banner 468x60 *** banner 468x60 ***

Hardiknas 2026 di Pegaf, Busana Adat Tegaskan Pendidikan Berbasis Budaya

Prosesi pengibaran bendera Merah Putih dalam upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 di Pegunungan Arfak, Papua Barat. Peserta upacara mengenakan busana adat daerahnya masing-masing. (Papuabaratnews.id/Sam Sirken)
banner 120x600

Pemkab Pegaf dorong pelestarian kearifan lokal sekaligus penguatan karakter siswa di tengah tantangan pendidikan.

Papuabaratnews.id, Pegunungan Arfak –- Pemerintah Kabupaten Pegunungan Arfak (Pegaf), Papua Barat, memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 dengan nuansa kental budaya melalui penggunaan busana adat dalam upacara yang digelar di Lapangan Bola Iray, Distrik Anggi, Sabtu (2/5/2026).

banner 325x300

Wakil Bupati Pegunungan Arfak, Andy Salabai, mengatakan penggunaan busana adat bukan sekadar simbol seremonial, tetapi menjadi bentuk nyata pelestarian budaya di tengah arus modernisasi.

“Adat istiadat dan kebudayaan tidak boleh hilang. Anak-anak sebagai generasi penerus bangsa harus bisa merawatnya,” ujar Salabai.

Ia menegaskan, Hardiknas bukan hanya momentum refleksi dunia pendidikan, tetapi juga sarana menanamkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda agar tetap berakar pada tradisi leluhur.

Kegiatan upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 di Pegunungan Arfak, Papua Barat. Peserta upacara mengenakan busana adat daerahnya masing-masing. (Papuabaratnews.id/Sam Sirken)

Menurutnya, pendekatan pendidikan berbasis budaya lokal yang dipadukan dengan kurikulum nasional mampu memperkuat karakter dan jati diri peserta didik, khususnya di wilayah Pegunungan Arfak yang memiliki kekayaan adat istiadat.

“Masyarakat Pegunungan Arfak hidup dalam balutan budaya yang kuat. Setiap tamu yang datang selalu disambut dengan tarian adat sebagai bentuk penghormatan,” katanya.

Di sisi lain, Salabai mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam meningkatkan mutu pendidikan di Pegaf, seperti keterbatasan sarana dan prasarana serta distribusi tenaga guru yang belum merata.

Meski demikian, pemerintah daerah terus berupaya melakukan perbaikan secara bertahap dengan melibatkan berbagai pihak.

“Mari bergandengan tangan membangun pendidikan yang inklusif dan bermutu di Pegunungan Arfak,” ajaknya.

Peserta upacara mengenakan busana adat daerahnya masing-masing. (Papuabaratnews.id/Sam Sirken)

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pendidikan Pegunungan Arfak, Deny Agustinus Ngutra, menyebut partisipasi aktif sekolah dalam mengenakan busana adat mencerminkan komitmen bersama dalam mengintegrasikan budaya ke dalam sistem pendidikan.

Peringatan Hardiknas 2026 di Pegaf juga diramaikan dengan berbagai kegiatan yang melibatkan peserta didik dari jenjang PAUD hingga SMA, seperti lomba mewarnai, bertutur cerita rakyat, membaca nyaring, membaca puisi, hingga berpidato.

“Salah satu lomba yang menjadi perhatian adalah bertutur cerita rakyat sebagai upaya memperkuat pengetahuan pelajar tentang kearifan lokal,” ujar Deny.

Ia menambahkan, rangkaian lomba yang berlangsung pada 30 April hingga 1 Mei 2026 tersebut merupakan strategi untuk mendorong penguatan literasi dan numerasi sejak dini.

Menurutnya, pendekatan melalui kegiatan kompetitif dinilai efektif dalam mengukur capaian pembelajaran sekaligus meningkatkan minat baca peserta didik di seluruh satuan pendidikan. (pbn)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *