Desa Mamuya, Kabupaten Halmahera Utara. Kegiatan ini diharapkan memulihkan fungsi ekosistem pesisir sekaligus memperkuat perlindungan habitat Mamoa. (Foto: PLN UIP MPA)

Dosen Program Studi Kehutanan UNIERA yang memiliki keahlian di bidang silvikultur agroforestri, Dr. Ebedly Lewerissa, S.Hut., M.Sc., mengatakan keberhasilan rehabilitasi mangrove sangat ditentukan oleh kualitas proses sejak pembibitan hingga penanaman di lapangan.

“Kami ingin kegiatan ini tidak berhenti di persemaian. Bibit yang dihasilkan harus sampai ke lapangan, ditanam, dipelihara, dan dipantau. Lebih penting lagi, masyarakat harus menjadi bagian dari proses tersebut,” kata Ebedly.

Menurutnya, mangrove memiliki fungsi ekologis yang sangat penting bagi kawasan pesisir. Selain membantu mengurangi abrasi, mangrove menjadi tempat hidup berbagai jenis biota, menjaga kualitas lingkungan pesisir, dan memiliki kemampuan menyimpan karbon.

Fungsi tersebut menjadi semakin penting ketika dikaitkan dengan keberadaan Mamoa. Perlindungan habitat satwa tidak dapat dipisahkan dari kondisi ekosistem di sekitarnya. Karena itu, rehabilitasi mangrove menjadi salah satu pendekatan untuk memperkuat lingkungan pesisir yang mendukung kehidupan berbagai jenis satwa.

Kegiatan pembibitan itu juga melibatkan kelompok masyarakat konservasi Mamoa dan siswa sekolah dasar. Keterlibatan berbagai kelompok tersebut menjadikan kegiatan itu sebagai ruang pembelajaran lintas generasi.

Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori mengenai silvikultur dan ekosistem mangrove, tetapi juga mendapatkan pengalaman melakukan pembibitan secara langsung. Sementara itu, para siswa diperkenalkan pada pentingnya menjaga pesisir dan habitat satwa melalui pengalaman di lapangan.

PLN UIP MPA dan UNIERA selanjutnya mendorong agar 1.000 bibit yang telah disiapkan dapat dilanjutkan ke tahap penanaman, pemeliharaan, pemantauan, dan evaluasi. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memastikan manfaat program dirasakan dalam jangka panjang.

Raja menegaskan, keberhasilan program TJSL tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga dari keberlanjutan manfaat yang dihasilkan.

“Ukuran keberhasilan bukan hanya berapa bibit yang kita tanam, tetapi berapa banyak yang dapat tumbuh, bertahan, dan memberikan manfaat. Lebih jauh lagi, bagaimana kegiatan ini dapat menumbuhkan kepedulian masyarakat untuk menjaga kawasan secara mandiri,” jelasnya.

Melalui kolaborasi tersebut, PLN UIP MPA bersama UNIERA membuka langkah menuju rehabilitasi Pantai Wauwo yang lebih berkelanjutan. Dari persemaian, bibit mangrove disiapkan untuk kembali ke pesisir. Melalui keterlibatan mahasiswa dan siswa, pengetahuan tentang lingkungan diwariskan. Sementara melalui kolaborasi antara masyarakat, perguruan tinggi, dan PLN, upaya menjaga habitat Mamoa terus diperkuat.

Dari satu bibit tumbuh harapan. Dari mangrove yang terjaga, kehidupan pesisir dan habitat Mamoa ikut terlindungi. (pbn)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *