banner 468x60 *** banner 468x60 ***

Bensin dan Tarif Pesawat Jadi Pemicu Utama Inflasi Papua Barat, Juni 2026 Capai 1,59 Persen

Kontingen peserta Pesparawi Nasional XIV Tahun 2026 tiba di Bandara Rendani, Manokwari. Meningkatnya mobilitas penumpang menjelang pelaksanaan Pesparawi menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan tarif angkutan udara, yang kemudian memberi andil terbesar terhadap inflasi Papua Barat pada Juni 2026. (Dok. Istimewa)
banner 120x600

Kenaikan tarif angkutan udara dan harga bensin menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan. Secara tahunan, inflasi Papua Barat mencapai 6,99 persen, dengan sektor transportasi memberikan andil tertinggi.

Papuabaratnews.id, Manokwari – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua Barat mencatat kenaikan harga bensin dan tarif angkutan udara menjadi pendorong utama inflasi bulanan pada Juni 2026 yang tercatat sebesar 1,59 persen secara bulanan (month to month/mtm).

banner 325x300

Kepala BPS Papua Barat, Merry, mengatakan kelompok transportasi mengalami inflasi sebesar 7,02 persen (mtm) dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,93 persen pada Juni 2026.

“Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok transportasi antara lain bensin dan tarif angkutan udara. Tarif angkutan udara memberikan andil inflasi tertinggi sebesar 0,58 persen dan bensin sebesar 0,49 persen. Sementara itu, komoditas yang dominan memberikan andil atau sumbangan deflasi month to month adalah angkutan laut sebesar 0,09 persen dan solar sebesar 0,04 persen,” ujar Merry dalam konferensi pers di Manokwari, Rabu (1/7/2026).

Pendorong inflasi bulanan Juni 2026 berikutnya berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 1,42 persen (mtm) dengan andil sebesar 0,51 persen.

Dari kelompok tersebut, komoditas yang memberikan andil inflasi antara lain ikan tuna sebesar 0,37 persen, cabai rawit 0,13 persen, ikan ekor kuning/ikan lolosi dan daging ayam ras masing-masing 0,05 persen, daging sapi dan tahu mentah masing-masing 0,04 persen, minyak goreng 0,03 persen, bawang putih 0,02 persen, serta gula pasir dan kacang panjang masing-masing 0,01 persen.

Di sisi lain, terdapat sejumlah komoditas pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil peredam inflasi atau mengalami deflasi, yaitu ikan layang/ikan momar sebesar 0,08 persen, ikan cakalang 0,06 persen, ikan kakap merah 0,05 persen, telur ayam ras dan bawang merah masing-masing 0,02 persen, serta bunga pepaya, bayam, terong, dan ikan selar/ikan tude/ikan oci masing-masing 0,01 persen.

Pada Juni 2026, Indeks Harga Konsumen (IHK) Papua Barat naik menjadi 114,72, dari 112,93 pada Mei 2026. Dengan demikian, inflasi bulanan tercatat sebesar 1,59 persen (mtm).

Berdasarkan kelompok pengeluaran, seluruh kelompok mengalami inflasi pada Juni 2026, kecuali kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang memberikan andil atau sumbangan deflasi sebesar 0,01 persen.

“Komoditas yang dominan memberikan andil atau sumbangan deflasi month to month adalah emas perhiasan sebesar 0,02 persen,” kata Merry.

Sementara itu, secara tahunan inflasi Juni 2026 tercatat sebesar 6,99 persen (year on year/yoy), meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang masih mengalami kontraksi sebesar 0,67 persen.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan terutama didorong oleh kelompok transportasi yang mengalami inflasi sebesar 20,14 persen dengan andil 2,52 persen.

Selanjutnya, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mengalami inflasi sebesar 8,50 persen dengan andil 0,53 persen, sedangkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 8,17 persen dengan andil 2,83 persen.

Kemudian diikuti kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami inflasi sebesar 7,10 persen dengan andil 0,41 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 4,04 persen dengan andil 0,06 persen, serta kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 3,96 persen dengan andil 0,17 persen.

Adapun kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi sebesar 3,20 persen dengan andil 0,52 persen. Kelompok kesehatan mengalami inflasi sebesar 1,54 persen dengan andil 0,03 persen, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami inflasi sebesar 1,07 persen dengan andil 0,07 persen, sedangkan kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami inflasi sebesar 0,66 persen dengan andil 0,03 persen.

“Sementara itu, kelompok pendidikan menjadi satu-satunya kelompok yang mengalami deflasi tahunan sebesar 3,68 persen dengan andil deflasi sebesar 0,18 persen,” ujar Merry. (pbn)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *